Halo mas Farid ……
   
  Bahwa ada  semacam sesuatu yang “kurang nyambung” antara yang diundang dan 
yang ngundang … menurut saya memang sepertinya hampir  pasti ada sesuatu  
fallacious believing  tentang Morotai……. dan sepertinya memang ada sementara  
pihak menginterpretasikan strategi pengembangan wilayah tertinggal  secara 
misleading……….
   
  Ya kalau kita perhatikan…… mentang-mentang namanya “urusan tentang 
pembangunan daerah tertinggal” …….. lalu mau secara ‘harafiah’ saja…. yang 
diperhatikan lalu benar-benar “hanya periferinya daerah tertinggal” saja … dan 
saya tidak melihat seperti adanya “perhatian yang cukup pada ‘pusatnya’ daerah 
tertinggal” …… saya kira cara pandang seperti itu juga kurang tepat … atau 
kasarnya naif…….
   
  Seperti kalau untuk kasus Maluku Utara ini ya saya kira tentang “bagaimana 
mengembangkan Sofifi” sebagai “pusat layan” dari daerah tertinggal Maluku 
Utara….. dimana  Sofifi adalah juga sebagai pusat layan dari Tobelo…. yang 
dalam hal ini Tobelo adalah “pusat layan’ dari Morotai…. tentu itu adalah 3 
masalah ‘three-in-one’ Sofifi-Tobelo-Morotai  yang secara hirarkhial  amat 
perlu…… dan sama-sama perlu untuk dikembangkan…..
   
  Kalau kita lihat ….. Sofifi saja sedang akan dengan susah payah 
dikembangkan……. dimana pada hari-hari ini kalau kita baca dari postingnya pak 
Aby dan yang lainnya…. terlihat bahwa itu bukan sesuatu yang mudah…… lalu tak 
lama kita lihat  …. seorang pejabat penting dengan membawa ‘rombongan besar’ …. 
langsung  menuju ‘periferinya Maluku Utara…. tanpa sedikitpun menoleh atau 
menyinggung perlunya mengembangkan Sofifi (sebagai pusat)  earlier rather than 
Morotai (sebagai periferi)…….. ini  menurut saya jelas merupakan sebuah  
fallacious vision ….. 
   
  Yang urusan wilayah tertinggal lalu secara harafiah hanya akan mau mengurusi 
“periferinya” wilayah tertinggal saja …. dan samasekali tidak mau mengurus 
“pusat”nya wilayah tertinggal………..
   
  Padahal yang namanya “ketertinggalan” itu kan juga satu diantara maknanya 
adalah bahwa “modernity” dipusatnya tidak dapat memancar sampai keperiferinya 
itu…. atau…. pada “pusatnya” kurang terdapat  ‘modernity’ .. sehingga apa yang 
mau “dipancarkan”  ke ‘wilayah belakang’nya tidak ada… lalu karenanya ‘wilayah 
belakang’nya itu tertinggal..….
   
  Saya tetap setuju pada pandangan bahwa kalau KTI  dibilang tertinggal 
misalnya (dibanding KBI)…. salah satu cara membangun atau mengurangi 
“ketertinggalan” itu adalah dengan cara juga “membangun pusatnya” (dalam hal 
ini Makassar)…. demikian juga kalau Maluku Utara boleh juga dibilang sebagai 
‘propinsi tertinggal’ misalnya..... maka cara mengurangi “ketertinggalan” 
Maluku Utara itu bukanlah dengan hanya cara utama  ‘mengintensifkan pembangunan 
Morotai”….. atau menggalakkan pembangunan dipulau Taliabu…atau pulau Obi… namun 
adalah dengan utamanya mendinamisasikan pusat layannya (Sofifi)……
   
  Rengasdengklok bisa (dengan sendirinya) ramai karena Karawang ramai…..  dan 
Rengasdengklok sendiri juga memiliki “wilayah belakangnya”… yang perlu akan 
fungsi layan Rengasdengklok ……….
  Karawang ramai (dengan sendirinya)  karena Jakarta ramai …….. 
   
  Kalau Jakarta tidak ramai …. kalau Karawang tidak ramai…. rasanya juga tidak 
masuk akal mau memaksa-maksakan Rengasdengklok harus ramai secara istimewa…. 
gara-gara masa kemerdekaan dulu ia pernah memiliki peran sejarahnya ……..
   
  Demikian dan salam,
  Edi
   
   
  farid irsyad  <[EMAIL PROTECTED]>   menulis :
   
  Halo pak Edi, halo pak Rudi……,
  Dari kisah 50 orang dibawa jauh-jauh  ke Morotai dan disebutkan bahwa 
sebagian besar tidak berminat atau tidak tertarik untuk membahas Morotai…. atau 
bahkan lebih tegas lagi dikatakan … tiada semangat membangun Morotai dari semua 
yang hadir …. mereka hanya pengen beli perhiasan dari besi putih yang terkenal 
itu…….
  Kalau begitu .... lalu sebenarnya  itu salah siapa dong?...... apa salah yang 
diundang?..........apa itu lalu bukan bagian dari penghambur-hamburan uang 
(negara)?.....
  salam,
  Farid 
   
  sebelumnya “Aunur rofiq" <[EMAIL PROTECTED]>  menulis:
   
  Pak Eka,
Saya baru saja membawa 50 orang dari berbagai sektor ke Tobelo dan Morotai 
diskusi tentang pusat pertumbuhan di perbatasan, sayang teman dari Penataan 
Ruang tidak hadir, namun kita sangat berterima kasih telah ada dokumen yang 
kita bisa jadikan pedoman untuk membahas perbatasan ini.

Sayangnya pulau Morotai tidak menjadi perhatian Bupati (mungkin karena akan 
mekar menjadi Kabupaten tersendiri). Teman-teman dari sektor juga tidak begitu 
tertarik untuk membahas Morotai. Apalagi ada komentar dari teman Ditjen PUM 
Depdagri yang mengatakan bahwa Morotai bukanlah daerah perbatasan, karena tidak 
mempunyai Base point atau Base line sebagai pulau terluar.

anyway, saya sedikit kecewa dengan tidak adanya semangat membangun Morotai dari 
semua yang hadir..... mereka hanya pengen beli perhiasan dari besi putih yang 
terkenal itu..

salam

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke