Mas Edi, 
mohon maaf saya boleh berkomentar tentang kata-kata "salah satu cara membangun 
atau mengurangi “ketertinggalan” itu adalah dengan cara juga “membangun 
pusatnya” (dalam hal ini Makassar)…"   
Inilah yang kita lakukan selama orde baru, membangun Indonesia adalah membangun 
Jakarta dan itu sudah cukup, nanti kalau aglomerasinya sudah cukup besar kan 
bisa terjadi spread effect atau trickle down. Tidak melihat potensi, tapi lebih 
banyak karena "pusat layanan" yang lebih sedih diartikan sebagai pusat layanan 
pemerintahan bukan layanan ekonomi. 
 Kebetulan saya sekarang sedang di Cina..... mereka mulai khawatir terjadi 
ketimpangan pembangunan antara bagian Timur yang maju bak meteor dengan bagian 
Barat yang tertatih-tatih, Cina  dengan filosofinya "ada jalan ada rejeki" maka 
dibangunlah jalan se kwalitas jalan tol, ribuan kilomenter ke Barat. Dan saya 
pernah diajak mereka melihat mereka membangun jalan desa dengan lebar 4,5 m 
sepanjang 1500 km di salah satu kabupaten di GuangXi. Ada desa terpencil di 
perbatasan, meskipun bukan pusat pelayanan pemerintahan tetapi punya potensi 
sebagai penghasil benang sutra dibangun habis=habisan dengan prasarana yang 
memadai...... hasilnya 1 juta petani menikmati 7 kali dari penghasilan semula 
dan desa tersebut menjadi modern. 
Kembali ke Morotai...mungkin kita tidak punya filosofinya Cina "ada jalan ada 
rejeki" yang secara harfiah mereka lakukan. Mohon maaf, Departemen PU hanya 
menyediakan dana untuk membangun jalan nasional di Morotai cukup 3 km per 
tahun, padahal panjangnya jalan lingkar Morotai kurang lebih 300 km.
salam 
 
----- Original Message ----
From: Eddy Haryo Susanto <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, July 24, 2007 10:56:17 AM
Subject: [referensi] re: 50 ke Pulau Morotai


Halo mas Farid ……
 
Bahwa ada  semacam sesuatu yang “kurang nyambung” antara yang diundang dan yang 
ngundang … menurut saya memang sepertinya hampir  pasti ada sesuatu  fallacious 
believing  tentang Morotai……. dan sepertinya memang ada sementara  pihak 
menginterpretasikan strategi pengembangan wilayah tertinggal  secara 
misleading……….
 
Ya kalau kita perhatikan…… mentang-mentang namanya “urusan tentang pembangunan 
daerah tertinggal” …….. lalu mau secara ‘harafiah’ saja…. yang diperhatikan 
lalu benar-benar “hanya periferinya daerah tertinggal” saja … dan saya tidak 
melihat seperti adanya “perhatian yang cukup pada ‘pusatnya’ daerah tertinggal” 
…… saya kira cara pandang seperti itu juga kurang tepat … atau kasarnya naif…….
 
Seperti kalau untuk kasus Maluku Utara ini ya saya kira tentang “bagaimana 
mengembangkan Sofifi” sebagai “pusat layan” dari daerah tertinggal Maluku 
Utara….. dimana  Sofifi adalah juga sebagai pusat layan dari Tobelo…. yang 
dalam hal ini Tobelo adalah “pusat layan’ dari Morotai…. tentu itu adalah 3 
masalah ‘three-in-one’ Sofifi-Tobelo-Morotai  yang secara hirarkhial  amat 
perlu…… dan sama-sama perlu untuk dikembangkan…..
 
Kalau kita lihat ….. Sofifi saja sedang akan dengan susah payah dikembangkan……. 
dimana pada hari-hari ini kalau kita baca dari postingnya pak Aby dan yang 
lainnya…. terlihat bahwa itu bukan sesuatu yang mudah…… lalu tak lama kita 
lihat  …. seorang pejabat penting dengan membawa ‘rombongan besar’ …. langsung  
menuju ‘periferinya Maluku Utara…. tanpa sedikitpun menoleh atau menyinggung 
perlunya mengembangkan Sofifi (sebagai pusat)  earlier rather than Morotai 
(sebagai periferi)…….. ini  menurut saya jelas merupakan sebuah  fallacious 
vision ….. 
 
Yang urusan wilayah tertinggal lalu secara harafiah hanya akan mau mengurusi 
“periferinya” wilayah tertinggal saja …. dan samasekali tidak mau mengurus 
“pusat”nya wilayah tertinggal………..
 
Padahal yang namanya “ketertinggalan” itu kan juga satu diantara maknanya 
adalah bahwa “modernity” dipusatnya tidak dapat memancar sampai keperiferinya 
itu…. atau…. pada “pusatnya” kurang terdapat  ‘modernity’ .. sehingga apa yang 
mau “dipancarkan”  ke ‘wilayah belakang’nya tidak ada… lalu karenanya ‘wilayah 
belakang’nya itu tertinggal..….
 
Saya tetap setuju pada pandangan bahwa kalau KTI  dibilang tertinggal misalnya 
(dibanding KBI)…. demikian juga kalau Maluku Utara boleh juga dibilang sebagai 
‘propinsi tertinggal’ misalnya..... maka cara mengurangi “ketertinggalan” 
Maluku Utara itu bukanlah dengan hanya cara utama  ‘mengintensifkan pembangunan 
Morotai”….. atau menggalakkan pembangunan dipulau Taliabu…atau pulau Obi… namun 
adalah dengan utamanya mendinamisasikan pusat layannya (Sofifi)……
 
Rengasdengklok bisa (dengan sendirinya) ramai karena Karawang ramai…..  dan 
Rengasdengklok sendiri juga memiliki “wilayah belakangnya”… yang perlu akan 
fungsi layan Rengasdengklok ……….
Karawang ramai (dengan sendirinya)  karena Jakarta ramai …….. 
 
Kalau Jakarta tidak ramai …. kalau Karawang tidak ramai…. rasanya juga tidak 
masuk akal mau memaksa-maksakan Rengasdengklok harus ramai secara istimewa…. 
gara-gara masa kemerdekaan dulu ia pernah memiliki peran sejarahnya ……..
 
Demikian dan salam,
Edi
 
 
farid irsyad  <[EMAIL PROTECTED]>   menulis :
 
Halo pak Edi, halo pak Rudi……,
Dari kisah 50 orang dibawa jauh-jauh  ke Morotai dan disebutkan bahwa sebagian 
besar tidak berminat atau tidak tertarik untuk membahas Morotai…. atau bahkan 
lebih tegas lagi dikatakan … tiada semangat membangun Morotai dari semua yang 
hadir …. mereka hanya pengen beli perhiasan dari besi putih yang terkenal itu…….
Kalau begitu .... lalu sebenarnya  itu salah siapa dong?...... apa salah yang 
diundang?..........apa itu lalu bukan bagian dari penghambur-hamburan uang 
(negara)?.....
salam,
Farid 
 
sebelumnya “Aunur rofiq" <[EMAIL PROTECTED]>  menulis:
 
Pak Eka,
Saya baru saja membawa 50 orang dari berbagai sektor ke Tobelo dan Morotai 
diskusi tentang pusat pertumbuhan di perbatasan, sayang teman dari Penataan 
Ruang tidak hadir, namun kita sangat berterima kasih telah ada dokumen yang 
kita bisa jadikan pedoman untuk membahas perbatasan ini.

Sayangnya pulau Morotai tidak menjadi perhatian Bupati (mungkin karena akan 
mekar menjadi Kabupaten tersendiri). Teman-teman dari sektor juga tidak begitu 
tertarik untuk membahas Morotai. Apalagi ada komentar dari teman Ditjen PUM 
Depdagri yang mengatakan bahwa Morotai bukanlah daerah perbatasan, karena tidak 
mempunyai Base point atau Base line sebagai pulau terluar.

anyway, saya sedikit kecewa dengan tidak adanya semangat membangun Morotai dari 
semua yang hadir..... mereka hanya pengen beli perhiasan dari besi putih yang 
terkenal itu..

salam
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


       
____________________________________________________________________________________
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.
http://farechase.yahoo.com/

Kirim email ke