Bang RM dan rekan-rekan ysh.,

Merubah mindset konon tidak gampang. You can teach old dogs new
tricks, and still it takes time. Untuk kasus 'old dogs' yang juga 'big
dogs' (baca: pusat-pusat perusahaan besar ataupun
kementerian/badan-badan negara lainnya), maukah mereka pindah ke
Sulawesi atau Kalimantan supaya pembangunan nasional lebih merata dan
tidak Jakarta centris terus-menerus walau sudah lama ada Otda? :)

Bisa habis energi se-Indonesia mengurusi banjir dan macet daerah
khusus ibukota ini, mengapa tidak dibiarkan saja masalah-masalah ini
jadi urusan Pak Fauzi Bowo, dkk. di Pemda DKI? :)

No offence, rekan-rekan, sekedar mengingatkan kembali bahwa ada tiga
puluhan provinsi lain yang butuh perhatian. :) Ini termasuk mengubah
mindset juga kan? :)

Salam persatuan,
Andri

On 5/6/08, Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya pikir memang perlu perubahan mindset yang ekstrim bagi para
> pengambil kebijakan publik. Tahun 1962 ketika keluarga saya berpindah
> dari Jl. Pantai Laut ke Jl. Brawijaya, jarak itu terasa jauh sekali.
> Banyak daerah-daerah kosong disekitar jalan Sudirman :-)
>
> Ketika tahun 1974 kembali saya menjejakkan kaki di Jakarta, di
> Tanjung Duren juga masih banyak rawanya. Tanah di kapling-kapling dan
> banyak pejabat DKI yang senang. Bisa beli kapling terus dijual lagi
> dengan harga yang berkali lipat. Demikian juga los-los pasar saat itu
> yang baru dikenal pengelolaan pasar oleh  PD. Pasar Jaya :-)
>
> Tahun 1990an saya masih jumpai daerah-daerah hijau yang dijadikan
> perumahan seperti di Jl. Wijaya :-).  Bahkan kuburan yang sebenarnya
> juga daerah hijau digusur dijadikan Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.
>
> Jadi kalau seperti dalam subject ini saya sarankan untuk menghijaukan
> saja dan menjadikan kolam besar pada saat banjir, ini tentu sama
> sekali tidak terpikirkan, wong kalau ada yang bisa dibangun terus
> langsung dibangun kok malah bikin hutan kota segala :-(
>
>
> Salam
>
> RM
>
>

Kirim email ke