Eka,  pertama terima kasih untuk tanggapan yang sebetulnya juga sudah mulai 
mendalam, apalagi kalau sudah pendalaman (terjadinya ) psikologi professi 
(petani), hal ini jelas juga tidak saya ingin perdebatkan, tapi mohon maaf akan 
kealpaan saya, rupanya Shariati itu memang seorang penulis, atau suatu tulisan 
buku utama. Barangkali saya masih cukup polos atau naive sehingga sukar 
terperangkap sebagai katak rebus, tapi yah bisa saja. Kalau sekarang saya kira 
saya lebih terbawa daripada terperangkap, apalagi kalau saya mengikuti 
diskussi-diskussi di televisi  BVN (belanda belgi dan flemish) wawancara 
intelektual islam seperti Naema Tahir dan Nadia Fadil,  saya sungguh masih bisa 
terbawa. 
Di lain pihak saya juga tergugah dengan prakarsa museum tsunami di banda aceh, 
seperti di posting oleh rekan vebry muamar dalam kaum  Pandan Tikar nya. Saya 
baru mau coba baca lebih seksama , masalah museum frictionsnya.  Barangkali 
kebetulan juga karena saya lagi mikir untuk 'bikin' semacam museum utk 
planologi itb, tapi pasti engga bisa sampai ber milyar rupiah. 
Ngomong-ngomong akhir Januari ini saya akan ke Ternate lagi, mau ketemu seorang 
Belanda yang juga bangun renovasi Arsip Nasional Jakarta dan banyak lain lagi. 
Segitu dulu deh. Pak Wawo. 


----- Original Message ----
From: ekadj08 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, January 12, 2008 8:59:05 AM
Subject: [referensi] genesis - Re: ProfesiTertua Didunia

Pak Wawo ysh,
Sebenarnya saya tidak terlalu memusingkan masalah profesi ini, dan juga 
sebenarnya tidak diurai secara mendalam oleh Shariati. Saya coba hubungkan dan 
kembangkan sesuai dengan aliran diskusi kita. Memang ada hal yang menggelitik 
pada waktu itu ketika Shariati mengurai hal yang paling mendasar dari profesi 
petani (Qabil/Cain) dan terbentuknya psikologi profesi seperti itu. Untuk 
dicatat bila terbentuknya profesi itu bermula dari kehampaan makna mula hidup 
manusia di dunia, hingga sampai menjadi suatu pilihan. Dan ketika profesi itu 
harus dijalani, secara perlahan dan tidak disadari kita terperangkap  dalam 
batasan-batasan tertentu. Sebagai contoh, seperti kontemplasi saya pernah 
diungkap 4 tahun yang lalu, pada link ini .
Pemaknaan profesi memang perlu kita perjelas sesuai saran bapak. Namun perlu 
kita waspadai bila 'psikologi profesi' seperti telaah Shariati hanya akan 
menghasilkan 'katak-katak rebus' . Yang kualitasnya seperti bapak pernah 
ibaratkan , bagai melempar kayu ke kandang ayam. Atau lebih baik kita 
meneruskan mimpi-mimpi kecil kita, seperti yang selalu dihimbau Pak Abim.
Demikian dulu pak. Salam.
-ekadj

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Hannie Waworoentoe <waworoentoehannie@ ...> 
wrote:
>
> Eka,
> Sekaligus terima kasih karena dengan demikian saya sudah masuk kembali dalam 
> lipatan-lipatan darei mailing list ini, sebetulnya masih tetap agak 
> misterius, Pak Aby telah berjasa untuk menlusuri benang diskussi khusus 
> terhadap pariwisata dan (trans)migrasi itu. Jawaban yang saya berikan rada 
> panjang lebar juga tentang pasar tradisional, cuma saya engga sadar itu 
> melalui jaringan pribadi Pak Aby, jadi kelihatannya engga masuk dalam milis, 
> tapi betul saya belum mengerti soal-soal ini. Namun saya lihat Eka sudah 
> menanggapi the "oldest profession" , jadi ini jelas sudah terbuka (kecuali 
> mungkin soal pasar tradisional yang saya bahas rada teknis lah. 
> Kalau 'professi tertua' memang terbatas oleh pengertian professi, sedangkan 
> tertua sih mudah saja secara historis bisa ditelusuri. Tetapi apa yang 
> sebenarnya kita artikan dengan professi, to profess, dan kini yang dinamakan 
> 'professional' . Kalau tidak salah saya anggaqp 'professi' adalah suatu 
> bidang kegiatan yang memang memerlukan suatu skill atau keahlian, walaupun 
> ada juga pendapat yang mengatakan bahwa yang penting adalah nilai jasa 
> kegiatan ini yang juga dapat dibeli, jadi professi yang tidak memberi balas 
> jasa itu bukan professi, katakan saja jasa suka rela atau filantropis. Memang 
> pandangan inilah yang menyebabkan definisi 'pelacuran' sebagai the oldest 
> profession. 
> Di lain pihak memang usaha-usaha domestication berburu beternak dan memetik 
> buah sampai pertanian dan bioteknologi secara simplistis dianggap professi, 
> ok tapi disini pun penilaian balas jasa atau kompensasi relatip baru. ok 
> mungkin para antropolog ekonomi atau pak BTS bisa berikan pencerahan. kendati 
> uang pun merupakan suatu penemuan yang relatip baru. dalam sejarah manusia. 
> Pak Aby kelihatannya bangsa Indonesia sekarang harus menyiapkan lagi suatu 
> cara atau protokol penghormatan terakhir kepada seorang bekas presidennya. 
> Untuk ini juga ada professi mungkin. Salam Pak Wawo. 
> 
> Eka kalau tidak salah ada dua buku karangan wanita Islam, yang pertama dari 
> Naema Tahir (mungkin masih dalam bahasa Belanda) dan yang kedua dari Nadia 
> Fadil seorang sosiolog di Leuven. Coba barangkaliu bisa ditelusuri. Ini cuma 
> saya lihat di televisi. 




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke