Ysh Bung Aunur Rofiq dan milister lainnya

DalamUU Perbankan itu tidak ada pasal diharuskannya ada kolateral/agunan dalam 
memberi pinjaman. Prinsip memberi pinjaman bagi bank adalah kepercayaan (trust) 
dan kehati-hatian (prodent). Jadi kalau bank memberi pinjaman, maka si bank 
telah menaruh kepercayaan kepada debitor dan sudah melakukan analisis risiko 
bahwa pnjamannya bakal kembali. Begitu juga kalau bank tidak memberi pinjaman 
kepada orang miskin karena si bank belum percaya kalau nantinya pinjaman akan 
dikembalikan. Tapi soal kepercayaan dan kehati-hatian itu tidak seharusnya 
menunggu atau pasif, bisa juga kepercayaan dan kehati-hatian itu by designed. 
Misalnya apa yang dilakukan oleh Mohammad Yunus dari Pakistan yang mendapat 
Nobel Perdamaian dengah Grameen Bank. Karena komitmen terhadap orang miskin, 
khususnya kaum perempuan yang tidak berdaya, maka M. Yunus menciptakan trust 
dan prudential dengan membentuk kelompok-kelompok perempuan miskin. Kelompok 
ini diberikan kredit dengan kesepakatan bila ada anggotanya yang wanprestasi, 
maka anggota lainnya harus ikut menanggung. Kebersamaan dan ikut tanggung 
renteng itu menjadi "kepercayaan" yang by designed dan optimist dengan kelompok 
ini maka pinjaman akan dibayar oleh debitor (kelompok orang miskin). M. Yunus 
berhasil. Jadi sebenarnya bank bisa juga memberi kredit kepada orang miskin 
tanpa agunan seperti yang dilakukan M. Yunus.

Apakah di Indonesia ada bank semacam Grameen Bank yang diprakarsai M. Yunus 
itu? Ada, yaitu apa yang telah dirintis oleh kelompok LP3ES dan juga Dompet 
Duafa (saya lupa namanya). Cuman Grameen Bank atau bank-bank semacamnya yang 
melayani orang miskin itu tingkat bunganya masih tinggi dan belum ada yang 
menawarkan "soft loan". Yang sudah bisa menawarkan "soft loan" ya pinjaman yang 
sumber dananya dari APBN dan disalurkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM dan 
beberapa dana dari departemen lainnya.

Thnaks. CU. BTS.
  ----- Original Message ----- 
  From: Aunur rofiq 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, August 16, 2007 9:26 AM
  Subject: Re: [referensi] SOAL PENEMPATAN SBI



  milister ysh..

  kita sekarang memang menghadapi masalah dalam menyalurkan dana ke orang-orang 
miskin.... kalau melalui bank perlu koleteral/agunan, kalau melalui LKM 
(lembaga keuangan mikro) belum ada payung hukumnya.. ada yang punya ide bagus?




  ----- Original Message ----
  From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Monday, August 13, 2007 11:48:57 AM
  Subject: Re: [referensi] SOAL PENEMPATAN SBI


  Mas BTS dan rekan milister ysh,

  Saya sebenarnya sangat setuju dengan ide mas BTS tentang pemanfaatan dana 
SILPA (SIsa Lebih Penggunaan Anggaran). Ini merupakan pendekatan yang 
diperkenalkan setelah munculnya Kepmendagri 29/2004. Ini kemudian diperbarui 
dengan Permendagri nomor 13 tahun 2006 tentang Pokok2 Pengelolaan Keuangan di 
Daerah. 

  Namun demikian saya ingin sampaikan sedikit koreksi untuk mas BTS. 
Berdasarkan Permendagri 13/2006 maupun Kepmendagri 29/2004 SILPA bisa 
dipergunakan untuk anggaran tahun berikutnya. Sehingga tidak perlu diendapkan 
satu tahun. Sedangkan BPD diikat dengan instrument Pelaksanaan Bank yg Prudent. 
Maka mewajibkan adanya beberapa persyaratan. Ini menjadikan BPD TIDAK BISA 
menyalurkan dana tanpa harus mengorbankan penilaian BI sebagai bank sehat. 

  Persyaratannya adalah : colateral, batas kemampuan pinjaman (L3), kelayakan 
usaha. Masalahnya adalah bahwa UMKM cenderung kegiatan yg bersifat informal dan 
miskin terhadap penyiapan colateral maupun proyeksi keuangan. Mereka dalam 
kenyataannya bahkan tidak tahu yang namanya pembukuan (yg menjadi syarat 
perbankan). Artinya disini adalah bahwa tidak terdapat pembedaan pelayanan 
perbankan bagi masyarakat kecil (baca:UMKM). Tidak usah jauh2 dulu Pemerintah 
Pusat pernah mencanangkan dana bantuan UMKM dg menggunakan 5% dari sisa 
keuntungan BUMN. Hasilnya terkumpul 24T. Ternyata waktu mau disalurkan, banyak 
prasyarat yg harus dipenuhi... akhirnya yang terserap kurang dari 20% dari dana 
tersebut. Disini yg kita hadapi adalah masyarakat yg bahkan belum memiliki 
NPWP, tidak mengenal atau takut dengan instrument perbankan besar (mereka sudah 
akrab dengan BPR/bank klithikan), apalagi segala hal yg canggih2 seperti 
manajemen, pembukuan dlsb. 

  Sebenarnya untuk menggunakan dana bagi kemajuan UMKM tersebut bisa 
menggunakan beberapa pendekatan :

  Menyalurkan melalui pengadaan program secara langsung. Namun hal ini akan 
bertabrakan dengan peraturan bahwa pemerintah daerah tidak boleh berfungsi 
sebagai lembaga keuangan. Untuk itu yg dilaksanakan adalah dengan sistem dana 
bergulir. Hal ini dapat masuk di APBD sebagai program utuh. Untuk melaksanakan 
itu bisa dipungut fee pengelolaan yg bisarnya antara 2-4% ini untuk menjalankan 
operasional lembaga tersebut.

  Bekerja sama dengan BANK2 dan menurut saya yg paling cocok adalah bank 
MUAMALAT dengan pendekatan, pemda memasukkan X rp sebagai colateral dan tidak 
diambil bunganya sama sekali atau diambil dengan bunga sangat rendah. Pihak 
bank tersebut menyalurkan dana sebesar 3X. Ini sudah pernah dicoba di DIY dan 
berhasil bagus. Problem adalah bahwa program tersebut menciptakan pertanyan 
dari BPK tentang akutansi perbankan krn mereka menganggap pemda mengambil bank 
yag salah sehingga hanya mendapatkan bunga rendah. Memang setelah dijelaskan 
mereka memaklumi, tetapi ini menciptakan pekerjaan tambahan. Bunga ke 
masyarakat adalah sekitar 10%.

  Kerjasama dengan BUMN Perum Sarana, ini dalam rangka penjaminan dan ini akan 
menekan biaya resiko di BPD sehingga BPD hanya menjadi chanelling (ini persis 
seperti yg diuraikan oleh mas BTS). Untuk itu dana penjaminan sebesar 0,25% 
dari besar pinjaman. 

  Tetapi semua itu membutuhkan adanya kemauan pemerintah daerah untuk membuat 
suatu adhoc team yang menangani hal tersebut.

  Pengalaman di DIY, ternyata tingkat bad debt dg program2 tersebut adalah 
0,15%. Hal inipun terjadi akibat adanya gempa yg lalu. Bahkan ada satu program 
yang justru pengembaliannya lebih cepat dibandingkan dengan persyaratan 
perbankan.

  Selamat mencoba.

  Salam

  bambang sp







------------------------------------------------------------------------------
  Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 

   

Kirim email ke