Lho kok jadi tugas saya pak?
Tugas kita bersama pak.
Mohon maaf untuk yang bukan alumni PL-ITB,
Pada 2 kali pertemuan alumni PL ITB (di Kampus dan di Pine Forest) saya 
sudah menghimbau bahwa ini adalah gawe kita. Terakhir di Pine Forest 
himbauan ini ditanggapi serius oleh API dan HMP.

Secara umum, makanya saya lemparkan di milis referensi ini tentang 
beberapa hal untuk "melihat kebelakang dan kedepan" secara sekaligus.
Saya juga sudah terima masukan dari pak Wawo tentang wawancara dengan 
pelaku sejarah (mulai pra 59 dst).
Setuju dengan pak RM, memang bukan hanya melihat kebelakang pak, tetapi 
juga ke depan. Saya menyampaikan di Pine Forest, apa-apa saja yang 
merupakan karya planner (IUIDP kah? atau apa?).

Pak Bambang SP rasanya juga sudah diminta ya untuk mengcompile diskusi 
di milis referensi ini terkait dengan beberapa isu yang memang sengaja 
sauya lontarkan.
Sementara begitu dulu pak.
Thanks masukannya.
Ditunggu pendetailannya.

Salam,
RA

Risfan M wrote:
> Pak Roos,
> Wah Plano-50 ya.
> Ini bisa mulai dari self-critic. Iya, tapi apa ndak bosen main kritik 
> terus. Kayaknya sudah 10 tahun era kritik berjalan. Ndak ada hasil. 
> Muter-muter terus. Paling-paling cari kambing hitam, menyalahkan masa 
> lalu, menyalahkan.......
> Lha wong Republik Mimpi saja sudah di tutup kok....sudah kehilangan 
> substansi.....yang tinggal cuma olok-olok.
>  
> Mungkin kita perlu pakai semboyan rocker El-Pamas (/Elek-elek ngene 
> arek Pandaan, Mas/!!!) - alias: *"/Jelek-jelek gini gue Planner...lo 
> mau ape?!"/*
>  
> Bahasa sopannya mungkin pakailah pendekatan sejenis /*Appreciative 
> Inquiry*/ misalnya. Metode yang biasa dipakai di dunia korporasi ini 
> belakangan dipakai juga di dunia pendampingan komunitas. Intinya 
> adalah memberikan alterna! tif dari /mindset/ "mengidentifikasi 
> persoalan" kepada /mindset/ "menggali potensi".
>  
> Gimanapun sejarah Planning atau Planner (dari 1959) di Indonesia ini 
> telah mencatat banyak hal, kontribusi, achievement, termasuk juga 
> prestasi menempati beberapa posisi strategis dalam proses pembangunan. 
> Ini perlu diidentifikasi, disyukuri, lalu dicari /'key/ /success 
> factor /(KSF)' nya, supaya dapat ditarik pelajaran untuk ke depan.
>  
> Pendekatan yang dikembangkan oleh para psikolog industri dan sosial 
> ini, memang dimaksudkan untuk menghadapi situasi dimana 'problem 
> solving' approach sudah menjurus kepada menyalahkan dan mencari(cari) 
> kesalahan, yang kebablasan. Frustrasi yang berubah jadi olok-olok diri 
> sendiri, "ludrukan" (Srimulat-an) karena frustrasi yang dalam, setiap 
> jalan keluar yang diusulkan terhadang persoalan lain lagi. Sehingga 
> perlu 'keluar dari kemelut.'
>  
> Pak Roos, lha kalo menyongsong Plano-50 kita masih Srimulatan 
> terus...../Caape deeeeh!/
>  
> Prosedur dasar Appreciative Inquiry yang 4-D itu mungkin bisa dipakai 
> untuk memulai /snowballing/ ide, materi menuju D-day Plano-50 tahun 
> depan. 4-D itu Discovery, Dream, Design, Destiny. Ya, urutannya 
> seperti proses planning.
>  
> Tapi yang penting awalnya, Discovery hal-hal positip yang dipunyai, 
> yang dicapai (bukan analisis persoalan). Coba simak contoh daftar 
> pertanyaan di bawah:
>
>    1. Ceritakan awal mula Anda menekuni profesi/pekerjaan ini,
>    2. Ceritakan tentang "pengalaman terbaik" Anda dalam memimpin suatu
>       tim/unit kerja melakukan suatu perubahan positif,
>    3. Apa yang paling Anda hargai dari:
>          1. Diri Anda ...
>          2. Kepemimpinan Anda ...
>          3. Rekan kerja Anda
>          4. Unit kerja/organisasi Anda
>    4. Apa "faktor utama atau inti positif" yang melahirkan prestasi
>       Anda yang terbaik?
>    5. Apabila seluruh kekuatan, kapasitas, dan keunggulan Anda
>       teraktualisasikan maka sosok "idaman semacam apa yang terwujud?
>
> Ini adalah contoh pertanyaan yang bisa kita kembangkan. Bukan untuk 
> narsis, memuja profesi sendiri, tetapi untuk menemukan /'key success 
> factor'/ yang penting untuk menyongsong masa depan pasca Plano-50, 
> sesuai tantangan yang ada.
>  
> Bayangkan kalau pertanyaan itu kita ajukan kepada Pak Wawo, yang 
> selain perintis Jurusan Planologi ITB, juga Kepala Development 
> Technology Center di ITB. Kita tanyakan apa 'key success factor' 
> beliau waktu itu memperkenalkan jurusan baru, lembaga baru, yang tentu 
> saja 'ideologi' baru teknologi tepat guna, ramah lingkungan, bersama 
> masyarakat, di kalangan para 'tukang insinyur.'
>  
> Ada pak Risman Maris, yang bersama pak Poernomosidhi, merintis 
> pengembangan permukiman transmigrasi. Apa puncak prestasi yang pernah 
> dicapai dalam misi itu. Apa KSF nyadalam menghadapi tantangan ini dan itu?
>  
> Kita sering mendengar wejangan 'belajar dari kesalahan', tapi 
> menjelang Plano-50 ini Pak Roos, apa ndak sebaiknya kita 'belajar dari 
> keberhasilan'. Kita identifikasi achievements, interview tokoh-tokoh 
> (tidak harus pejabat tinggi tentu! nya) yang membesarkan Plano, yang 
> kiprahnya, idenya. Kita gali KSF nya, kita jadikan kumpulan resep 
> sukses bagi Planner masa kini.
>  
> Tentu bukan cuma Planner (orang)nya yang perlu diidentifikasi, yang 
> lebih penting adalah proses-proses yang melahirkan ide, 
> mengembangkannya jadi konsep, memobilisasi dukungan (dana, politis), 
> dan melaksanakannya di lapangan.
>  
> Ada capaian DTC, Transmigrasi, RIK, RUTR, Rencana Struktur, Tata Ruang 
> Dinamis, NUDS, IUIDP, Perencanaan Daerah Tertinggal, Pengentasan 
> Kemiskinan, Kelautan, Pariwisata dan lainnya, juga kiprah planner di 
> daerah seperti jadi Sekda, Ka Bappeda, Ka Dinas Tata Kota, konsultan 
> pembangunan (KP), LSM advokasi...dst. Yang heibat, yang biasa, yang 
> survival terus.....apa KSF nya sebagai /Die Hard/ (kok gak mati-mati 
> juga). Semua digali sukses dan KSF nya. Lalu ke depan maunya, 
> impiannya apa? Rancangan strateginya bagaimana?
>  
> Pak Roos, selamat atas tugasnya yang berat ini.....
>  
> Salam,
> *Risfan Munir*
>  
>  
>  
>  
>
> */Roos Akbar <[EMAIL PROTECTED]>/* wrote:
>
>     Bagi saya, jawaban pak Risfan ini clean and clear hehehe....
>     Ceto welo-welo......
>     Saya setuju sepenuhnya.
>
>     Janganlah kita kemudian bingung sendiri.
>     Terlontar dalam salah satu pertemuan di Pine Forest hari sabtu lalu,
>     bahwa sangat suliy menyatakan bahwa suatu kota atau wilayah itu
>     baik/bagus karena planner (atau siapa plannernya), tetapi begitu
>     kacau,
>     buruk, macet gusur sana dan gusur sini, maka selalu komentarnya
>     plannernya payah hehehe.....
>
>     Thanks pak Risfan.
>     Tapi kalau planner melakukan self-critic boleh lah pak.
>     Kalau ndak begitu tidak akan pernah maju hehehe....
>     Bukan menelanjangi diri sendiri lho (walaupun ada yang berpendapat
>     begitu karena disampaikannya di milis "umum").
>     Saya sengaja melemparkan kembali isu ini agar teman-teman terkait
>     mulai
>     memikirkannya dalam rangka 50 Tahun Pendidikan Planologi di Indonesia
>     (yang kebetulan saya ketuanya). Silakan,
>
>     Salam,
>     Roos Akbar
>
>     .
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! 
> Search. 
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping>
>  
>
> 
> ------------------------------------------------------------------------
>
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition. 
> Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.10/1241 - Release Date: 1/24/2008 
> 9:58 AM
>   


-- 
Salam,
Roos Akbar
Research Group in Urban Planning and Design
School of Architecture, Planning and Policy Development
Institute of Technology Bandung
email: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke