Sekedar berbagi pengalaman, sebuah lembaga yang hendak membantu rekonstruksi pasar di Aceh memutuskan untuk memberi bantuan kepada pasar tradisional. Bukan pasar besar yang diterjemahkan bukan pasar grosir dan semacamnya. Untuk menanggapi Pak Risfan, iya, ada yang mau membangun pasar tradisional. Sayangnya harus ada kasus tsunami dan gempa dulu. Pembangunan ulang ini dilakukan dengan konsep pasar sehat. Dari 15 yang direkomendasikan, sudah 5 pasar tradisional dibangun kembali. Tidak menjadi besar, ini pasar-pasar kecil, kok. Tetapi diberi fasilitas watsan yang lebih baik, ini salah satunya saja. Pada waktu menyusun baseline, karena kasus spesifik ACEH, ya tidak lihat RTRK dan RDTRK, tapi melihat rencana BRR dan juga Dinas Pasar (tidak ada PD Pasar seperti di Jakarta), kemudian diskusi dengan kepala wilayah (bupati/ walikota), dinas perindag, dispenda. Ada beberapa yang sudah hancur dibangun ulang persis di lokasi yang sama atau bergeser, tetapi ada beberapa yang selama ini masih berupa embrio pasar (barangkali seperti yang Agus lihat di dekat Meruya situ) memang faktor-faktor lain memenuhi syarat untuk dijadikan pasar tradisional dengan bangunan semi permanen. Sebagian besar, pasar ikan (lihat http://www.chfindonesia.org/index.php?option=com_content <http://www.chfindonesia.org/index.php?option=com_content&task=view&id=53&It emid=9> &task=view&id=53&Itemid=9 ) Saya pikir kebutuhan untuk pasar tradisional tetap ada, kok, dan tetap harus bisa terakomodir di rencana tata ruangnya. melly
_____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Benedictus Dwiagus Sent: Wednesday, January 09, 2008 2:14 PM To: 'Benedictus Dwiagus'; [email protected] Subject: RE: [referensi] Info : Perpres Pasar Modern (PERPRES No. 112 tahun 2007) -----maaf ada kalimat yang belum selesai di email sebelumnya---- Iya juga yah, pak. Tapi kembali ke isi perpres itu, Pasar Traditional didefinisikan sebagai Pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemda, swasta atau joint yang isinya usaha kecil menengah,. Jadi penekannanya pasar tradisional itu sepertinya penekanannya pada siapa pelaku pasar di dalam pasar itu,.. Kalau UKM, pedagang kecil,.. sudah dianggap pasar tradisional,... mungkin pasar yang tradisional belum jadi pasar tradisional kalau belum pengelolanya,.. atau masih dikelola oleh preman, huehehehhe Sepertinya kemungkinananya ada dua: bisa saja Pasar Tradisional ini dibangun , to be built from nothing, ... atau pasar yang dibangun (dikembangkan) dari pasar yang tadinya terbentuk secara alami... Pernah suatu hari, saya mengunjungi orang tua saya di Meruya Selatan, dan ketika itu hari Rabu malam, saya seperti biasa mengendarai mobil, masuk ke jalan masuk ke daerah rumah orangtua saya, saya dikejutkan dengan keramaian pedagang sepanjang jalan (yang hanya selebar 6-7 meter), dengan para pembelinya yang berkerumun. Dan saya harus mengendarai mobil 0.5 km per jam melewati kerumunan itu, berebut ruang dengan mereka, skedar melewati mereka. Rupanya tiap Rabu malam, jalan sesempit itu telah disepakati menjadi pasar kaget mingguan, tempat orang berdagang apa saja. Saya takjub juga bisa ada inisiatif seperti itu di tempat sekecil itu, memberikan ruang sementara di jalan untuk kegiatan pasar ... Saya jadi penasaran, nanti mau dibawa ke mana inisiatif ini, mau dikembangkan jadi pasar kah? Memang keliahatannya pasar tradisional yang masih bisa bertahan adalah yang pasar yang punya sejarah panjang,dan agak specialized,..seperti pasar burung, pasar ikan, dan pasar bunga di Jalan Barito, yang menggiring saya pada memori ketika masih TK sampai SMP selalu lewati setiap hari samapi ke Pasar Mayestik tempat saya menunggu metromini,.. Salam B. Dwiagus S. bdwiagus.blogspot.com Planning: Much works remain to be done before we can announce our total failure to make any progress ,... _____

