Pak Roos,
Wah Plano-50 ya.
Ini bisa mulai dari self-critic. Iya, tapi apa ndak bosen main kritik terus.
Kayaknya sudah 10 tahun era kritik berjalan. Ndak ada hasil. Muter-muter terus.
Paling-paling cari kambing hitam, menyalahkan masa lalu, menyalahkan.......
Lha wong Republik Mimpi saja sudah di tutup kok....sudah kehilangan
substansi.....yang tinggal cuma olok-olok.
Mungkin kita perlu pakai semboyan rocker El-Pamas (Elek-elek ngene arek
Pandaan, Mas!!!) - alias: "Jelek-jelek gini gue Planner...lo mau ape?!"
Bahasa sopannya mungkin pakailah pendekatan sejenis Appreciative Inquiry
misalnya. Metode yang biasa dipakai di dunia korporasi ini belakangan dipakai
juga di dunia pendampingan komunitas. Intinya adalah memberikan alternatif dari
mindset "mengidentifikasi persoalan" kepada mindset "menggali potensi".
Gimanapun sejarah Planning atau Planner (dari 1959) di Indonesia ini telah
mencatat banyak hal, kontribusi, achievement, termasuk juga prestasi menempati
beberapa posisi strategis dalam proses pembangunan. Ini perlu diidentifikasi,
disyukuri, lalu dicari 'key success factor (KSF)' nya, supaya dapat ditarik
pelajaran untuk ke depan.
Pendekatan yang dikembangkan oleh para psikolog industri dan sosial ini,
memang dimaksudkan untuk menghadapi situasi dimana 'problem solving' approach
sudah menjurus kepada menyalahkan dan mencari(cari) kesalahan, yang kebablasan.
Frustrasi yang berubah jadi olok-olok diri sendiri, "ludrukan" (Srimulat-an)
karena frustrasi yang dalam, setiap jalan keluar yang diusulkan terhadang
persoalan lain lagi. Sehingga perlu 'keluar dari kemelut.'
Pak Roos, lha kalo menyongsong Plano-50 kita masih Srimulatan terus.....Caape
deeeeh!
Prosedur dasar Appreciative Inquiry yang 4-D itu mungkin bisa dipakai untuk
memulai snowballing ide, materi menuju D-day Plano-50 tahun depan. 4-D itu
Discovery, Dream, Design, Destiny. Ya, urutannya seperti proses planning.
Tapi yang penting awalnya, Discovery hal-hal positip yang dipunyai, yang
dicapai (bukan analisis persoalan). Coba simak contoh daftar pertanyaan di
bawah:
Ceritakan awal mula Anda menekuni profesi/pekerjaan ini,
Ceritakan tentang "pengalaman terbaik" Anda dalam memimpin suatu tim/unit
kerja melakukan suatu perubahan positif,
Apa yang paling Anda hargai dari:
Diri Anda ...
Kepemimpinan Anda ...
Rekan kerja Anda
Unit kerja/organisasi Anda
Apa "faktor utama atau inti positif" yang melahirkan prestasi Anda yang
terbaik?
Apabila seluruh kekuatan, kapasitas, dan keunggulan Anda teraktualisasikan
maka sosok "idaman semacam apa yang terwujud?
Ini adalah contoh pertanyaan yang bisa kita kembangkan. Bukan untuk narsis,
memuja profesi sendiri, tetapi untuk menemukan 'key success factor' yang
penting untuk menyongsong masa depan pasca Plano-50, sesuai tantangan yang ada.
Bayangkan kalau pertanyaan itu kita ajukan kepada Pak Wawo, yang selain
perintis Jurusan Planologi ITB, juga Kepala Development Technology Center di
ITB. Kita tanyakan apa 'key success factor' beliau waktu itu memperkenalkan
jurusan baru, lembaga baru, yang tentu saja 'ideologi' baru teknologi tepat
guna, ramah lingkungan, bersama masyarakat, di kalangan para 'tukang insinyur.'
Ada pak Risman Maris, yang bersama pak Poernomosidhi, merintis pengembangan
permukiman transmigrasi. Apa puncak prestasi yang pernah dicapai dalam misi
itu. Apa KSF nyadalam menghadapi tantangan ini dan itu?
Kita sering mendengar wejangan 'belajar dari kesalahan', tapi menjelang
Plano-50 ini Pak Roos, apa ndak sebaiknya kita 'belajar dari keberhasilan'.
Kita identifikasi achievements, interview tokoh-tokoh (tidak harus pejabat
tinggi tentunya) yang membesarkan Plano, yang kiprahnya, idenya. Kita gali KSF
nya, kita jadikan kumpulan resep sukses bagi Planner masa kini.
Tentu bukan cuma Planner (orang)nya yang perlu diidentifikasi, yang lebih
penting adalah proses-proses yang melahirkan ide, mengembangkannya jadi konsep,
memobilisasi dukungan (dana, politis), dan melaksanakannya di lapangan.
Ada capaian DTC, Transmigrasi, RIK, RUTR, Rencana Struktur, Tata Ruang
Dinamis, NUDS, IUIDP, Perencanaan Daerah Tertinggal, Pengentasan Kemiskinan,
Kelautan, Pariwisata dan lainnya, juga kiprah planner di daerah seperti jadi
Sekda, Ka Bappeda, Ka Dinas Tata Kota, konsultan pembangunan (KP), LSM
advokasi...dst. Yang heibat, yang biasa, yang survival terus.....apa KSF nya
sebagai Die Hard (kok gak mati-mati juga). Semua digali sukses dan KSF nya.
Lalu ke depan maunya, impiannya apa? Rancangan strateginya bagaimana?
Pak Roos, selamat atas tugasnya yang berat ini.....
Salam,
Risfan Munir
Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagi saya, jawaban pak Risfan ini clean and clear hehehe....
Ceto welo-welo......
Saya setuju sepenuhnya.
Janganlah kita kemudian bingung sendiri.
Terlontar dalam salah satu pertemuan di Pine Forest hari sabtu lalu,
bahwa sangat suliy menyatakan bahwa suatu kota atau wilayah itu
baik/bagus karena planner (atau siapa plannernya), tetapi begitu kacau,
buruk, macet gusur sana dan gusur sini, maka selalu komentarnya
plannernya payah hehehe.....
Thanks pak Risfan.
Tapi kalau planner melakukan self-critic boleh lah pak.
Kalau ndak begitu tidak akan pernah maju hehehe....
Bukan menelanjangi diri sendiri lho (walaupun ada yang berpendapat
begitu karena disampaikannya di milis "umum").
Saya sengaja melemparkan kembali isu ini agar teman-teman terkait mulai
memikirkannya dalam rangka 50 Tahun Pendidikan Planologi di Indonesia
(yang kebetulan saya ketuanya). Silakan,
Salam,
Roos Akbar
Recent Activity
2
New Members
Visit Your Group
New business?
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.
Y! Messenger
Instant hello
Chat in real-time
with your friends.
How-To Zone
on Yahoo! Groups
Find garden, home
& auto groups.
.
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.