Rekan2 ysh,

Kalau saya coba pelajari dari berbagai teori dan contoh kajian seperti
CSR, dan metode kualitatif lainnya, sejauh penangkapan saya ini
dimaksudkan untuk memahami lebih jauh, dan sifatnya sangatlah
deskriptif, empirik...Bahkan setahu saya paradigmanya juga
'mengharamkan' asumsi dan 'praduga' termasuk preskripsi. Dan, karena itu
berlaku di lingkungan yang terbatas.

Apa ini tidak kebalikan dengan paradigma berfikir dalam planning yang
sifat dari sananya  memang 'preskriptif', dan tidak terlalu empirik.
Atau ada titik temunya?

Salam,
Risfan Munir




--- In [email protected], Delik Hudalah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Halo Pak Eko,
> CSR memang bukan metode baru, mungkin maksud Pak Djarot dkk dengan
rencana diskusinya adalah semacam upaya 'pelurusan' kembali karena ada
indikasi beberapa mahasiswa telah kurang tepat dalam menginterpretasikan
dan menggunakan metode ini. Sebagaimana saya jelaskan terdahulu,
penggunaan metode ini dalam planning pun sudah cukup meluas. Hanya saja
peneliti planning kadang cenderung pragmatis; tidak selalu secara
eksplisit/ekstensif menyebutkan label CSR dalam metode riset mereka.
Contoh orang yang sangat eksplisit mengakui penggunaan (label) CSR
adalah Bent Flybjerg. Namun, sebagai sebuah diskusi mungkin baik-baik
saja, karena metode penelitian senantiasa berkembang.
>
> Salam,
>
> Delik
>
> --- On Tue, 8/12/08, Eko Budi KURNIAWAN [EMAIL PROTECTED] wrote:
> From: Eko Budi KURNIAWAN [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, August 12, 2008, 5:06 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot yth.,
>
> Terimakasih banyak atas sharing infonya Pak! Iya nih pak, saya memang
bingung dg namanya yg "case study research", karena research dlm bentuk
case study bukan hal yg aneh di berbagai ilmu sosial, karenanya saya
bertanya2 mengapa bapak dan mas Delik terkesan sangat excited, seakan2
ini hal yg baru...
>
> Masih ada satu hal yg saya belum mengerti, yakni ketika bapak bicara
ttg menempatkan "ruang" sebagai faktor yg diteliti yg sejajar dgn nilai
dan perilaku, bukankah bidang Human Geography merupakan bagian ilmu
sosial yg menempatkan "ruang" sejajar dengan berbagai dimensi lain yg
diteliti? atau maksud bapak dg "ruang" ini yg lebih mikro seperti
arsitektur?
>
> Atau...apakah ketertarikan bapak ini karena CSR sedang hangat2nya
digunakan di bidang Arsitektur? jadi maksud bapak bahwa CSR yg bapak
bicarakan sama saja metodenya dgn CSR yg biasa dilakukan di berbagai
disiplin ilmu sosial, hanya kali ini dilakukan di bidang terkait ruang,
yakni arsitektur dan planning, bukan begitu? tapi ini kembali pada
pertanyaan saya di atas bahwa kalau melakukan CSR yg memasukan "ruang"
sebagai dimensi yg diteliti, maka human geography sudah lama melakukan
itu...
>
> Bahkan terdapat juga beberapa peneliti yg tidak dlm kategori "arsitek,
planner, atau geograf", yg meneliti dgn metode CSR dg dimensi ruang yg
kental...saya ambil contoh Henri Lefebvre, ahli filsafat yg mengajar
sosiologi, yg menggunakan Paris sebagai case study utk menelurkan
teorinya ttg "production of space"... juga sosiolog murid Lefebvre yg
membantah beberapa teorinya: Manuel Castells yg menelurkan teorinya ttg
produksi dan konsumsi di kota dgn mengambil Paris (dan LA) sebagai case
study ... atau bahkan Foucault, sejarawan, yg dlm wawancara dgn jurnal
Herodote akhirnya mengakui pentingnya memasukan dimensi "ruang" dalam
studi ttg "knowledge" dan "power"...
>
> Dlm tradisi ilmu ekonomi klasik/neoklasik dan marxist/neo marxist di
berbagai negara barat, dimensi "ruang" memang sudah lama mengalami
"proses dihilangkan" atau dianggap tidak berarti... tapi di tahun 60-70
an, sekelompok neo marxian di Prancis seperti Lefebvre dan Castells,
memasukan dimensi "ruang"... dan tradisi pemikiran mereka dilanjutkan
oleh sekelompok geographers dan planners di UCLA, yakni Soja, Scott,
Storper... kalau Lefebvre dan Castells mengambil Paris sebagai CASE
STUDY, maka Soja dkk mengambil Los Angeles sebagai laboratorium. .. juga
oleh David Harvey yg mengambil berbagai lokasi sebagai case study...
>
> TAPI kalau kita tarik lebih jauhhhhh lagi , studi ttg society dan
ruang, terutama di kota, sudah lama juga dilakukan oleh Weber dan
Durkheim.... yg notabene bukan arsitek, planner, geograf atau
urbanist... dan setahu saya mereka menggunakan CSR...
>
> Nah mengetahui informasi di atas, saya menjadi agak bingung dengan CSR
yg bapak diskusikan.. .maksud saya,sekali lagi, sebagai methode CSR
sudah banyak dilakukan oleh berbagai peneliti ilmu sosial aliran
inductive dan (Kantian?) empiricist, juga sebagai methode yg digunakan
untuk membahas penelitian yg memasukan dimensi ruang juga sudah lama
dilakukan mulai dari Weber sampai Soja... lalu yg baru apanya ya? saya
bertanya2, jangan2 ini terjadi akibat disiplin ilmu sosial di beberapa
negara barat, terutama anglo-saxon dan turunannya (uh Itermasuk
ndonesia?), sudah sangat POSITIVIST, sehingga dlm kebosanan akan
positivism itu, ketika ada yg mengingatkan soal CSR, maka semua menjadi
gegap gempita seperti menemukan sesuatu yg baru....
>
> salam
> Eko.
>
>
>
> --- On Tue, 8/12/08, Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
> From: Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com>
> Subject: Re: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Tuesday, August 12, 2008, 4:31 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mas Eko, terima kasih atas responsnya.
>
> Begini mas, mungkin CSR yang biasa kita kenal memang banyak dilakukan
di ranah ilmu-ilmu sosial, tetapi dalam CSR yang ingin kita kembangkan
di Arsiugm itu ada bedanya dalam hal substansi. Lho bagaimana ? Kita di
kalangan ahli-ahli penataan ruang bisa menegaskan bahwa dalam rekayasa
keruangan selalu ada tiga unsur dasar yaitu RUANG - PERILAKU - NILAI.
Nah dalam ilmu-ilmu sosial, banyak dibincangkan soal Nilai dan Perilaku,
sementara aspek ruang tidak menjadi fokusnya. Nah, kita membahas
ketiganya dengan bobot yang sama. Jadi, meskipun CSR adalah sebutan
untuk obyek yang sama, menurut saya mesti ada perbedaannya karena
substansinya beda. Kami para arsitek (dan planner, teman-teman saya itu)
harus mengupas ketiganya dan melihat keteranyaman dari ketiganya secara
sangat intens dan mendalam. Labelnya bisa sama Mas, tetapi isinya
ternyat beda karena unsur pembentuknya berbeda seperti itu.
>
> Artinya, jika seorang antropolog atau sosiolog mengerjakan CSR tentu
ada bedanya yang cukup mendasar jika yang melakukan adalah seorang
planner atau arsitek untuk keperluan penataan ruang. Bedanya akan
terlihat pada proposalnya, pada aksi pengambilan data di lapangan,
sampai pelaporannya. Kira-kira begitu pandangan saya, yang masih juga
ada di pinggiran CSR. Saya tertarik sebab maunya ya memperluas gagasan,
sebab kata teman saya (mengutip seorang filsuf)...." jika yang anda
miliki hanyalah palu, maka semuanya akan terlihat sebagai
paku".....supaya lebih luas wawasannya dan lebih bisa memahami orang
lain dan karya-karyanya. ....begitu Mas !
>
> Sementara demikian, dan karena Prof A. Djunaedi ada acara ASPI di
Surabaya itu, kayaknya diskusi terbuka CSR diundur, mungkin sekitar
hari-hari setelah Lebaran....
>
> Salam,
> Djarot
>
> --- On Mon, 8/11/08, Eko Budi KURNIAWAN [EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
> From: Eko Budi KURNIAWAN [EMAIL PROTECTED] com>
> Subject: Re: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Monday, August 11, 2008, 8:21 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Djarot, Mas Delik yth.,
>
> mengenai CSR, bukankah berbagai disiplin dlm kategori ilmu sosial yg
bukan positivist, tetapi empiricist, inductive, memang biasanya
melakukan CSR? why did you make a fuss over something that's usually
done by many social scientists since long time ago? apakah CSR yg anda
berdua diskusikan tsb berbeda dgn yg biasanya digunakan? mohon sharing
informasinya, terimakasih. ..
>
> salam,
>
> Eko.
>
>
> --- On Mon, 7/28/08, Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
> From: Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com>
> Subject: Re: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Monday, July 28, 2008, 2:35 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Delik, soal kontemporer ya. Ini katanya sebuah terminologi kunci
dalam CSR. Mengapa ? Konon penggalian data cenderung dan sangat memihak
pada kualitatif, bukan data kuantitatif. Diskusi terakhir kami
menegaskan bahwa nara sumber primer harus masih hidup agar fenomena
kontemporer tersebut dapat digali data kualitatifnya secara sangat
mendalam. Oleh karenanya, jika kasus tertentu nara sumber kuncinya sudah
koit ya data yang mendalam pastilah akan terbatas. Kasus Supersemar,
misalnya, tidak akan dapat dijelaskan sejelas-jelasnya jika para aktor
yang terlibat dalam kasus itu sudah wafat semua. Memang kedalaman lantas
menjadi relatif, tetapi yang dimaksudkan dalam CSR tentulah berusaha
digging data sedalam-dalamnya. Sebab biasanya yang menjadi stopper riset
semecam itu adalah dana, waktu dan tujuan riset sampai dimana. Memang
bisa sih dengan cara lain, misalnya para informan sudah meninggal tetapi
mereka masih menyisakan tulisan atau apalah yang bisa
> menjadi sumber data sekunder. Persoalannya, interaksi dengan informan
kunci tampaknya menjadi salah satu unsur penting yang disyaratkan. Jadi
soal kontemporer bukan sekedar "waktu sejarah" melainkan juga
ketersediaan sumber data yang masih dapat diakses hingga mengeluarkan
data kualitatif yang mendalam.... sampai tiga lapis realitas: indrawi,
rasional, dan transenden !
>
> Tapi itu pendapat saya Pak, yang selama ini mainannya fenomenologi.
...dan sedang mau belajar yang lain....saya masih di pinggiran... ..jadi
bisa nggak pas juga....
>
> Salam,
> Djarot
>
> --- On Sat, 7/26/08, Delik Hudalah <delikhudalah@ yahoo.com> wrote:
>
> From: Delik Hudalah <delikhudalah@ yahoo.com>
> Subject: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Saturday, July 26, 2008, 1:32 PM
>
>
>
>
> Ysh Pak Djarot, tepat yang Bapak kemukakan. Sempat cari2 buku-buku
> terbaru CSR, tapi selalu kembali ke embah2 itu, spt Yin, Stake,
Creswell.
>
> Perihal unsur kontemporer, sejauh mana ini spesifik untuk CSR? karena
> pada dasarnya semua penelitian maksudnya menemukan hal2 baru atau
> mengungkap pemahaman baru atau memperbaiki pemahaman yang sudah
> obsolete itu. Namun, mungkin saja pemahaman baru tidak selamanya harus
> berasal dari "kasus" yang benar2 baru. Karena kasus yang sama dapat
> dianalisis secara berbeda, atau diberi bumbu baru. Tentu ini
> tergantung keahlian si CSR-er-nya.
>
> Perihal CSR berawal dari suatu teori/pemahaman, pada tingkat tertentu
> tepat juga, karena yang benar2 cenderung kurang berbekal teori adalah
> pendekatan2 seperti grounded theory, yang mungkin kurang relevan utk
> perencanaan yang kental muatan aplikasinya. Jadi, CSR bertempat agak
> ke tengah. Bahkan kadangkala di support oleh pendekatan
> kuantitatif,
> tetapi tidak pernah menjadi sumber logika yang utama.
>
> Delik
> http://www.rug. nl/frw/faculteit /promovendi/ hudalah/index
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
> >
> > Pak Delik, tanggapannya kayaknya mendekati pemahaman yang selama ini
> diperdengarkan rekan-rekan saya yang ada di dalam lingkaran CSR.
> Mereka sering sekali menyebut nabi-nabinya, misalnya Yin dan Creswell,
> dan masih ada yang lain. Sepertinya benar yang anda katakan, bahwa
> kasus di situ adalah "contoh" atau dalam perkataan lain sering juga
> disebut "eksemplar". Ini bukan sekedar persoalan kosa kata, melainkan
> istilah yang sering lebih populer dalam wacana metodologi riset ya
> itulah: eksemplar !
> >
> > Kata kunci
> yang sering disebut sobat-sobat saya adalah
> "kontemporer" , meskipun istilah itu masih perlu diperdebatkan dan
> masih terus menjadi perdebatan diantara kami. Fenomenanya kontemporer,
> maka teori yang dibangun ya bersifat kontemporer. Soal dikaitkan
> dengan "kebijakan" dan khususnya "analisis kebijakan" tampaknya memang
> seperti itu. Rekan saya mengatakan bahwa riset yang dilakukan dengan
> CSR selalu berawal dari "teori" (atau kebijakan) yang pernah ada dan
> kebijakan itu ternyata terbukti sudah menjadi "obsolete" begitulah.
> Nah, riset diperlukan untuk "mereparasi" teori atau kebijakan yang
> telah busuk itu untuk menemukan teori baru yang lebih fresh dengan
> situasi kontemporer. Saya merasa bahwa yang direaksi para peneliti
> dengan CSR adalah teori yang membeku menjadi ideologi (istilah dalam
> wacana Teori Kritis Frankfurt) atau "grand theory" (istilah
> teman-teman saya) yang sudah cenderung tidak efektif.
> >
> >
> Salam,
> > Djarot
> >
> > --- On Thu, 7/24/08, Delik Hudalah <delikhudalah@ ...> wrote:
> >
> > From: Delik Hudalah <delikhudalah@ ...>
> > Subject: [referensi] Re: CASE STUDY RESEARCH
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Date: Thursday, July 24, 2008, 10:59 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Dear Pak Djarot dan Pak Abimanyu,
> > Informasi yang menarik, ditunggu poster pengumumannya.
> > Saya mencoba menambahkan beberapa hal:
> > - Menurut definisinya, "A case study is an empirical inquiry that
> > investigates a contemporary phenomenon within its real life context,
> > especially when boundaries between phenomenon and context are not
> > clearly evident" (Yin, 1994). Yin menyebutkan bahwa studi kebijakan
> > dan perencanaan adalah salah satu 'konsumen' besar CSR,
> khususnya
> > untuk "explain causal links in real-life intervention that are too
> > complex for the survey or experimental research". Mungkin ini cukup
> > berhubungan dengan isu2 yang sering didiskusikan di milis ini, mis.
> > bahwa persoalan2 perencanaan itu seringkali kontekstual, kompleks,
> > sehingga pendekatan2 prediktif-universal is memiliki keterbatasan
dlm
> > menyelesaikan persoalan2 tsb, dst. Atas dasar itu, menurut pandangan
> > paling esktrem, Flyvbjerg (2001) berpendapat bahwa CSR adalah
satu2nya
> > metode yang paling tepat dalam penelitian sosial dan (evaluasi)
> > kebijakan/perencana an.
> > - Dalam pendekatan murni kuantitatif, kasus tidak lain adalah
sampel,
> > sehingga teori dibangun berdasarkan kaidah representasi sampel
(jumlah
> > sampel menjadi salah satu parameter penting validitas teori yang
> > dibangun). Dalam CSR, kasus adalah 'contoh', sehingga tidak bisa
> >
> digunakan replikasi statistikal (hasil) untuk membangun teori, tetapi
> > replikasi analitikal (proses). Yang menjadi parameter kasus yang
> > 'bagus' dalam CSR bukanlah tingkat representasi statistik
(frekuensi,
> > rata, sifat keumuman dll). Sebagaimana kata Pak Abimanyu dan Pak
> > Djarot, itu berarti baru 'kasus' (lokus?), belum 'studi kasus'
> > (fokus?). Kasus yang dicari dalam dalam CSR adalah yang memiliki
> > tingkat signifikansi informasi (kualitas kasus lebih penting
daripada
> > kuantitas kasus).
> > - Atas dasar itu, ada beberapa jenis kasus dalam CSR, tergantung
> > tujuan penelitiannya. diantaranya yang disebutkan Pak Djarot, yaitu
> > kasus ekstrem/unik, untuk menggali kekayaan informasi sebagai bahan
> > pembelajaran (mungkin ini yang paling sering dipakai dalam studi
> > kebijakan/perencana an, seperti contoh2 yang diberikan Pak Djarot).
> > Namun, tidak hanya itu, sebagian
> penelitian bisa juga misalnya
> > menggunakan kasus 'kritis', untuk mengetes kebenaran teori yang
sudah
> > mapan. Sebagian literatur menyebutkan juga kasus paradigmatik, kasus
> > varian, kasus kontras, kasus revealatory (maaf, saya belum begitu
> paham).
> >
> > Salam,
> >
> > Delik
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi <dpurbadi@ .>
wrote:
> > >
> > > Ya Mas Abimanyu, jumpa lagi.
> > >
> > > Kelihatannya memang begitu, tetapi ketika kita ingin mendalami
> > persoalan tertentu secara mendalam, misalnya tentang kehandalan
sistem
> > ICT perusahaan besar setingkat Indosat maka untuk menemukan teori
yang
> > digeneralisasi jelas sulit. Dalam presentasi yang pernah saya lihat,
> > ada rekan dari fakultas ekonomi yang menganalisis 3 perusahaan besar
> > seperti itu dengan tujuan merumuskan "teori baru" tentang kehandalan
> > sistem ICT
> suatu perusahaan skala gigantis itu. Pendalaman datanya
> > memang sangat mendalam, bahkan lebih banyak menggunakan cara-cara
> > kualitatif, termasuk analisis dokumen-dokumen perusahaan yang sangat
> > banyak.
> > >
> > > Memang tujuan penelitiannya adalah mengembangkan teori baru, sebab
> > diawali dengan penemuan suatu teori yang sudah obsolete atau tidak
> > berlaku di suatu kondisi. Kemudian dicoba untuk direparasi dengan
cara
> > penelitian CSR tadi. Ada yang lain, yaitu kasusnya memang harus
unik,
> > dan tujuannya bukan mereparasi teori melainkan menjelaskan fenomena
> > unik yang einmalig itu dengan penggalian data yang sangat mendalam.
> > Misalnya, kasus penembakan mahasiswa di kampus USA, itu kasus yang
> > unik dan dicoba mencari kejelasan mengapa bisa terjadi seperti itu.
> > Jadi tujuannya mencari eksplanasi atas suatu kejadian yang unik,
> > selanjutnya supaya hal-hal
> tertentu bisa dicegah atau diarahkan. Begitu.
> > >
> > > Soal salah kaprah, teman saya punya datanya dari riset-riset di
> > berbagai tempat, yang katanya akan dipresentasikan dalam diskusi
itu.
> > Dia memang punya pijakan dan mencoba kritis melihat "sampel" sebagai
> > kasus dan "kasus" sebagai fokus penelitian.
> > >
> > > Salam,
> > > Djarot
> > >
> > > --- On Tue, 7/22/08, abimanyu takdir alamsyah <takdir65@ .> wrote:
> > >
> > > From: abimanyu takdir alamsyah <takdir65@ .>
> > > Subject: Re: [referensi] CASE STUDY RESEARCH
> > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > > Date: Tuesday, July 22, 2008, 3:09 PM
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Halo Mas Djarot,
> > >
> > > Sepengetahuan saya, pengertian penelitian 'studi kasus' sederhana
> > saja:
>
> > > Kalau obyek penelitian bersifat umum, teori yang diperoleh dapat
> > digeneralisasi maka obyek tersebut bukan 'studi kasus' tapi sekadar
> > 'kasus" atau sampel penelitian. Sedangkan kalau obyek penelitian
> > bersifat khas, tidak diketahui atau diduga tidak ada kesamaan
kondisi
> > atau permasalahan penelitiannya di lokasi lain atau kasus serupa,
maka
> > penelitian bersifat "studi kasus'.
> > > Jadi saya tidak melihat ada masalah sehingga membuat kita salah
> kaprah.
> > >
> > > Sekian dulu,
> > >
> > > Abimanyu
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > 2008/7/22 Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com>:
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > Dear Sobats,
> > >
> > > Ada berita bahwa di jurusan
> Arsitektur dan Perencanaan UGM sedang
> > disiapkan sebuah Diskusi Terbuka yang akan memperbincangkan CASE
STUDY
> > RESEARCH. Mengapa ? Prof. Achmad Djunaedi sedang membimbing tiga
orang
> > mahasiswa S3 yang menggunakan strategi riset studi kasus yang
mungkin
> > umum di dunia lain tetapi "jarang" terjadi di Arsitektur dan
> > Perencanaan. Nah, disini saya mohon pencerahan sobat semua, apakah
> > sinyalemen tersebut benar ? Apakah CSR bagus dan tetap diterapkan
> > dalam dunia Arsitektur dan Planning ? Maklum, saya juga sedang ada
di
> > pinggiran pengetahuan tentang CSR tersebut !
> > >
> > > Sobat saya, salah satu cantrik yang dibimbing itu mengatakan bahwa
> > penggunaan kata-kata "Studi Kasus" dalam berbagai riset telah salah
> > kaprah. Ada yang memaknai kasus sebagai Lokus, sedangkan yang lain
> > mengartikan sebagai Fokus. Nah di dalam diskusi terbuka tersebut
akan
> > diperjelas,
> khususnya dengan mendatangkan seorang pakar studi kasus
> > dari Unair, kalau nggak salah DR. Basuki.... siapa kenal ?
> > >
> > > Mengapa CSR ini akan diangkat dan digunakan dalam riset-riset
> > Arsitektur dan Planning ? Arsitektur dan Perencanaan seringkali
> > memerlukan "teori kontemporer" yang bermakna untuk mengatasi
> > problema-problema secara mendasar namun kadangkala kejadian-kejadian
> > yang dapat dikaji untuk menghasilkan teori yang diharapkan tidak
> > tersedia secara cukup. Kasus heritage seperti "Hotel Toegoe" di
Jogja
> > atau "Lawang Sewu" di Semarang yang berubah karena melintasi waktu
> > historis tidak banyak, maka apakah kasus-kasus "monumental" semacam
> > itu tidak layak digunakan untuk membangun teori tertentu jika kelak
> > akan dimanfaatkan untuk menata kawasan tengah kota yang bertebaran
> > dengan bangunan-bangunan bersejarah ? Apakah kasus-kasus yang
> sedikit
> > tidak dapat dimanfaatkan untuk melahirkan "pegangan" bagi tindakan
> > penataan ruang kehidupan yang bersifat kontemporer ?
> > >
> > > Rencananya diskusi terbuka akan diadakan 28 Agustus 2008 hanya
> > sehari saja, tempatnya di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan UGM.
Itu
> > kalau tidak ada perubahan... ..sementara ini dibayangkan yang datang
> > hanya sekitar 60 orang, supaya diskusi dapat fokus dan menarik.....
> > sssss sebentar lagi poster informasi akan segera diedarkan, sebab
> > sedang dibuat yang menarik !
> > >
> > > Salam,
> > > Djarot
> > >
> >
>



Kirim email ke