rekan-rekan (alumni morotai -terutama angkatan Juli2007, baru-baru ini)
   
  Memang sengaja saya belum langsung ingin melaporkan tanggapan kunjungan 
terakhir ke Malut dan Morotai baru-baru ini, tidak saja oleh karena alat 
computer saya baru pulih, tapi juga oleh karena memang saya perlu menyelami 
masukan-masukan baru dan juga beberapa referensi lama yang masih relevan Tapi 
kalau catatan ini disimpan terlampau lama mungkin juga agak kurang manfaat 
teknisnya. 
   
  Saya ingin mulai dengan beberapa keadaan latar belakang pada masa akhir 
Perang Dunia II terutama untuk wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua Utara. Pada 
waktu Sekutu (MacArthur) makin mantap dengan strategi katak loncat (leapfrog) 
offensipnya, maka memang sengaja beberapa pulau (yang lebih kuat pertahanan 
Jepangnya) telah di bypass. Rupanya Sulawesi Utara (Minahasa) dan juga 
Halmahera dianggap relatip kuat pertahanan Jepangnya  Maka karena itu kota 
Manado merupakan kota yang paling parah  dibom sampai rata oleh Sekutu pada 
September 1944. Keadaan ini jelas juga mempengaruhi usaha rekonstruksi 
pemulihan setelah perang, yang terlihat dalam dua hal, pertama pengungsian sisa 
orang Belanda di Minahasa ke Morotai (terutama setelah ada pemberontakan 
melawan Belanda di kalangan KNIL) dan yang kedua suatu usaha rekonstruksi kota 
Manado secara khusus (Plaatselijke Opbouwdienst atau POD). 
  Pada akhir tahun 1945 atau mula tahun 1946 saya kebetulan juga mendengar dari 
seorang  paman, Pak  Luhukay di Jakarta bahwa Pengadilan Perang (Temporaire 
Krijgsraad) di Morotai memerlukan tenaganya untuk mengadili penjahat perang 
Jepang yang pada waktu itu dikumpulkan di pulau Morotai sebelum dipulangkan ke 
Jepang.  Saya masih ingat Pak Luhukay diterbangkan dengan pesawat pembom B25 
langsung dari Kemayoran ke Morotai. 
  Pak Moes dan ibu Ade Luhukay inilah yang saya kunjungi di Morotai pada akhir 
tahun 1946 setelah saya naik kapal dari Manado lewat Gorontalo dan Ternate. 
Baiklah disadari bahwa keadaan-keadaan di kota-kota Sulawesi dan Maluku Utara 
baru setelah perang itu memang masih sangat sukar walaupun berakhirnya perang 
cukup melegakan. Dapatlah dibayangkan bahwa keadaan yang tidak saja 
berkecukupan tapi malahan jauh berlebihan (dengan rumah sakit, ice cream dan 
bioskop lapangan) di basis Sekutu seperti Morotai itu memang sangat mempesona 
bagi mereka yang baru saja keluar dari penderitaan perang. 
   
  Kesan atau 'frame of mind' berikut yang ingin saya sampaikan sebagai 
perbandingan adalah pertama suatu kunjungan saya pada waktu penyerahan 
kedaulatan Irian ke Indonesia , kesan-kesan dari bandara Mokmer di Biak dan 
Sentani di Jayapura atau Hollandia itu memang masih memper keadaan Morotai dulu 
 Euforia pasca penjajahan pada masa kejayaan Soekarno kini mungkin sudah mulai 
menampakan konnotasi yang berbeda lagi. Barangkali inilah yang dimaksud oleh 
rekan Aby  dengan fraction atau keterpecahan. 
  Kesan yang berbeda namun spesifik juga adalah pada pada akhir tahun 70an pada 
waktu  saya mengikuti rombongan KKN Unsrat ke Halmahera khususnya ke Kao dan 
Malifut, penduduk relokasi dari pulau Makian, ini sebelumnya ada kerusuhan 
antara kelompok etnis di Halmahera itu. Entah tapi yang paling mengesankan 
untuk saya pada waktu itu adalah "typical sense of humour" orang Maluku Utara 
atau Ternate yang padat logat atau istilah orang laut yang mungkin memang hanya 
dapat dimengerti atau dinikmati dalam kesantaian, 
   
  Barangkali masih banyak anekdot atau ceritera yang menarik namun tidak begitu 
relevan dengan tuntutan masa kini dan masa depan. Terus terang saya memang agak 
sedih atau kecewa kalau hanya merangkaikan kesan dan mencoba merelevansikan 
atau merelatipkan fakta sejarah dengan kebutuhan perencanaan. Sementara ini 
hanya satu kesimpulan saya terhadap pulau "Morotai sebagai pulau perbatasan" 
(hal mana kini juga mulai disangsikan) -  Yang saya sangsikan adalah bukan 
pulau Morotainya tapi justru pengertian perbatasan . 
  Mungkin yang kita hadapi sekarang bukanlah perbatasan tapi  "sans frontieres" 
Jadi lebih mudah kita hapus saja pengertian batas itu secara garis 
konvensional. 
   
  Salam. Pak Wawo.  .      

ully irma maulina <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Dear mailers....
   
  Pembangunan Morotai yang punya sejarah kuat yaitu merupakan basis pertahanan 
Amerika dan sekutunya tidak bisa dijadikan acuan yang kuat untuk mengembangkan 
Morotai keluar dari masalah ketertinggalannya. Sisa-sisa masa kejayaan berupa 
barang-barang rongsokan tidak menjadi hal yang luar biasa, sehingga pendatang 
tidak merasa excited untuk datang kesini, termasuk saya sendiri. Saya berada di 
sana bersama rombongan pak Wawo dan pak Aby, dan kami diberitahukan oleh guide 
kami bahwa masih ada tank2 perang yang masih dapat dilihat dan dilindungi oleh 
AU, maka dengan semangatnya kami menyusuri hutan lebat dengan kondisi setapak 
yang membuat sepatu2 kami bernoda lumpur dan alang2 rumput yang menghiasi baju2 
kami. Namun sesampainya disana, kami memandang sebuah tank yang sangat hitam 
legam, dan tidak lagi jelas bentuknya........, jelas-jelas tidak sepadan 
perjalanan kami yang penuh dengan ranjau hutan dengan melihat tank tersebut, 
belum lagi ban  mobil yang kempes di tengah hutan
 pada malam hari...ihhhhhhhhhhhhhhhh..., saya merasakan kehadiran 
tentara-tentara jepang yang baris-berbaris...., ternyata setelah dilihat lagi 
ternyata supervisi kami pak eko yang dengan isengnya menaruh sapu tangan 
dibawah topinya sehingga mirip tentara jepang...hehehe...
   
  Anyway....., sepanjang perjalanan kami di pulau Morotai tersebut, saya 
pribadi tidak merasakan hawa-hawa adanya sejarah yang kuat di pulau ini, 
kecuali yang dicerita2kan oleh pak Wawo maupun tokoh masyarakat disini, apalagi 
masyarakat Morotai bangga dengan slogan "Morotai dulu..., Jakarta 
sekarang....". Saya sama sekali tidak melihat hubungannya, anda barangkali....?
   
  Saya kira tidak hanya sejarah yang dapat dijadikan perhatian investor untuk 
datang kesini, karena kalo mengandalkan sejarah, yang dijumpai hanyalah 
barang-barang rongsokan masa lalu.
   
  Sekali lagi Infrastruktur yang kuat dapat dijadikan modal bagi pengembangan 
suatu daerah, tidak hanya membuat dokumen2 perencanaan yang sifatnya mengambang 
dan jauh dari realisasi perencanaannya.
   
  Saya setuju dengan Pak Aunur rofiq yang berpendapat kalau di Indonesia, pusat 
layanan lebih ditekankan kepada pusat layanan pemerintah dibandingkan pusat 
layanan ekonomi. karena kita belum berani untuk memisahkan antara pusat layanan 
pemerintahan dengan pusat layanan ekonomi, alasannya mungkin pemerintah tidak 
akan merasakan spread effect dari layanan ekonomi yang berada diluar 
teritorialnya.... :P
   
  Saya berpendapat potensi/sektor unggulan daerah adalah hal utama sebagai 
trigger dalam pengembangan  kawasan, kalaupun ada sejarah yang pernah terjadi, 
maka hanya dijadikan sebagai dukungan pengembangan saja. Khusus untuk Pulau 
Morotai dengan Sejarah yang termasyur itu, untuk awal pengembangan dapat 
dikembangkan dengan pariwisata yang ditekankan untuk kegiatan menelusuri 
jejak-jejak Sejarah yang pernah terjadi. Tidak usah menampilkan rongsokan bekas 
perang dunia, cukup dengan foto-foto lama ( saya rasa dokumentasinya cukup 
banyak dari internet maupun tokoh2 masyarakat Morotai) yang ditampilkan secara 
menarik di sudut-sudut kota Daruba,di bandara Pitu dan menelusuri jejak2 
sejarah sampai pulau Sumsum dimana Mc Arthur pernah bersembunyi. Dengan 
demikian dengan sendirinya penataan kota nya juga dapat diperhatikan sehingga 
program yang saya sebutkan diatas dapat direalisasikan, seiiring dengan itu, 
pengembangan infrastruktur juga dapat diperkuat, hingga wisatawan dapat dengan
 aman dan nyaman, dan tentunya mempunyai niat yang kuat untuk datang ke Pulau 
Morotai.... unforgetted Island.......


    
---------------------------------
  Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, 
when.   

         

       
---------------------------------
Choose the right car based on your needs.  Check out Yahoo! Autos new Car 
Finder tool.

Kirim email ke