Om Samiadji ysh, Sebelum krismon (1996-1997), pernah ada rencana pengembangan semacam urban renewal dengan menggabungkan antara pengembangan kawasan dengan pendekatan properti dengan penanganan banjir dan pemukiman kembali komunitas bantaran sungai Ciliwung tersebut (termasuk kelompok Prof Lang dan konsultan dari New South Wales). (Kepada Prof Lang cs saya sampaikan bahwa rusun murah di atas sungai justru berpeluang menambah penigkatan samaph di sungai, dll). Dalam kajian tersebut terprediksi bahwa untuk menghindari banjir 100 tahunan, seluruh tepi Ciliwung perlu ditanggul paling kurang + 2 m. Meander yang jauh di bawah level banjir sukar diselamatkan, sehingga penduduk setempat perlu direlokasi ke rumah-rumah susun dimeander-meander yang lain yang lebih tinggi. Beberapa bagian sungai yang cenderung membendung aliran sehingga meningkatkan muka banjir diusulkan di luruskan. Mantan sungai bagian bawah menjadi bagian dari 'kantong-kantong air' yang dimanfaatkan saat debit air kurang, dan ruang diatasnya digunakan untuk kebutuhan lain. Aliran air dikendalikan dengan beberapa pintu air, sehingga selain ketinggian dan aliran air terkendali, juga dapat menjadi bagian dari wisata air sejak dari Selatan Jakarta. Pengembangan kawasan Ciliwung tersebut merupakan bagian dari kota baru Jatinegara berada di bagian sisi Timur Ciliwung, bagian dari ruang mantan sungai hingga ke Otista dll.
\Tentu saja pendekatan ini merupakan pekerjaan besar, jangka panjang, perlu pemerintahan yang kuat, dengan investasi yang besar pula. Dan sudah pasti konsep bahwa planner merupakan pengguasa penataan ruang sangat dominan. Saat itu kepada Wagub yang baru (mantan ketua Bappeda) waktu itu, saya identifikasikan (berdasarkan ramalan rekan valuer) bahwa ada kemungkinan pendekatan tersebut tidak jalan, terutama karena menurut perkiraan nilai rupiah akan semakin jatuh sampai ke bed-rock karena investasi berbasis properti cenderung gagal dan akan mempengaruhi ekonomi nasional. Recovery dapat lebih cepat (5 tahunan) kalau UU ttg property lebih cepat berlaku, juga asalkan tidak ada gerakan 'people power' seperti Philipina. Pak Wagub saat itu sempat bergurau bahwa ...'wah, kalau begitu saya menjabat pada saat yang sulit'.....ternyata yang terakhir yang terjadi.... Dari pembelajaran tersebut, saya semakin menyadari bahwa ada pendekatan sosial dan lingkungan yang perlu dijalankan disamping pertimbangan teknis keruangan, ekonomi dan kekuasaan (public-private partnership). Namun masalah permukiman di kawasan Cawang-Manggarai tersebut perlu dikembangkan secara lebih integratif dan strategis. Teori-teori ekonomi, sosial bahkan lingkungan secara makro mungkin perlu dikaji dan dikelola baik secara integratif (bahkan interdep) maupun secara inceremental, pertahap, sesuai proses pematangan masyarakat lokal, termasuk keberhasilan proses penyertaan mereka ke dalam kehidupan sosial-ekonomi baru yang dianggap lebih 'maju' (pengertian bersama, bukan droping) salam, Abimanyu 2008/5/5 Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>: > > Ysh. Bung abimanyu dan Bung Rachmad > > Bung Abimanyu, dugaan Anda tidak salah. Kampung Pulo itu di Bukit Duri, > termasuk Bidara Cina. > > Ide bangunan empat lantai yang dirancang LSM itu seperti rumah panggung, > ada pilar-pilarnya. Jadi kalau banjir tidak masuk ke lantai dasar. Tapi > repotnya ide dari LSM ini, bila direalisasikan dan terjadi banjir, maka ada > kewajiban pemda untuk supply logistik makanan, air bersih, obat-obatan, dsb. > Wuah repotnya! Atau mungkin disediakan kapal-kapal..wuah... berarti perlu > ada dermaga tambat..dsb. > > Bung Rachmad, di lokasi Kampung Pulo itu tidak ada dataran yang tinggi > sebagaimana yang Anda maksud. Kalaupun ada ya sudah ada bangunan (occupied), > atau ada yang punya. Jadi idea is fine, .... > > Thanks. CU. BTS. > > > ----- Original Message ----- > From: abimanyu takdir alamsyah > To: [email protected] > Sent: Monday, May 05, 2008 12:02 PM > Subject: Re: [referensi] Re: Banjir Tak Perlu Dilawan > > >

