Wah, kenapa ya ilmu planning ini kok dipertanyakan terus. Terutama planner suka 
melakukan self-critic, atau saling berdebat.
   
  Kalau menurut saya sih, seperti kata BTS ilmunya sudah cukup, seperti doktrin 
tua "Folk-Place-Work" yang saya sampaikan berikut matriks nya saya posting 
beberapa waktu yang lalu. Jadi tidak benar kalau planning tidak 
mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, disamping fisik. 
   
  Tapi kalau saya amati memang ada banyak variasi versi atau pemahaman tentang 
planning, sesuai dengan misi dari instansi atau fungsi kerjanya. Ada yang bias 
ke fisik, ada yang bias ke ekonomi, atau sosial-ekonomi. Mungkin ada bias ke 
budaya, tapi ini sangat spesifik lokal ya. Namun perlu disadari (difahami) 
bahwa produk planning adalah 'public policy.' bukan seperti blue-print 'desain 
struktur bangunan.' nya insinyur sipil. Karena wilayah, kota, kawasan yang 
dibangun bukanlah milik negara, milik satu instansi/sektor, apalagi milik 
embahnya planner. Jadi mesti melalui konsultasi publik, persetujuan dewan, 
dst,dst
   
  Juga variabel ekonomi, sosial yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal, 
yang jelas sangat dinamis. Sehingga rencana fisik juga mesti difahami, seperti 
merencana 'rumah siput', sementara tubuh siputnya makin besar, mekar 
kesana-kemari. Meramal pertumbuhan dan perkembangan fisik kota, otomatis 
dasarnya prediksi arah, struktur laju pertumbuhannya kan variabel ekonomi dan 
sosial tersebut.
   
  Jadi ilmu perencanaan tata ruang itu bukan perencanaan berdasarkan mimpinya 
planner plus standar perencanaan, lalu kasak-kusuk penyusunan Perda untuk 
pengesyahan RUTR, lalu kerahkan Satpol PP untuk bongkar-sana sini, atau bangun 
sana-sini (duitnya siapa). 
  Sering ada beda pendapat antara siapa yang membangun 'perumahan'. Pihak 
pemerintah (pusat) selalu merencanakan untuk membangun rumah jumlah sekian, 
berdasarkan trend jumlah penduduk yang tidak punya rumah. Sehingga membutuhkan 
dana sekian, sekian. Tapi kadang lupa bahwa yang membangun rumah itu (yang ada, 
yang terjadi) sebagian adalah masyarakat sendiri, juga yang informal. 
   
  Hal ini menunjukkan masih ada beda versi pemahaman antar instansi tentang 
lingkup perencanaan, apakah itu rencana 'publik' yang dilaksanakan bersama 
antara pemerintah dan masyarakat serta swasta (sesuai demand masyarakat). UUPR 
misalnya menyebutkan bahwa pelaksanaan rencana melalui program-program 
(pemerintah). Seolah rencana itu memang rencana kerjanya pemerintah.
   
  Saran Pak Roos tentang penguatan basis data jelas perlu direalisasikan hingga 
tingkat daerah, tetapi sebaiknya kalau bisa ada perangkat lunak yang bisa 
membantu para Pemda untuk bisa memprediksi pertumbuhan. Bahwa data baru segitu, 
ya itu tantangan yang mesti diagendakan.
   
  Jadi menurut saya tentang ilmu planning, sudah lengkaplah, analisis fisik, 
geografis, eknomi, sosial dan strategic planning basisnya kuat. Sekali lagi 
'rencana' adalah produk public pilicy, bukan physical blue-print semata. Ada 
variasi pemahaman dalam hal terakhir ini, ada instansi yang menganggap rencana 
itu program lembaganya, ada yang menganggap itu domain publik yang kadang tidak 
dilaksanakan pemerintah, tapi perlu dikawal pelaksanaannya, dimonitor, 
dievaluasi.
   
  Kalau dibandingkan dengan ilmu teknik desain struktur jembatan, ya tidak se 
eksak itu lah. Desain arsitek saja hanya ampuh di tingkat rumah atau gedung, 
kalau skala site, apalagi urban desain, ya kalau bowheernya satu developer oke, 
tapi kalau tata bangunan, yah..... 
  Tapi kalau dibandingkan dengan ilmu ekonomi, ilmu perencanaan wilayah dan 
kota ini sebagai sesama public policy ya sebanding lah. Ada arahan, ada 
perdebatan, ada aliran dst.
   
  Pesan saya kepada anggota refernsiers ini, janganlah anda mambaca koran pagi, 
membaca puluhan kritik harisn untuk Pemerintah, kemudian anda menulis di milist 
ini dengan mengganti kata 'pemerintah' di koran itu, dengan kata 'planning' 
atau 'planner'. Planning ini kan ilmu tata ruang fisik + kebijakan publik yang 
biasa saja. 
   
  Apalagi jaman sudah berubah. Suatu rencana tidak otomatis terlaksana. Kita 
baca kan bahwa untuk melaksanakan rencana pembangunan beberapa ruas jalan tol 
saja, Menteri PU, Sekjen, Ditjen tiba-tiba perlu rame-rame menjadi 'ahli 
ekonomi transportasi' yang panjang lebar menjelaskan apa itu inflasi, 
perjalanan tukang sayur, dst, dsb. untuk meyakinkan publik. Ini adalah 
pertanda, seperti yang dikatakan BTS, hutang luar negeri negara sudah mencekik, 
kemampuan dana pembangunan terbatas, sehingga kemampuan (dana) swasta dan 
masyarakat mesti lebih diperhitungkan. Ini adalah perkembangan 'posisi' dari 
rencana yang dibuat pemerintah, yang perlu kian bergeser ke arah mendudukkan 
rencana sebagai public policy, yang mau tak mau memang perlu terbuka terhadap 
publik.
   
  Salam,
  Risfan Munir
  blog ecoplano
   
   
   
  
Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Bung Reintje. ..
   
  Apa yang Anda tulis tidak dangkal, justru sangat dalam. Ilmu tata ruang itu 
memang sangat menarik dan indah. Ilmu tata ruang itu tidak hanya menyangkut 3 
matra (sosial, ekonomi, dan ekologis), tetapi menurut Bung Abimanyu ada 2 matra 
lagi yaitu waktu dan kultur. Tapi itupun tak lengkap karena ada matra lagi 
yaitu perundangan. Bahkan matra ke-6 inipun tidak cukup tanpa ada komitmen 
tentang matra keuangan. Cukup? Tidak, karena tanpa matra manajemen atau 
organisasi atau kelembagaan juga tidak lengkap. Saya percaya masih ada 
matra-matra lain yang menggenapi.
   
  Apapun pada kenyataan memang produk tata ruang sampai sekarang belum efektif. 
Kelemahan masih kita temui di sana sini. Mulai dari konsep, proses, 
implementasi, dan koordinasi. Apa sebabnya produk tata ruang belum efektif? 
Banyak sebabnya. Anehnya, sampai sekarang belum ada studi komprehensif yang 
mengkaji mengapa produk tata ruang belum efektif. Kita cuma bisa menduga-duga 
saja sesuai dengan  kapasitas penilainya. Saya sebagai yang mendalami public 
finance pasti mengatakan bahwa kelemahan tata ruang karena tidak mengaitkan 
dengan penganggaran, seorang ekonom akan mengatakan bahwa kelemahan tata ruang 
kurang terkait dengan tujuan kesejahteraan. Lain lagi orang bisnis apakah tata 
ruang memberi nikmat keuntungan yang lebih tinggi dari rate pasar? Orang hukum 
akan bilang, "sampai sekarang belum ada yurisprudensi kalau mengingkari tata 
ruang ada yang dihukum". Ahli partisipasi masyarakat akan bilang bahwa kunci 
keefektifan tata ruang ada pada seberapa jauh komitmen masyarakat
 dan tanpa partsipasinya adalah "pepesan kosong" saja. Dan masih banyak lagi. 
Kasihan juga ilmu tata ruang koq dikuyo-kuyo, padahal ilmunya sendiri.. is a 
great! Sebetulnya bukan mau mengkuyo-kuyo, tapi sebaliknya ingin mendorong agar 
ilmu tata ruang yang produknya berupa planning itu benar-benar mangkus 
(efektif) dan populer. Tapi di antara pengolok-olok itu, saya tertarik pada 
sang ahli agraria. Menurut dia,..lho, rencana tata ruang itu khan di atas 
tanah. Di situ ada UUPA yang konon sangat keramat. Saya sendiri 
terhenyak....iya...ya,...dulu ketika belajar panning dari dosen dan buku-buku 
itu nggak nyebutkan apakah rencana itu di atas tanah Pemerintah atau di tanah 
masyarakat. Pokoknya ada peta...is fine! Padahal di atas tanah itu begitu 
banyak fatwa, begitu banyak persengketaan, dan tidak bisa semena-mena 
merencanakan di atas sesuatu yang karut marut. Dan itulah hasilnya tidak 
maksimal.
   
  Tapi para Planner harus berjuang dan optimis. "I know that someday....you 
want me to want you...." (Someday, by Ricky Nelson). Plannng bisa seperti VW 
Battle (kodok) yang disenangi banyak orang di seantero jagad. Untuk itu harus 
membuka diri untuk terus diperbaiki dan diperkembangkan. Sang pengritik tata 
ruang juga jangan disinisi, sebaliknya sang penyanjung tata ruang  tidak terus 
menjadi hero. Semua sama-sama cinta. Ayo.. ilmu tata ruang juga perlu update.
   
  Demikian Bung Reintje dan rekan milis semuanya.
   
  Thanks. CU. BTS.
   
    ----- Original Message ----- 
  From: Reintje Kawengian 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, January 22, 2008 6:53 PM
  Subject: [referensi] penataan ruang
  

    Wah, omongan tentang tata ruang  oleh bapak2/ibu2 menarik sekali, apalagi 
para beliau yang memang pakarnya.
Saya sendiri bukan ahli seperti para beliau-beliau, namun karena tugas mau 
tidak mau harus belajar atau memahami ttg hal ini. Jadi lebih banyak praktis 
saja.
Ketika Alm Prof Sugianto Sugioko ( Deputy V Bappenas - ketika itu ), kami 
omong2 ttg mana lebih dahulu disepakati, apakah kebutuhan manusia/masyarakat 
atau regulasi keruangan ? Yang pertama dinamis sifatnya, sementara yang kedua 
cenderung kaku.
Karena tugas saya, sering kali harus berhubungan dengan para ahli tata ruang 
untuk menyusun RTRW.  Rasanya ada yang hilang atau missing link sehingga 
akhirnya RTRW itu tidak efektif dan malahan cenderung tidak dihargai. Dalam 
proses pengolahan materi RTRW,  penetapan variabelnya sering diterima oleh 
stakeholders dengan "sungutan". Karena itu mereka cenderung melupakan saja  dan 
tetap ikut maunya saja ( " mata kuda" ). UU No. 26 Tah un 2007 itu sebetulnya 
mau pasang gigi ( dgn ancaman pidana ), akan tetapi proses penyusunan terutama 
analisanya  membuat " ancaman tsb bisa diabaikan ". Jadi soalnya dimana, dan 
bagaimana membuat agar RTRW ini dihargai.
Saya juga setuju jika ada diskusi tentang konsep kota, kemakmuran dan 
perkotaan, wilayah dan perkotaan. Rasa-rasanya argumen-argumen tentang tata 
ruang yang selama ini menjadi referensi perlu  direview kembali. Aspek sosial 
dalam analisa untuk mengatur ruang masih sangat lemah, sehingga teman2 ahli 
keruangan ( yg pernah diskusi dengan saya diwaktu lalu ) masih merasakan 
kesulitan. Soalnya adalah : bagaimana mengoperasionalkan variable sosial/budaya 
itu kedalam pengaturan ruang.  Hal ini sangat dibutuhkan pada wilayah yang 
dikuasai oleh sistim sosial/budaya  yang sifatnya communal  termasuk penguasaan 
secara communal atas asset alam !  Saya merasakan hal ini sebagai kebutuhan 
yang perlu dipikirkan atau didiskusikan agar bisa efektif dilaksanakan dan 
memenuhi kebutuhan masyarakat.
Mohon maaf, kalau terlalu sederhana  atau dangkal komentar saya ini, dan terima 
kasih banyak  atas berbagai komentar lebih lanjut.

Regards.
RV Kawengian.      
    
---------------------------------
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.   

  

                         

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke