Sektor informal, di kalangan PWK dan development studies sudah menjadi 
perhatian lama. Memang ini khas negara sedang berkembang, sehingga dari 
referensi utama perencanaan kota dari negara maju perlu disesuaikan. 
   
  Menjelaskan ini kepada berbagai pihak, terutama kepada Pemda penting. Tetapi 
para planner juga perlu bertanya pada diri sendiri apakah sudah "memberi ruang" 
kepada sektor informal ini dalam menyusun RUTR?
   
  Kedua, ini memang masalah dilematis, antara perhatian pada "ekonomi rakyat" 
dan "ketertiban tata ruang". Sebagai planner perlu melihatnya secara 
"proporsional." Jangan kalau lagi diskusi bebas santai, membela PKL, tapi dalam 
forum formal merencana ruang justru melihatnya sebagai pengganggu (pelanggar 
RUTR).
   
  Pada dua sisi, ada unsur "yes, but.."nya. Ok sektor informal!, tapi jangan 
nutup jalan dong. Ok tertib tata ruang!, tapi jangan melupakan PKL yang juga 
anak syah dari pembangunan.
   
  Dari segi jumlah, sebenarnya penyedia lapangan kerja saat ini di atas 50% 
adalah sektor informal. Dikaitkan dengan urbanisasi semu (migrasi ke kota), 
mereka seolah "warga tanpa pelindung". Mereka sudah meninggalkan daerahnya, 
tapi di kota besar dianggap sebagai pendatang haram, sehingga tidak berhak 
menerima BLT dst. Tapi dipungut karcis retribusi tiap hari.
   
  Di sisi lain, dilema permasalahannya juga kian akut. Dalam kasus pasar 
tradisional misalnya. Yang membuat daya tarik pasar tradisional merosot, antara 
lain juga membludaknya sektor informal. Sebagai contoh, Pasar Blok M. Kalau mau 
masuk ke pasar tradisionalnya, sulit sekali, karena jalan sekelilingnya sudah 
penuh sesak, menjadi pasar padat sendiri. Di Pasar Senin, malah luber di jalan, 
sebelum di "tertib"kan dengan keras. Jadi kalau Pemda mesti membela pasar 
tradisional, masalahnya barangkali jadi SEGITIGA: "Pasar Tradisional - Pasar 
Modern - (Pasar) Informal"
   
  Masalahnya memang berhadapan dengan JUMLAH PENCARI KERJA yang sangat besar 
jumlahnya, dan LOKASI strategis untuk menjual barang yang TERBATAS. 
  Kalau mau jujur ini mungkin adalah masalah konflik antara PLANNER 
KONVENSIONAL versus PLANNER PEDULI masalah sosial ekonomi (???). 
   
  Salam,
  Risfan Munir, IAP
   
   
   
   

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke