On Oct 1, 9:25 am, Darwin Chalidi <[email protected]> wrote:
.....Lebih dari itu, Cak Nun demikian ia sering disapa, juga menuturkan, Indonesia tidak memenuhi syarat disebut sebagai negara.... Assalamu'alaikumWW Sanak sapalanta yang ambo hormati, Indonesia tidak memenuhi syarat disebut sebagai negara ? Aaahhh...yang bener aja bung... Banyak orang Indonesia yang terkesan 'asbun', yang kata-katanya mengesankan dia bukan sebagai anak bangsa ini, yang berdiri di luar sistim sebagai pengamat yang innocent....yang kerjanya hanya mengeritik dan tidak perlu terlibat dalam upaya mencari jalan keluarnya. Kalau Indonesia tidak memenuhi syarat sebagai negara, apakah kita semua menjadi tidak layak pula disebut sebagai suatu bangsa? Dimata saya, negara ini sejak lahirnya telah menghadapi berbagai hantaman, badai dan prahara yang luar biasa....dan ternyata dengan rahmat Allah SWT, negara ini masih tetap eksis dan tampil di dunia International secara pasti dan mengesankan. Beberapa tahun sejak menyatakan kemerdekaannya, negara ini telah diobok-obok oleh Belanda dan konco2nya tercabik menjadi sejumlah negara bagian (RIS) yang masing2 punya presiden. Sesudah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, Belanda ikut pula menyokong pemberontakan dengan mensuplai senjata (peristiwa Jungslager) untuk DI/TII di Jawa Barat dan Aceh. Sebagian Jawa Barat, Aceh, dan Jawa Tengah (MMC) menjadi daerah yang tidak aman dengan bermacam gangguan keamanan. Begitu juga dengan peristiwa Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan RMS di Ambon. Saya masih ingat, koran2 pada masa itu memuat berbagai foto rakyat yang dibunuh secara sadis oleh gerombolan. Pada tahun 50an pinggiran kota Jakarta diganggu oleh gerombolan Mat Item yang merampok rakyat dengan semena-mena. Percobaan pembunuhan terhadap presiden (Sukarno), peristiwa PRRI/ Permesta yang membakar sebagian Sumatera dan Sulawesi, zaman 'paduka yang mulia' Sukarno yang diwarnai dengan 'Ganyang Malaysia' dan peperangan di Kalimantan Utara, keluarnya RI dari PBB, yang semuanya kemudian diakhiri dengan pemberontakan G30S/PKI. Aneksasi Timtim dengan pertempuran yang tiada habisnya yang kemudian diaklhiri secara tragis dengan referendum yang memalukan Indonesia. GAM, bermacam kerusuhan rasial di berbagai bagian Indonesia, peristiwa peledakan bom, dll, dll, dll. Disamping itu, bangsa ini juga berkutat dengan kehancuran ekonomi akibat krisis moneter, peristiwa rasial yang mengerikan, jatuhnya rezim Suharto, dan perjuangan menegakkan demokrasi, perjuangan meneggakkan hukum, kebebasan pers, otonomi daerah, dll. Ternyata, dengan izin Allah SWT, bangsa dan negara ini dapat selamat bertahan dari berbagai goncangan yang amat dahsyat tersebut. Dahsyat bagi orang yang mengalami dan menghadapi hidup dengan berbagai tekanan dan ancaman pada berbagai macam perubahan zaman tersebut, tapi hanya sekadar 'catatan sejarah' yang tidak bermakna bagi generasi muda yang tidak mengalaminya.... Negara ini ternyata masih eksis ! Berkali-kali keluar dengan selamat dari hantaman krisis yang menimpanya. Masih amat banyak pencapaian yang telah diperoleh dan dirasakan serta dinikmati oleh sebagian besar rakyat negeri ini, walau masih banyak pula hal-hal yang belum dicapai dan masih banyak ketimpangan dan kebobrokan di sana sini. Saya secara pribadi tidak sependapat dengan ucapan Cak Nun diatas, tentang tidak dipenuhinya syarat untuk menjadi negara. Otokritik dan introspeksi tentunya perlu untuk kemajuan bangsa ini lebih lanjut. Tapi merendahkan martabat bangsa dan negara sendiri, memperolok- olokkannya seakan yang berucap itu bukan bangsa Indonesia, justru hanya akan memperburuk keadaan dan melemahkan spirit bangsa ini sendiri untuk kembali bangkit (sebagaimana yang sudah berkali-kali terjadi) menyongsong masa depan yang didambakan. Jutaan rakyat dari berbagai strata yang bekerja keras dalam bidangnya masing-masing, yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pembangunan negara dan bangsa ini, atau yang mempertahankannya dan membelanya dari berbagai gangguan dan ancaman, yang tersebar diberbagai pelosok tanah air ini atau di mancanegara, saya rasa tidak akan sependapat dengan 'otokritik' atau 'olok2' Cak Nun ini. Bangsa ini tampaknya kembali memerlukan kata usang 'persatuan dan kesatuan' di semua lini ; bersatu menjadi bangsa Indonesia yang bermartabat dan punya harga diri dan rasa tanggung jawab. Maaf dan Wassalam, Epy Buchari L-67, Ciputat Timur -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
