Pak Wawo ysh, Sebenarnya saya tidak terlalu memusingkan masalah profesi ini, dan juga sebenarnya tidak diurai secara mendalam oleh Shariati. Saya coba hubungkan dan kembangkan sesuai dengan aliran diskusi kita. Memang ada hal yang menggelitik pada waktu itu ketika Shariati mengurai hal yang paling mendasar dari profesi petani (Qabil/Cain) dan terbentuknya psikologi profesi seperti itu. Untuk dicatat bila terbentuknya profesi itu bermula dari kehampaan makna mula hidup manusia di dunia, hingga sampai menjadi suatu pilihan. Dan ketika profesi itu harus dijalani, secara perlahan dan tidak disadari kita terperangkap <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4624> dalam batasan-batasan tertentu. Sebagai contoh, seperti kontemplasi saya pernah diungkap 4 tahun yang lalu, pada link ini <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/272> .
Pemaknaan profesi memang perlu kita perjelas sesuai saran bapak. Namun perlu kita waspadai bila 'psikologi profesi' seperti telaah Shariati hanya akan menghasilkan 'katak-katak rebus' <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4624> . Yang kualitasnya seperti bapak pernah ibaratkan <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/373> , bagai melempar kayu ke kandang ayam. Atau lebih baik kita meneruskan mimpi-mimpi kecil kita, seperti yang selalu dihimbau Pak Abim. Demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Eka, > Sekaligus terima kasih karena dengan demikian saya sudah masuk kembali dalam lipatan-lipatan darei mailing list ini, sebetulnya masih tetap agak misterius, Pak Aby telah berjasa untuk menlusuri benang diskussi khusus terhadap pariwisata dan (trans)migrasi itu. Jawaban yang saya berikan rada panjang lebar juga tentang pasar tradisional, cuma saya engga sadar itu melalui jaringan pribadi Pak Aby, jadi kelihatannya engga masuk dalam milis, tapi betul saya belum mengerti soal-soal ini. Namun saya lihat Eka sudah menanggapi the "oldest profession" , jadi ini jelas sudah terbuka (kecuali mungkin soal pasar tradisional yang saya bahas rada teknis lah. > Kalau 'professi tertua' memang terbatas oleh pengertian professi, sedangkan tertua sih mudah saja secara historis bisa ditelusuri. Tetapi apa yang sebenarnya kita artikan dengan professi, to profess, dan kini yang dinamakan 'professional' . Kalau tidak salah saya anggaqp 'professi' adalah suatu bidang kegiatan yang memang memerlukan suatu skill atau keahlian, walaupun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa yang penting adalah nilai jasa kegiatan ini yang juga dapat dibeli, jadi professi yang tidak memberi balas jasa itu bukan professi, katakan saja jasa suka rela atau filantropis. Memang pandangan inilah yang menyebabkan definisi 'pelacuran' sebagai the oldest profession. > Di lain pihak memang usaha-usaha domestication berburu beternak dan memetik buah sampai pertanian dan bioteknologi secara simplistis dianggap professi, ok tapi disini pun penilaian balas jasa atau kompensasi relatip baru. ok mungkin para antropolog ekonomi atau pak BTS bisa berikan pencerahan. kendati uang pun merupakan suatu penemuan yang relatip baru. dalam sejarah manusia. > Pak Aby kelihatannya bangsa Indonesia sekarang harus menyiapkan lagi suatu cara atau protokol penghormatan terakhir kepada seorang bekas presidennya. Untuk ini juga ada professi mungkin. Salam Pak Wawo. > > Eka kalau tidak salah ada dua buku karangan wanita Islam, yang pertama dari Naema Tahir (mungkin masih dalam bahasa Belanda) dan yang kedua dari Nadia Fadil seorang sosiolog di Leuven. Coba barangkaliu bisa ditelusuri. Ini cuma saya lihat di televisi.

