*Syarat negara gagal:*

   1. *Raib rasa keamanan, *
   2. *Melambungnya harga kebutuhan pokok, *
   3. *Adanya konflik horizontal dengan apa saja. *
   4. *Negara absen dalam persoalan yang dihadapi masyarakat*

*
*

*INILAH.COM, Jakarta - Di usia 65 tahun merdeka dan 12 tahun reformasi,
beragam persoalan terasa kian menyesakkan republik ini. *

*Ironinya, aksi kekerasan hampir menjadi menu rutin masyarakat. Ada apa
dengan republik ini?*

Tidak perlu memutar memori jauh-jauh, tak kurang selama hitungan puluhan jam
terakhir, ragam aksi kekerasan muncul di Tarakan, Kalimantan Timur, dan
Ampera, Jakarta Selatan. Kedua peristiwa tersebut berlangsung pada 28-29
September lalu.

Hal itu pun berlanjut dengan aksi 'bom bunuh diri' di Kalimalang, Jakarta
Timur, Kamis (30/9) pagi diikuti dengan aksi bentrokan sesama warga di
Menteng, Jakarta pada siang harinya.

Budayawan Emha Ainun Nadjib menyebutkan persoalan yang terjadi akhir-akhir
ini terjadi akibat negara dalam keadaan sakit. Layaknya badan manusia,
sistem metabolisme tidak beroperasi secara benar. adi bangsa sakit itu,
berbuat apapun menjadi keburukan," tegasnya kepada *INILAH.COM* melalui
saluran telepon, Kamis (30/9).

Lebih dari itu, Cak Nun demikian ia sering disapa, juga menuturkan,
Indonesia tidak memenuhi syarat disebut sebagai negara. Ia mengibaratkan
nasi yang berasal dari padi kemudian menjadi beras pada akhirnya menjadi
nasi setelah melalui proses dimasak.

Nah negara itu ada syaratnya, ada racikannya. Indonesia menjadi negara tidak
sah dan batal karena tidak memenuhi persyaratan,† paparnya. Ia
menyebutkan, yang terjadi saat ini yang berlaku hanya konotatif tidak
denotatif.

Suami penyanyi Novia Kolopaking ini mencontohkan tidak adanya kejelasan
antara kewenangan pemerintah dan negara. “Misalnya Istana itu gedung
negara atau pemerintah? Gedung DPR itu gedung pemerintah atau DPR?†
tanyanya.

Situasi seperti inilah, menurut Cak Nun, jika diibaratkan permainan
sepakbola saat ini tidak bisa disebut permainan sepakbola lagi. “Kalau
aturannya berbeda, sudah tak menentu, namanya bukan sepakbola lagi,†
demikian Cak Nun mengibaratkan.

Oleh karenanya, Cak Nun menyebut wajar jika saat ini terjadi aksi bentrok
dan tawuran massa di tengah masyarakat karena disebabkan orang tidak percaya
lagi dengan apa yang dihadapinya. Dipikir nasi ternyata bukan. Dipikir
kerbau ternyata sapi. Dipikir pemerintah ternyata bukan,  tandasnya.

Ia menuturkan kehancuran akan terjadi jika muncul ketidakpercayaan pada yang
lain. Seperti menteri tidak percaya kepada dirjen, dirjen tidak percaya
kepada irjen dan seterusnya. Inilah yang membuat bentrok. Apalagi mereka
tidak percaya pada dua yang lain yakni Tuhan dan dirinya sendiri,  cetus
pimpinan Kyai Kanjeng ini.

Jika merujuk definisi umum negara bisa disebut gagal jika publik tidak ada
lagi jaminan keamanan. Selain itu, kasus perusakan tempat-tempat ibadah
merupakan salah satu hal yang khas bagi negara gagal.

Negara gagal juga pantas disandang bagi pemerintah yang tidak mampu
menyediakan kebutuhan pokok, seperti pelayanan pendidikan, pelayanan
kesehatan, penyediaan bahan kebutuhan pokok.

Di samping itu, praktik korupsi dilakukan lembaga yang sebenarnya mempunyai
tugas pokok melindungi rakyat, masyarakat, dan negara terhadap gangguan
korupsi. Sebut saja korupsi dilakukan oleh lembaga eksekutif, legislatif dan
yudikatif.

Dalam praktiknya negara gagal juga terjadi praktik persekongkolan antara
negara dengan para preman, mafia dan teroris. Tidak sekadar itu, bentrokan
horizontal di antara kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak perlu
terjadi, namun justru terjadi. Semua dari indikasi tersebut menunjukkan
ketidakberdayaan aparat negara.

Apakah negara ini sudah gagal? Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustofa
menyebutkan istilah negara gagal tidak tepat. Sangat berlebihan jika
Indonesia disebut negara gagal. Ini hanya disebabkan kurang optimal lembaga
keamanan saja,   tepisnya ditemui di Gedung DPR Jakara, Kamis (30/9).

Namun faktanya syarat Indonesia menjadi negara gagal telah di depan mata.
Karena faktanya telah raib rasa keamanan, melambungnya harga kebutuhan
pokok, termasuk konflik horizontal dengan motif ras maupun agama. Di atas
semua itu, negara absen dalam persoalan yang dihadapi masyarakat. Masih
belum mau disebut negara gagal? [mdr]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke