Pak Wawo dan Referensiers ysh, Sedikit menyambung pembicaraan terdahulu, karena ada kesepahaman mengenai `psikologi profesi', saya ingin menyampaikan preposisi bila pada suatu ketika kita juga akan terjebak ke dalam `ideologi'; atau patutkah penghayatan secara intens terhadap perilaku profesi juga membangun dan membentuk pemikiran tertentu dan sikap tertentu yang sampai pada suatu masa sulit untuk digoyahkan?
Sebagai contoh dengan kasus Qabil sang Petani, demi menjaga tanaman akan membangun pagar dan membentuk ruang tertentu yang harus dibela dan dipertahankan dari berbagai serangan dan gangguan. Secara tidak langsung, sebagaimana maksud Shariati, adalah mula terbentuk `jiwa memiliki (ruang)'. Sebagai ideologi merupakan hasrat untuk `memiliki seluas-luasnya' hingga mengeliminir sebesar mungkin serangan dan gangguan. Saya sedikit terpengaruh dengan buku `Tuanku Rao' karya Parlindungan, yang menceritakan ikhwal pergerakan masyarakat Batak ke selatan dengan `bakar-bakar' dan `serang-serang' sekedar mencari lokasi tanaman ketela pohon yang lebih baik dan banyak. Secara umum, tidak hanya petani, setiap profesi akan melahirkan `ideologi'nya sendiri, sampai ke batas-batas kemampuan. Atau melewati hukum insan sendiri, seperti, kasus pembunuhan manusia pertama itu. Mungkin benar peringatan `homo homini lupus', manusia itu serigala bagi manusia lainnya. Sehingga diberlakukanlah `hukum', karena potensi kerusakan sesama manusia itu memang besar. Dalam kaitan profesi kita mengenal sebagai `kode etik' atau etika profesi (khusus untuk profesi perencana rasanya belum ada/terumuskan dan tidak diajarkan, tetapi `lembaganya' ada). Saya teringat dengan anekdot profesi pengacara: bila klien terbukti bersalah maka akan diperjuangkan untuk diringankan hukumannya; bila terbukti kesalahan itu kecil maka akan diperjuangkan untuk dapat bebas dari hukuman; bila terbukti tidak bersalah maka akan diperjuangkan untuk menuntut balik atau mendapatkan ganti rugi, dst. Dari profesi ke psikologinya berlanjut dengan profesi ke ideologinya. Habil vs Qabil, dari aspek profesi, berlanjut kepada `jiwa memiliki', menurunkan dua ideologi besar dunia: sosialisme/komunisme vs kapitalisme; apakah bisa dipandang begitu? Mohon pandangan untuk mencerahkan. Untuk jadwal ke Ternate, kita lihat minggu depan pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Eka, pertama terima kasih untuk tanggapan yang sebetulnya juga sudah mulai mendalam, apalagi kalau sudah pendalaman (terjadinya ) psikologi professi (petani), hal ini jelas juga tidak saya ingin perdebatkan, tapi mohon maaf akan kealpaan saya, rupanya Shariati itu memang seorang penulis, atau suatu tulisan buku utama. Barangkali saya masih cukup polos atau naive sehingga sukar terperangkap sebagai katak rebus, tapi yah bisa saja. Kalau sekarang saya kira saya lebih terbawa daripada terperangkap, apalagi kalau saya mengikuti diskussi-diskussi di televisi BVN (belanda belgi dan flemish) wawancara intelektual islam seperti Naema Tahir dan Nadia Fadil, saya sungguh masih bisa terbawa. > Di lain pihak saya juga tergugah dengan prakarsa museum tsunami di banda aceh, seperti di posting oleh rekan vebry muamar dalam kaum Pandan Tikar nya. Saya baru mau coba baca lebih seksama , masalah museum frictionsnya. Barangkali kebetulan juga karena saya lagi mikir untuk 'bikin' semacam museum utk planologi itb, tapi pasti engga bisa sampai ber milyar rupiah. > Ngomong-ngomong akhir Januari ini saya akan ke Ternate lagi, mau ketemu seorang Belanda yang juga bangun renovasi Arsip Nasional Jakarta dan banyak lain lagi. Segitu dulu deh. Pak Wawo. > > > ----- Original Message ---- > From: ekadj08 [EMAIL PROTECTED] > To: [email protected] > Sent: Saturday, January 12, 2008 8:59:05 AM > Subject: [referensi] genesis - Re: ProfesiTertua Didunia > > Pak Wawo ysh, > Sebenarnya saya tidak terlalu memusingkan masalah profesi ini, dan juga sebenarnya tidak diurai secara mendalam oleh Shariati. Saya coba hubungkan dan kembangkan sesuai dengan aliran diskusi kita. Memang ada hal yang menggelitik pada waktu itu ketika Shariati mengurai hal yang paling mendasar dari profesi petani (Qabil/Cain) dan terbentuknya psikologi profesi seperti itu. Untuk dicatat bila terbentuknya profesi itu bermula dari kehampaan makna mula hidup manusia di dunia, hingga sampai menjadi suatu pilihan. Dan ketika profesi itu harus dijalani, secara perlahan dan tidak disadari kita terperangkap dalam batasan-batasan tertentu. Sebagai contoh, seperti kontemplasi saya pernah diungkap 4 tahun yang lalu, pada link ini . > Pemaknaan profesi memang perlu kita perjelas sesuai saran bapak. Namun perlu kita waspadai bila 'psikologi profesi' seperti telaah Shariati hanya akan menghasilkan 'katak-katak rebus' . Yang kualitasnya seperti bapak pernah ibaratkan , bagai melempar kayu ke kandang ayam. Atau lebih baik kita meneruskan mimpi-mimpi kecil kita, seperti yang selalu dihimbau Pak Abim. > Demikian dulu pak. Salam. > -ekadj > > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ ...> wrote: > > > > Eka, > > Sekaligus terima kasih karena dengan demikian saya sudah masuk kembali dalam lipatan-lipatan darei mailing list ini, sebetulnya masih tetap agak misterius, Pak Aby telah berjasa untuk menlusuri benang diskussi khusus terhadap pariwisata dan (trans)migrasi itu. Jawaban yang saya berikan rada panjang lebar juga tentang pasar tradisional, cuma saya engga sadar itu melalui jaringan pribadi Pak Aby, jadi kelihatannya engga masuk dalam milis, tapi betul saya belum mengerti soal-soal ini. Namun saya lihat Eka sudah menanggapi the "oldest profession" , jadi ini jelas sudah terbuka (kecuali mungkin soal pasar tradisional yang saya bahas rada teknis lah. > > Kalau 'professi tertua' memang terbatas oleh pengertian professi, sedangkan tertua sih mudah saja secara historis bisa ditelusuri. Tetapi apa yang sebenarnya kita artikan dengan professi, to profess, dan kini yang dinamakan 'professional' . Kalau tidak salah saya anggaqp 'professi' adalah suatu bidang kegiatan yang memang memerlukan suatu skill atau keahlian, walaupun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa yang penting adalah nilai jasa kegiatan ini yang juga dapat dibeli, jadi professi yang tidak memberi balas jasa itu bukan professi, katakan saja jasa suka rela atau filantropis. Memang pandangan inilah yang menyebabkan definisi 'pelacuran' sebagai the oldest profession. > > Di lain pihak memang usaha-usaha domestication berburu beternak dan memetik buah sampai pertanian dan bioteknologi secara simplistis dianggap professi, ok tapi disini pun penilaian balas jasa atau kompensasi relatip baru. ok mungkin para antropolog ekonomi atau pak BTS bisa berikan pencerahan. kendati uang pun merupakan suatu penemuan yang relatip baru. dalam sejarah manusia. > > Pak Aby kelihatannya bangsa Indonesia sekarang harus menyiapkan lagi suatu cara atau protokol penghormatan terakhir kepada seorang bekas presidennya. Untuk ini juga ada professi mungkin. Salam Pak Wawo. > > > > Eka kalau tidak salah ada dua buku karangan wanita Islam, yang pertama dari Naema Tahir (mungkin masih dalam bahasa Belanda) dan yang kedua dari Nadia Fadil seorang sosiolog di Leuven. Coba barangkaliu bisa ditelusuri. Ini cuma saya lihat di televisi.

