Sato saketek, Indonesia mungkin alun tamasuak negara gagal, tapi tetap negara lembek (soft state) dengan ciri yang negara 'serbatanggung' itu, di mana pemerintahnya tak memiliki kapaisitas memadai mengatasi berbagai masalah domestik, seperti kekerasan, kemiskinan, korupsi dst. Kritik semacam Cak Nun itu bagus, tentu juga sebagai otokritik bagi seluruh komponen yang ada dalam negara. Walau sebagai negara, Indonesia termasuk negera 'lembek" tapi sebagai bangsa, Indonesia masih bisa dikatakan bangsa besar di mnana penduduknya nomor empat terbesar di dunia dan bentangan geografisnya yang sangat luas dan panjangnya sama dari London ke Teheran.Banyak putra-putri Indonesia yang bisa "berbicara" di level dunia, sebagai bukti bahwa Indonesia juga memiliki otak2 besar, Hal itu dari dulu sampai sekarang. TAPI, sebagai bangsa besar bahkan negara besar, hal ini kini sudah menjadi sloganistik, bahkan memabukkan kita, karena sayang, hal itu tak diimbangi kapaistas negara yang lebih memadai tadi dalam mengatasi berbagai masalah domestik. Mungkinkah hal ini, karena memang feodalisme dan berbagai deviannya masih berakar kuat dalam budaya politik pemerintahan dan masyarakat kita? Indonesia negara dengan kulit demokrasi tapi isinya feodalisme dkk. Jadi ada pertentangan yang keras. Jika benar, maka persolan inilah yang mesti diselesaikan terlebih dahulu.
Banyak maaf dan Wassalam Israr Iskandar, 37, Pdg --- On Fri, 10/1/10, Adyan <[email protected]> wrote: From: Adyan <[email protected]> Subject: Re: [...@ntau-net] Re: Indonesia tidak memenuhi syarat disebut sebagai negara To: [email protected] Date: Friday, October 1, 2010, 6:32 PM Assalamualaikum w.w. Ambo batarimokasih bana jo paparan pak Epy Buchari di ateh, nan lah mambantah 'otokiritik' dan 'olok-olok' Can Nun ntun... Alhamdulillah ambo tamasuak nan yakin Indonesia ko iyo negara kuat nan indak ka runtuah baitu sajo dengan mudah... Dima latak ka gagal nyo? Mbek cah...! Sapanjang sejarahnyo, negara wak alun pernah kalah maadoki masalah-masalah besar nan mengancam distegrasi dan kekacauan internal... Di lua dihormati urang pulo, cukuik batuah sebagai negara demokrasi nan multi enkik dengan penduduk mayoritas Islam.. Tetapi kini, selain membandingkan keadaan sacaro historis, baa kalau kito liek sacaro paralel. Iko untuak kebutuhan kini karano banyaknyo berita nan mambuek kito tabik khawatir juo.. Baa kalau Pak Epy bandiangkan negara awak dengan beberapa negara tadakek nan menghadapi persoalan keamanan, dan acok disabuik-sanbuik sebagai nagara nan gagal, atau ampia gagal. Contohnyo Somalia dan Pakistan... Mungkin banyak nan akan mangamukokan peran negara asiang nan maobok-obok kedua negara tu... Tapi sacaro objektif, tantu ado hal-hal nan dapek diambiak pelajaran/perbandingan, misalnya apokoh negara cukup asertif dengan hak-haknyo sebagai pihak nan berhak memegang senjata, menahan orang, dllsb nan berkaitan dengan itu. Dan tantu sajo konsekwensi tu menyebabkan ado tangguang jawab barek nan haris dipikue tanpa mengeluhkan anggaran dst..dst.. Wassalam dan banyak maaf Adyan Anwar, JKT, (baru 51 thn) Saya secara pribadi tidak sependapat dengan ucapan Cak Nun diatas, tentang tidak dipenuhinya syarat untuk menjadi negara. Otokritik dan introspeksi tentunya perlu untuk kemajuan bangsa ini lebih lanjut. Tapi merendahkan martabat bangsa dan negara sendiri, memperolok-olokkannya seakan yang berucap itu bukan bangsa Indonesia, justru hanya akan memperburuk keadaan dan melemahkan spirit bangsa ini sendiri untuk kembali bangkit (sebagaimana yang sudah berkali-kali terjadi) menyongsong masa depan yang didambakan. Jutaan rakyat dari berbagai strata yang bekerja keras dalam bidangnya masing-masing, yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pembangunan negara dan bangsa ini, atau yang mempertahankannya dan membelanya dari berbagai gangguan dan ancaman, yang tersebar diberbagai pelosok tanah air ini atau di mancanegara, saya rasa tidak akan sependapat dengan 'otokritik' atau 'olok2' Cak Nun ini. Bangsa ini tampaknya kembali memerlukan kata usang 'persatuan dan kesatuan' di semua lini ; bersatu menjadi bangsa Indonesia yang bermartabat dan punya harga diri dan rasa tanggung jawab. Maaf dan Wassalam, Epy Buchari L-67, Ciputat Timur -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
