Bung Dwiagus. 

SILPA itu berasal dari Surplus,
ditambah SILPA tahun sebelumnya, bisa juga ditambah pinjaman (kalau ada),
ditambah lagi penjualan aset yang dipisahkan (kalau ada) kemudian
dikurangi dengan investasi jangka pendek (kalau mau) , investasi jangka
panjang (kalau mau), pembayaran utang (kalau masih ada utang), dan
pemberian pinjaman (kalau mau). Nah, untuk memperkirakan SILPA itu banyak
sekali variabel penambah dan variabel pengurang yang bersifat
kalau...kalau..kalau... atau asumsi . Sementara Surplus sebagai salah satu
variabel penambah masih berupa estimasi. Jadi bisa-bisa saja memperkirakan
SILPA, tapi ketepatannya bisa sangat rendah; sementara kalau hanya
memperkirakan Surplus dengan variabel yang lebih pasti (karena sudah
dianggarkan) lebih mudah walaupun tidak pernah ada yang tepat. 

Menurut saya SILPA itu tidak ada Opportunity Cost. Duit SILPA tidak
hilang dan hampir 70-80% dari SILPA itu didepositokan on-call di BPD dan
bank-bank lain yang memberi return tinggi. SILPA siap dipakai untuk
menutupi anggaran defisit untuk kebutuhan-kebutuhan pembangunan yang
diperlukan. Tapi tahun berikutnya ya.. 

Kalau mau traktir di
kaki lima minta sponsor Pak Eka, terlalu murah buat saya. Saya minta
restaurant Jepang di Hotel Borobudur. He....he.. 

Thanks. CU.
BTS. 




----- Original Message ----- 
From: Benedictus Dwiagus S. 
To: [email protected] 
Sent: Tuesday, September 09, 2008 1:40 PM 
Subject: RE: [referensi]
SILPA.... SURPLUS DKI 


Kirim email ke