Pak Aby dan Rekan-rekan Ysh,

Semangat nasionalisme Pak Aby harus diapresiasi, konsisten dan "keukeh" pada
pendirian pada national spatial development planning, biar kata orang-orang
itu bilang sudah kuno... he he he.:). Tapi dari pada kita berputar putar
tentang argumentasi menumbuhkan Kawasan Timur Indonesia dengan pusat
pertumbuhan Makassar, saya ingin dengar cerita dari pak Aby nih, gimana
dengan ketersediaan energy listrik di Sulsel, cukup nggak kira-kira
serombongan pengusaha mau relokasi industri ke KIMA? Diperoleh berita
bahwa Kawasan Industri Makasar (KIMA) tidak bergerak signifikan, Padahal
dulu waktu jamannya pemerintahan sentralistrik, Makasar memang diarahkan
sedemikan rupa jadi pusat kegiatan ekonomi, dan pada era sentralistik pula
KIMA seperti tak bergairah lagi.

Sebutlah saya pengusaha industri (footloose industries), sebenarnya ingin
juga relokasi ke luar Jawa. Pasar saya ada di kawasan Asia Pacifik,
khususnya Asia Timur. Tapi karena listrik tidak cukup di Sulsel, saya lebih
suka ke Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) karena supply energy listrik
lumayan, sudah diperkuat oleh interkoneksi pembangkit listrik di Muara Enim.


Singkat cerita, presiden RI dan Wapres boleh perintahkan Menteri PU untuk
prioritaskan bangun jalan, dan Menteri Perhubungan perbesar kapasitas
pelabuhan kontainer Makasar. Lha, ketika Menteri Energy dipaksa harus
membangun pembangkit listrik di Sulsel bilang, Menteri ESDM bilang, bapak
Presiden, PLN nggak punya duit lagi pak, bahkan BBM saja masih nunggak di
Pertamina.. ampun deh pak, gas nggak mencukupi.

Gimana tuh pak Aby, akankah kita tetap konsisten pada mimpi-mimpi indah demi
nasionalisme, pokoke Makasar harus jadi pusat pertumbuhan (baru) di jagad
nusantara ini at all cost. Oh ya lagi, gimana caranya maksa orang-orang
Papua beli barang ke Makasar, bukan Surabaya.

Ingin dengar cerita segar dari Pak Aby... tapi jangan yang pake orde orde
pusat pertumbuhan lagi ya.. agar nggak jenuh he he he .. just kidding.

Cheers,

Nuzul Achjar

Kirim email ke