Samantaro maota Tanah Ulayat di Lapau ko rancak pulo diengong-engong ka lua, aa 
lo karajo urang di Lua Tampuruang. 

Tak tontong kalamai Jaguang,
tagunda-gunda Kacambuang Basi ...
Ingek-ingek Urang di Kampuang,
Lah banyak urang nan garagasi ....

http://www.irinnews.org/Report.aspx?ReportID=90885
Salam,
--MakNgah

--- In [email protected], Marindo Palar <emerdepa...@...> wrote:
>
> Kepada  pak Muchtar Naim, dan Dunsanakdi palanta yam (yang ambo hormati).....
> 
> Izinkan ambo sato pula satu.....
> 
> Bunyi Pasal-33 UUD 45 :
> Pasal 33
> (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas 
> kekeluargaan.
> (2) Cabang cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
> hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
> (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
> oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat.
> (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
> dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,
> berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga
> keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****)
> (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam
> undangundang.
> ****)
> Untuk ayat (2), setelah di kuasai oleh negara, kemudian negara menyerahkannya 
> kepada swasta,  gimana tuh. Bisa nggak negara dituntut ?
> 
> Ambo tidak tau apo UU yg mengatur mengenai ayat (3) dari pasal 33 ko doh. 
> Tapi, kalau ternyata setelah di miliki oleh negara, tidak membuat rakyat 
> menjadi makmur, gimana tuh.., bisa negara dituntut..??.
> 
> Disamping itu, setahu ambo hirarki perundang-undangan adalah :
> 1.UUD --> 2. UU --> 3.PP Pengganti UU --> 4.PP--> 5.Perpres-->6. Perda.
> Artinya, Peraturan Menteri maupun Keputusan Menteri, tidak ada dalam hirarki 
> UU. Lalu kalau ada Permen atau Kepmen, yang mengatur2 masalah Tanah atau 
> Hutan Rakyat, apakah wajib hukum di patuhi...?. 
> 
> Selanjutnya ada UU mengenai Kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. 
> Masalah Tanah (kalau ambo tidak salah) oleh UU ini sudah diserahkan ke 
> daerah. Pemerintah Pusat 'kan hanya mengatur :
> Pasal-10 UU No.32/2004
> (3) �� Urusan pemerintahan
> yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: 
> 
> a. politik luar negeri; 
> 
> b. pertahanan; 
> 
> c.
> keamanan; 
> 
> d.
> yustisi; 
> 
> e.
> moneter dan fiskal nasional; dan 
> 
> f.
> agama. 
> 
> Artinya urusan2 yg lain, adalah urusan Pemerintah Daerah, termasuk Tanah 
> Ulayat, tentunya.
> 
> Jadi menurut ambo yg masih dangkal ko, urusan Tanah Ulayat harus bisa menjadi 
> urusan daerah, pusat nggak ikut campur. Jadi sekarang tergantung goodwill 
> dari Pemda untuk mempertahankan dan/atau meninjau ulang kesepakatan Tanah 
> Ulayat yg sudah kadung di lepas ke para konglomerat tsb.
> 
> Salah dan janggalnya mohon ma'af pak.
> 
> Salam,
> Marindo Palar
> 
> --- Pada Sel, 26/10/10, Mochtar Naim <mochtarn...@...> menulis:
> 
> Dari: Mochtar Naim <mochtarn...@...>
> Judul: Re: Bls: [...@ntau-net] TANAH ULAYAT DITINJAU KEMBALI JILID II
> Kepada: [email protected]
> Cc: "Mochtar Naim" <mochtarn...@...>
> Tanggal: Selasa, 26 Oktober, 2010, 12:43 PM
> 
> 
> Bung Zul, dkk
>  
>      Kita tahu itu. Ada daerah yang kaya SDA saja, tapi SDMnya miskin. 
> Contoh: Kalimantan, Papua, dan Indonesia secara keseluruhan. Ada yang kaya 
> SDMnya kendati SDAnya miskin.   Kecenderungan global adalah, yang kaya itu 
> adalah yang miskin SDA tapi kaya SDMnya. Lihat Singapura, lihat Israel, dan 
> lihat seluruh kota2 di dunia. 
>      Masalah kita tidak itu. Masalah kita adalah bagaimana mengambil 
> manfaat dari kekayaan SDA yang ada itu untuk sebesar-besar kesejahteraan 
> rakyat yang memiliki tanah ulayat itu. Karena kenyataannya adalah: daerah 
> yang kaya SDAnya rakyatnya miskin. Apakah tidak pantas kalau rakyat yang 
> miskin di daerah yang kaya SDAnya itu mendapatkan hak ulayatnya, katakanlah 
> berupa profit sharing, minimal senilai harga sewa tanahnya itu. Dan bukan 
> dizalimi seperti yang berlaku selama ini.
>      Yang diperlukan Bung Zul adalah common sense dan logika sehat kita 
> dengan cara berfikir yang logis dan rasional, walau kritis. 
>      Soal perubahan UUD, UU yang telah ada, dsb, semua itu hanyalah 
> sebuah konsekuensi logis. Tak pun itu, sekarang saja amandemen konstitusi 
> telah berjalan 4 kali, yang saya kebetulan juga pernah ikut terlibat dengan 
> itu. UUD, UU, dsb itu bukanlah barang keramat, tapi semata alat, kendati kita 
> tentu tidak semena-mena mengganti dan merubahnya.
>      Nah, Bung Zul, dkk, we have to make up our mind, and be decisive. 
> And we know for sure what to do.
>  
> Mochtar Naim
> 261010
> 
> --- On Mon, 10/25/10, Zulkarnain Kahar <kahar_zulkarn...@...> wrote:
> 
> 
> From: Zulkarnain Kahar <kahar_zulkarn...@...>
> Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] TANAH ULAYAT DITINJAU KEMBALI JILID II
> To: [email protected]
> Date: Monday, October 25, 2010, 9:49 PM
> 
> Pak Mocktar Yth
>  
> Tulisan Bapak sangat menarik. Untuk itu amendemen dulu UUD Pasal 33. dengan 
> resiko daerah miskin SDA akan kalng kabut.
>  
> Apa sudah dihitung dulu berapa yang akan didapat dari hasil tanah ulayat kita 
> kalau hanya dengan mengandalkan industri pertanian. Perlu diingat pula ikut 
> berpartisipasi dalam Industri ditanah ulayat artinya juga menanam modal 
> jangan pula nanti . kita jadi allibaba namanya kita tapi modal dari Cina. 
> Kalau hanya mengandalkan royalty atau sewa hasilnya tak akan seberapa.
>  
> Kalau untuk sumbar menurut saya bisa berdampak tidak baik  kerena kita masih 
> tergantung dengan Pusat kalau pendapatan pusat menurun drastis otomatis duit 
> untuk Sumbar juga turun.
>  
>  
> Karena saya orang Maninjau. kami atas nama salingka maninjau menuntut 10 % 
> dari Keutugan bersih PLTA untuk kesejahteraan rakyat Maninjau karena Air 
> Danau Maninjau berada diatas tanah ulayat urang salingka . Sama persis 
> kampuang Ayah saya di Tapi  Batang Agam Payakumbuh akan minta persen juga  
> he he (Becanda Pak) biar kurang stress mikirin gampo
>  
> wassalam 
> Zulkarnain Kahar
> Houston Texas


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke