Mas Aunur dan mas BTS ysh,

Saya bermimpi untuk Indonesia karena ternyata di Jogja program ini bisa 
berjalan. Saya yakin dengan equal political will pasti juga bisa jalan. 

Tentang mengapa bukan BPD. Dengan segala hormat (maaf bila ada teman BPD yang 
baca) BPD cenderung cenderung berfungsi sebagai bank yang sangat konservatif. 
Selama 5 tahun berturut-turut BPD DIY selalu berada dalam 5 besar bank tersehat 
di Indonesia. Masalahnya :

1. BPD cendrung menyalurkan kreditnya ke PNS yang dia yakin dapat mengontrol 
pengembaliannya (bisa langsung potong gaji.  Sedangkan untuk menghadapi 
pengusaha luar cenderung sangat enggan memberi kredit. Akibatnya NPL menjadi 
sangat rendah. Tetapi dampak bagi pengembangan ekonomi rakyatnya nol besar.

2. BPD cenderung menyalurkan dananya ke SBI sebagai instrumentnya karena 
tingkat resikonya sangat rendah. Hal ini dapat terjadi pada saat melakukan 
manajemen arus kas. Ini semakin menyebabkan pembangunan daerah yg lebih rendah 
lagi.

3. BPD cenderung melayain kredit lainnya yg sebenarnya berbahaya seperti 
anggota dprd dan pejabat2 lain karena mereka takut. In sebenarnya menggoyahkan 
posisi prudent banking system. Perhatikan saja, setiap habis pemilu maka BPD 
akan segera sowan ke anggota dprd yang baru dan menyediakan kredit investasi. 
Apakah anggota dprd melakukan investasi atau tidak dialah yang ditawari.

Kondisi inilah yang membuat saya sangat tidak senang dengan BPD tersebut.

Demikian mas Aunur

salam

bambang sp

Kirim email ke