Dedi dan Dunasaka Sadonyo.

OK lah, tentang prosentasenyo harus dietong dengan data yang pasti, tapi
ndak usah awak maetong itu, bialah urusan Kemenkeu dan Kemendagri dan
Bappenas.

Nan jaleh, ado kesepakatan di awak, bahwa biaya aparatur dan birokrasi
terlalu tinggi. Cocok kan Ded.

Cuma yang berbeda pandapek awak adalah, bagaimana mengurangi kebutuhan
anggaran itu. Kalau Dedi bapandapek otonomi daerah hanyo sampai tingkek
provinsi, ambo bapandapek sebaliknyo. Penghematan jusru harus "digenjot" di
tingkat Pemerintah (Pusat).

Logika ambo bantuak iko Ded.

Konsep Otonomi itu kan memndekatkan pelayanan ke publik. Untuk itu kita
sudah berhasil menyusun perangkat perundangan tentang Pemerintahan Daerah
(perangkat, bukan cuma UU 32/2004 saja), dimana letak otonomi itu ada di
Kabupaten/ Kota. Itu adalah model otonomi yang umum di dunia, yang "lebih
berani" itu cuma Jepang, otonominya di tingkat 3.

Nah, itungan bodoh2 aja, kalau pelayanan sudah digeser ke bawah, ke
Kabupaten/ Kota, tentu artinya "kesibukan" di tingkat Pemerintah (Pusat)
harusnya berkurang donk ya. Itu logikanya. Tapi dalam prakteknya, apakah
jumlah Kementerian dan Lembaga Negara berkurang? Apakah jumlah Eselon I dst
berkurang? Saya tidak punya angka pasti, tapi rasanya ga tuh ...

Artinya? Logika awam saya, kemungkinan banyak pekerjaan yang seharusnya
sudah digeser ke daerah, tapi masih ditangani Pusat, dan di sisi lain,
Daerah juga mengerjakan itu.

Jalan keluarnya sebenarnya sudah ada, yaitu PP 38/2007. Di situ jelas sekali
"kapling2" Pemerintah (Pusat), Pemerintahan Provinsi, dan Pemerintahan
Kabupaten Kota. Tapi sementara itu, masing2 Kementerian dan Lembaga juga
sudah punya perundangan sektoral.Dan keduanya bisa saja tidak sinkron (ada
beberapa penelitian tentang ini, misalnya dari ADB di 2 K/L, Bappenas sampai
tahun lalu rasanya juga sudah meneliti 6 K/L)

Tapi PP 38/2007 memerlukan perangkat yang lebih rinci yaitu NSPK (Norma,
Standar, Prosedur, dan Kriteria) yang harus disusun oleh tiap2 Kementerian/
Lembaga, dan kemudian harus disampaikan ke Departemen (sekarang Kementerian)
Dalam Negieri.

TInggal masalahnya, apakah para K/L sudah menyusunnya? Dan apakah Kemendagri
sudah mengenforce K/L untuk melakukan itu?

Saya kira itu salah satu tugas berat dari Mendagri yang ... terus terang
saya juga tidak tahu sudah sampai dimana prosesnya.

Riri
48/bekasi/L











2010/10/29 Dedi Nofersi <[email protected]>

> Riri,
>
> Ambo cubo maetong-etong dari nota keuangan APBN 2010 perubahan.
> Hasia kali-kali kasa ambo, 40 % dari dana APBN tu adolah biaya birokrasi
> pemerintah pusat, dan sakitar 30% dari APBN dikirim ka daerah otonom manjadi
> dana perimbangan namonyo. Umumnyo dana perimbangan ko digunoan dek daerah
> tadi tu untuk biaya birokrasinyo juo. 30% nan lain untuak pambaia utang jo
> subsidi sarato ojok-ojok nan lain.
>
> Jadi kasimpulan kasa ambo labiah saparo pitih APBN dihabihan untuak biaya
> birokrasi.
>
> Biaya birokrasi nan ambo mukasuik adolah:
>
> Gaji,
> Tunjangan,
> Uang lembur dan perjalan dinas,
> Biaya ATK
> Biaya pambali oto/kendaraan jo bensinnyo sarato biaya paelokannyo,
> Biaya paelokan kantua,
> Biaya pemabuek kantua baru
> Biaya perawatannyo. (Note paralu diingek aset2 pamarentah tu indak ado
> diasuransikan, jadi kalau tajadi musibah, akibatnyo mahabihan APBN/D lo
> baliak untuak mambangunnyo atau mampaelokannnyo).
> Biaya pelatihan, seminar, konprensi,
> Biaya pengamanan (tantara jo polisi).
> dlsb.
>
>
> Dedi N
>
> ------------------------------
> *From:* Riri Chaidir <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Fri, October 29, 2010 9:50:17 AM
> *Subject:* Re: [...@ntau-net] OTONOMI MASIH BANYAK MASALAH dan Salah Kaprah:
> Kaji Lagi Hasrat Memekarkan Wilayah
>
> Ded,
>
> Jan capek bana tabik suga tu ...., tanang2 saketek, jadi bisa agak rinci
> saketek mambaco masalahnyo.
>
> Tentang statement : "Labiah saparo dari APBN nan 1000 T tu tapakai untuak
> mambiayai birokrasi sajo (buktinyo caliak UU no 47 tahun 2009 tentang APBN "
> mungkin kurang pas, Ded.
>
> Kalau buliah ambo sarankan, jan langsuang mengambil kesimpulan hanya dari
> judul account nya saja. Karena definisi dari terminologi account itu mungkin
> beda antara Akuntansi Pemerintahan dengan yang lainnya.
>
> "Belanja Pemerintah Pusat" itu bukan berarti balanjo untuak para birokrat
> itu.
>
> Terminologi Itu menunjuk ke anggaran yang dikelola oleh Pemerintah. Di
> dalamnya termasuk Belanja Pegawai (of course), Subsidi (energi, pupuk dsb)
> yang besarnya lebih dari Belanja Pegawai, Pembayaran Bunga Utang, Bantuan
> Sosial, Belanja Modal, dan lalin lain.
>
> Kalau tentang otonomi apakah cukup sampai ke tingkat Provinsi saja (seperti
> pendapat Dedi) atau tetap sampai ke Kabupaten/ Kota, mungkin perlu
> penelitian tersendiri. Yang jelas, dari puluhan dokumen yang pernah saya
> baca, belum ada yang menyarankan otonomi tingkat provinsi lebih baik
> dibandingkan Kabupaten/ Kota.
>
> Kenapa? Karena inti dari otonomi kan mendekatkan ke pelayanan masyarakat.
>
> Tentang pengkajian hasrat untuk merem otonomi daerah, ya itu sudah dari
> dulu ada desakan begitu. Bahkan Pemerintah pernah menyatakan moratorium,
> tapi ternyata tetap ada (kalau perlu, ini perlu pembahasan tersendiri, kita
> bisa bahas, dari mana datangnya  itu).
>
> Pemerintah dibandingkan dengan swasta?
>
> Nah, alat ukurnya harus jelas dulu.
> Kebetulan ambo maaja Public Sector Accounting dan Akuntansi Pemerintahan di
> 2 Perguruan Tinggi. Di literatur2 ambo baco, ada kesamaan dan perbedaan
> antara organsiasi pemerintah dengan swasta/ profit motive entites. Caro
> maukua nyo babedo2 tapi, Ded.
>
> Riri
> 48/L/ Bekasi
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke