Halo mas Farid Bahwa ada semacam sesuatu yang kurang nyambung antara yang diundang dan yang ngundang menurut saya memang sepertinya hampir pasti ada sesuatu fallacious believing tentang Morotai . dan sepertinya memang ada sementara pihak menginterpretasikan strategi pengembangan wilayah tertinggal secara misleading . Ya kalau kita perhatikan mentang-mentang namanya urusan tentang pembangunan daerah tertinggal .. lalu mau secara harafiah saja . yang diperhatikan lalu benar-benar hanya periferinya daerah tertinggal saja dan saya tidak melihat seperti adanya perhatian yang cukup pada pusatnya daerah tertinggal saya kira cara pandang seperti itu juga kurang tepat atau kasarnya naif . Seperti kalau untuk kasus Maluku Utara ini ya saya kira tentang bagaimana mengembangkan Sofifi sebagai pusat layan dari daerah tertinggal Maluku Utara .. dimana Sofifi adalah juga sebagai pusat layan dari Tobelo . yang dalam hal ini Tobelo adalah pusat layan dari Morotai . tentu itu adalah 3 masalah three-in-one Sofifi-Tobelo-Morotai yang secara hirarkhial amat perlu dan sama-sama perlu untuk dikembangkan .. Kalau kita lihat .. Sofifi saja sedang akan dengan susah payah dikembangkan . dimana pada hari-hari ini kalau kita baca dari postingnya pak Aby dan yang lainnya . terlihat bahwa itu bukan sesuatu yang mudah lalu tak lama kita lihat . seorang pejabat penting dengan membawa rombongan besar . langsung menuju periferinya Maluku Utara . tanpa sedikitpun menoleh atau menyinggung perlunya mengembangkan Sofifi (sebagai pusat) earlier rather than Morotai (sebagai periferi) .. ini menurut saya jelas merupakan sebuah fallacious vision .. Yang urusan wilayah tertinggal lalu secara harafiah hanya akan mau mengurusi periferinya wilayah tertinggal saja . dan samasekali tidak mau mengurus pusatnya wilayah tertinggal .. Padahal yang namanya ketertinggalan itu kan juga satu diantara maknanya adalah bahwa modernity dipusatnya tidak dapat memancar sampai keperiferinya itu . atau . pada pusatnya kurang terdapat modernity .. sehingga apa yang mau dipancarkan ke wilayah belakangnya tidak ada lalu karenanya wilayah belakangnya itu tertinggal.. . Saya tetap setuju pada pandangan bahwa kalau KTI dibilang tertinggal misalnya (dibanding KBI) . salah satu cara membangun atau mengurangi ketertinggalan itu adalah dengan cara juga membangun pusatnya (dalam hal ini Makassar) . demikian juga kalau Maluku Utara boleh juga dibilang sebagai propinsi tertinggal misalnya..... maka cara mengurangi ketertinggalan Maluku Utara itu bukanlah dengan hanya cara utama mengintensifkan pembangunan Morotai .. atau menggalakkan pembangunan dipulau Taliabu atau pulau Obi namun adalah dengan utamanya mendinamisasikan pusat layannya (Sofifi) Rengasdengklok bisa (dengan sendirinya) ramai karena Karawang ramai .. dan Rengasdengklok sendiri juga memiliki wilayah belakangnya yang perlu akan fungsi layan Rengasdengklok . Karawang ramai (dengan sendirinya) karena Jakarta ramai .. Kalau Jakarta tidak ramai . kalau Karawang tidak ramai . rasanya juga tidak masuk akal mau memaksa-maksakan Rengasdengklok harus ramai secara istimewa . gara-gara masa kemerdekaan dulu ia pernah memiliki peran sejarahnya .. Demikian dan salam, Edi farid irsyad <[EMAIL PROTECTED]> menulis : Halo pak Edi, halo pak Rudi , Dari kisah 50 orang dibawa jauh-jauh ke Morotai dan disebutkan bahwa sebagian besar tidak berminat atau tidak tertarik untuk membahas Morotai . atau bahkan lebih tegas lagi dikatakan tiada semangat membangun Morotai dari semua yang hadir . mereka hanya pengen beli perhiasan dari besi putih yang terkenal itu . Kalau begitu .... lalu sebenarnya itu salah siapa dong?...... apa salah yang diundang?..........apa itu lalu bukan bagian dari penghambur-hamburan uang (negara)?..... salam, Farid sebelumnya Aunur rofiq" <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Pak Eka, Saya baru saja membawa 50 orang dari berbagai sektor ke Tobelo dan Morotai diskusi tentang pusat pertumbuhan di perbatasan, sayang teman dari Penataan Ruang tidak hadir, namun kita sangat berterima kasih telah ada dokumen yang kita bisa jadikan pedoman untuk membahas perbatasan ini.
Sayangnya pulau Morotai tidak menjadi perhatian Bupati (mungkin karena akan mekar menjadi Kabupaten tersendiri). Teman-teman dari sektor juga tidak begitu tertarik untuk membahas Morotai. Apalagi ada komentar dari teman Ditjen PUM Depdagri yang mengatakan bahwa Morotai bukanlah daerah perbatasan, karena tidak mempunyai Base point atau Base line sebagai pulau terluar. anyway, saya sedikit kecewa dengan tidak adanya semangat membangun Morotai dari semua yang hadir..... mereka hanya pengen beli perhiasan dari besi putih yang terkenal itu.. salam Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

