Pak Bintarto ysh, 
Saya merasa mendapat kehormatan dengan sapaan pak Bintarto…. salam kenal 
kembali pak……
Dari pendapat pak Bintarto:
+++:  “… semua itu tergantung keyakinan kita tentang kebijakan yang bagaimana 
yang perlu ditempuh 
apakah membiarkan aglomerasi makasar biar tumbuh sendiri dan investasi 
infrastruktur sesuai dengan kepadatan penduduk dikawasan tsb, 
ataukah mempercepat aglomerasi makasar dengan meningkatkan fokus investasi kita 
kesana sehingga mempercepat pengembangan di Indonesia timur. atau ambil jalan 
tengah. …..”
>>>: Kalau kita  melihatnya dari sisi pandang  struktur organisasi dari DJPR 
>>>dimana NKRI ini dibagi menjadi 4 wilayah penataan ruang… dimana Mks/ SulSel 
>>>adalah ‘wilayah III”….. dan ‘antar Wilayah PR’ satu sama lain nampak 
>>>saling’setara’…. Tak bedanya organisasi  seperti Kodam, Polda, Kanwil, Gub 
>>>propinsi …dsb. … maka apa yang sejauh ini dilakukan oleh Wilayah III  
>>>termasuk dengan adanya technical assistant dari  JICA tentang Rencana Tata 
>>>RuangWilayahTerpadu metropolitan Manmminasata (yang dilaksanakan oleh 
>>>konsultan KRI Int’l Corp bersama Nippon Koei  Co.Ltd) ‘dari sisi pandang 
>>>internal organisasi DJPR’ saya percaya itu bolehlah dikatakan sebagai ….‘itu 
>>>sudah benar dan optimal’…….
Tanpa bermaksud mengecilkan arti dari capaian Wilayah III/ JICA…. tapi kalau 
melihatnya dari sisi pertanyaan masyarakat…“Kapan nih KTI akan segera 
memperoleh perubahan/ kemajuan signifikan secara riil”…. Secara jujur kita 
semua dapat katakan sebagai  “belum tahu kapan”….. karena apa yang dilakukan 
oleh JICA… walaupun strategis…. Namun  masih lebih merupakan bagian dari  
rekomendasi tentang upaya mengembangkan kelayakan infrastruktur Mamminasata 
serta rekomendasi tentang berbagai langkah strategis  diberbagai sektor yang 
perlu dilakukan oleh Mamminasata atau Pemerintah RI  (dan bukan semuanya harus 
oleh JICA)……. 
Apa yang dikemukakan oleh pak Bintarto sebagai ’jalan tengah’…. Pada hemat saya 
mohon maaf…. Itu masih agak ‘jauh’ dari ‘kompromi’….…. Karena apa yang masih 
lebih banyak dilakukan adalah masih lebih merupakan  penyiapan pembangunan  
kelayakan prasarana fisik kota  seperti rencana pelebaran Jalan Perintis 
Kemerdekaan--Urip Sumohardjo…… proyek air bersih MarosTakalar…perbaikan 
kapasitas gardu dan rehab sistem distribusi listrik PLN….. sistem drainase 
kota… manajemen airlimbah… penghijauan…d sb…… 
Dan sementara itu ‘langkah ‘reformasi struktur industri manufaktur di Mks’ yang 
dimaksudkan agar tidak terus menerus lebih bertitik berat ke ’industri 
pertanian’ mohon maaf….  Masih belum tersentuh samasekali…..
+++: “….dan selanjutnya JBIC (Japan Bank for International Cooperation)  dimana 
sekarang sdh menyatu dengan JICA, namanya sekarang menjadi JICA, mendanai 
sebagian konstruksi dari rencana pengembangan dimaksud. Dengan harapan tentunya 
pihak donor lain dan swasta ikut tertarik/ terpancing untuk investasi…..”.
>>>: Harapan tentang ‘terpancingnya’ swasta untuk berinvestasi di Mks adalah 
>>>harapan yang baik…. Tapi ‘berharap secara pro-pasif’ itu sulit dibayangkan 
>>>kepastian hasilnya…..kapan dan bagaimana…. 
Untuk lebih memperoleh ‘kepastian’….. satu cara adalah dengan ‘pro-aktif’…… 
seperti dalam kaitan dengan rencana percepatan  pengembangan aglomerasi  
metropolitan Mks/ Mamminasata… atau dalam kaitan kerangka tujuan ‘memperbaiki 
struktur industri manufaktur di Mks’… memperbaiki struktur upah di 
Mks……memperbaiki komposisi  SDM di Mks.. . memperbaiki ‘pola belanja/konsumsi 
di KTI …. atau atau dalam rangka internasionalisasi Mks  (yang ini juga 
tertuang dalam rekomendasi JICA)…..  jelas bahwa lebih diperlukan cara 
“proaktif”… seperti  yang menurut pak Risfan diistilahkan sebagai  beyond  
physical planning…….
(Risfan M 5//9/08 : “Soal ketimpangan pembangunan nasional itu adalah domain 
kebijakan publik, yang mesti mencakup kebijakan ekonomi, politik dsb. 
Boleh-boleh saja perencana wilayah ikut terjun ke sana, tapi jangan pada saat 
yang sama juga fanatik dengan atribut "physical planner"nya. Itu sudah beyond 
physical planning, tapi komprehensif dan politis. Bahkan urusan kepala negara. 
Lihat saja Obama waktu kampanye ke beberapa negara bagian yang 'kehilangan 
lapangan kerja' karena relokasi industri ke Meksiko dst, solusi yang ditawarkan 
Capres itu adalah meninjau agreement NAFTA. Hal seperti itu memang di luar 
kendali perencana/pemerintah daerah….”)
Cara ’proaktif’ yang saya maksudkan adalah permintaan oleh/ melalui kepala 
negara (re : Risfan 5/9/08) kepada ‘industri memimpin‘… 3 merk spd motor honda, 
yamaha, suzuki….  untuk membuka filial skala kecil fasilitas produksinya di 
Mks……. Ialah 1/8 atau 1/6 dari total kapasitas preoduksi masing2.. atau kalau 
seperti spd motor honda yang berkapasitas produksi 2 juta unit per tahun…. Maka 
honda hanya diminta membuat filial dari production plant nya di Mks untuk 
sejumlah kapasitas 250.000 unit saja per tahun… demikian juga untuk kedua merk 
lainnya….
Dengan cara itu.. ibarat hanya dalam bilangan ‘hari’…. Kita sudah bisa 
mendengar kepastian tentang apakah pada prinsipnya ke-3 merk spd motor utama 
itu (sebagaio industri nasional memimpin/ national leading industries) bersedia 
membuka filial production plantnya di Mks atau tidak….. kalau ya kita dapat 
segera ‘berbenah’ menyambutnya… tapi kalau’tidak’ kita juga akan bisa tahu apa 
sebabnya… bisa saja ada beberapa  syarat yang disebutkan… dan siapa tahu bisa 
dipenuhi… demikian dsb…. 
Pembagian wilayah PR I sampai IV disatu sisi memang  ada berbagai  manfaat 
positipnya….. utamanya untuk hal2 rutin…..tetapi disisi lain ada beberapa 
langkah taktis  strategis keruangan secara nasional yang samasekali tidak dapat 
selalu memakai jalur wewenang dan rute birokrasi  ‘perwilayahan’ I-IV ini 
terus…..tetapi sesekali perlu melalui jalur kepala negara dan beyond physical 
planning……… 
Industri dan masyarakat luas adalah ‘end-user daripada ruang’……dan sering 
sangat ’pro-aktif’…… sehingga tak salah kalau dikatakan sebagai  tukang obok2 
ruang…..sementara itu Pemerintah adalah  ‘pengelola norma ruang’ dan sering 
banyak melakukannya secara ‘Pro-pasif’……. Untuk langkah2 taktis dan strategis 
secara nasional serta hasil yang konkrit dan cepat…. Pemerintah perlu 
melakukannya secara proaktif‘……dan tidak selalu harus within physical planning 
terus…...dan tidak selalu harus melalui jalur birokrasi perwilayahan I-IV 
terus....
 
Salam,
aby


--- On Wed, 9/17/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: ESDM Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2)
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 17, 2008, 2:43 PM










yth pak Aby, salam kenal, permisi ikut nimbrung, saya berpendapat semua itu 
tergantung keyakinan kita tentang kebijakan yang bagaimana yang perlu ditempuh 
apakah membiarkan aglomerasi makasar biar tumbuh sendiri dan investasi 
infrastruktur sesuai dengan kepadatan penduduk dikawasan tsb, ataukah 
mempercepat aglomerasi makasar dengan meningkatkan fokus investasi kita kesana 
sehingga mempercepat pengembangan di Indonesia timur. atau ambil jalan tengah. 
yang terjadi sekarang kita sedang ambil jalan tengah dimana kita sudah mendapat 
bantuan TA dari JICA untuk pengembangan mamminasata 4 tahun belakangan ini  
dilanjut dengan TA untuk pengembangan sulawesi secara keseluruhan 2 tahun 
belakangan ini, dan selanjutnya JBIC dimana sekarang sdh menyatu dengan JICA, 
namanya sekarang menjadi JICA, mendanai sebagian konstruksi dari rencana 
pengembangan dimaksud. Dengan harapan tentunya pihak donor lain dan swasta ikut 
tertarik/ terpancing untuk investasi.tks.

wassalam,
 Wahyono Bintarto

--- On Thu, 9/18/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [referensi] Re: ESDM Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Thursday, September 18, 2008, 12:36 AM










 
Pak Nuzul ysh, 
Menteri ESDM Purnomo itu kebetulan waktu klas 1 (1B) dan klas 3 (3E) SMA 
sekelas dengan saya….. waktu itu saya yang dari SD biasa bersekolah dikota 
kecil kecamatan karena bapak saya ditugaskannya begitu… terbiasa dikota kecil 
dimana anak2 bersekolah biasa nyeker dan kalau saya pakai sepatu sendiri malah 
jadi aneh… ketika harus bersekolah disekolah yang boleh dibilang elit untuk 
ibukota propinsi tempat kami…. Saya memang sempat shock juga….. 
Sudah saya termasuk paling miskin disekolah (bapak saya terlalu jujur kali 
ya?)…. Sudah begitu mayoritas siswanya dari non-pri dan dari anak orang2 kaya/ 
pejabat….dan pelajaran agama disekolahpun beda dari agama saya…. Saya lalu 
banyak menyendiri dan diam…. Lalu kata mas Purnomo … saya pengung… 
Tapi setelah saya perhatikan mas Purnomo menjadi menteri ESDM sejak dari 
Presiden GusDur, Mega laluSBY….. dan urusan energi tak kunjung pernah beres…. 
Termasuk kontrak penjualan LNG Tangguh ke RRC yang konon  terlalu murah…….. akh 
saya pikir mas Purnomo sih sama2 pengung juga…. Sama dengan saya….. 
Masak negeri penuh dengan SDA minyak dan gas.. saking berlebih sampai gasnya 
dijual kontrak ke RRC secara amat murah….. belum lagi ada sumber biofuel dan 
biogas dari kotoran sapi….dari angin.. panas bumi dan terakhir termahal tenaga 
surya (konon utk jangka panjang jadi tidak mahal juga)…. Lha kok mau bikin 
pembangkit listrik di SulSel saja sampai pak Nuzul nanya ke orang jalanan  
macem saya…. Wah terbalik deh dunia ini….. 
  
Pak Nuzul…., serombongan pengusaha asing mau relokasi industri sih baik saja….. 
tapi kalau itu serombongan petualang pengusaha pabrik besi kacangan dari RRC 
yang disana sudah dilarang beroperasi karena merusak lingkungan dan mau 
berelokasi ke Indonesia dan membuat produk2 dengan ukuran ‘banci’ tak sesuai 
standar SNI….. kita sih tak boleh terpesona sama yang begituan….. 
  
Mengembangkan kawasan tertinggal dengan industri adalah dengan “industri 
(manufaktur) nasional yang memimpin” (leading industries) yang telah ada dibumi 
sendiri (dalam konteks ini Indonesia secara faktual menjadi pasar ke-3 terbesar 
dunia utk industri tsb) …… yang jelas sehat pada berbagai aspeknya…. Dan sangat 
jelas pula multiplier effectnya……  dalam hal ini sudah saya sebutkan sebagai 
persemaian  fasilitas produksi kelas jauh (filial) dari industri sepeda motor.. 
dimana tiap industri otomotif itu membangkitkan berdirinya sekitar 50 
perusahaan subkontraktor … dan tiap perusahaan subkontraktor itu membangkitkan 
pula berdirinya 50 perusahaan sub-subkontraktor…… 
  
Orang Papua atau Ternate yang biasa belanja/ menjual barang barang ke Surabaya 
tak usah hari ini dipaksa beli barang ke Makasar…..ngapain? ...
Kalau dinamika aglomerasi Makasar telah terbentuk…. Dengan sendirinya para 
pedagang besar di Surabaya akan mengekspansi pasarnya dengan membuka cabang di 
Makassar… untuk lebih mendekati konsumennya diKTI….. dan para trader di KTI 
(NTT, NTB, Sulawesi, Maluku, Papua, Kaltim)  sana tanpa dipaksa tentu akan 
merasa lebih murah untuk berbelanja di Mks dibanding ke Sby… karena jarak lebih 
dekat, biaya perjalanan/angkut lebih murah  serta harga sama dengan di Sby…… 
  
Saya tidak berpikir tentang membangun Mks sebagai pusat KTI ’at all cost’….. 
termasuk dengan mengundang para petualang relokasi  dirty industries dari China 
itu…... Dengan daya yang ada.. serta dengan cara yang elegan…. kita sebenarnya 
bisa ‘membangun’ KTI kok….  Masalahnya adalah selama ini jiwa patriotisme itu 
tidak muncul……yang merembet pada tidak munculnya jiwa demokratik.. .... 
  
Salam, 
aby 
  


--- On Wed, 9/17/08, Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Wednesday, September 17, 2008, 9:01 AM






Pak Aby dan Rekan-rekan Ysh,
 
Semangat nasionalisme Pak Aby harus diapresiasi,  konsisten dan "keukeh" pada 
pendirian pada national spatial development planning, biar kata orang-orang itu 
bilang sudah kuno... he he he.:). Tapi dari pada kita berputar putar tentang 
argumentasi menumbuhkan Kawasan Timur Indonesia dengan pusat pertumbuhan 
Makassar, saya ingin dengar cerita dari pak Aby nih, gimana dengan ketersediaan 
energy listrik di Sulsel, cukup nggak kira-kira serombongan pengusaha mau 
relokasi industri ke KIMA? Diperoleh berita bahwa Kawasan Industri Makasar 
(KIMA) tidak bergerak signifikan, Padahal dulu waktu jamannya pemerintahan 
sentralistrik, Makasar memang diarahkan sedemikan rupa jadi pusat kegiatan 
ekonomi, dan pada era sentralistik pula KIMA seperti tak bergairah lagi. 
 
Sebutlah saya pengusaha industri (footloose industries),  sebenarnya ingin juga 
relokasi ke luar Jawa. Pasar saya ada di kawasan Asia Pacifik, khususnya Asia 
Timur. Tapi karena listrik tidak cukup di Sulsel, saya lebih suka ke Sumatera 
Bagian Selatan (Sumbagsel) karena supply energy listrik lumayan, sudah 
diperkuat oleh interkoneksi pembangkit listrik di Muara Enim. 
 
Singkat cerita, presiden RI dan Wapres boleh perintahkan Menteri PU untuk 
prioritaskan bangun jalan, dan Menteri Perhubungan perbesar kapasitas 
pelabuhan kontainer Makasar. Lha, ketika Menteri Energy dipaksa harus membangun 
pembangkit listrik di Sulsel bilang, Menteri ESDM bilang, bapak Presiden, PLN 
nggak punya duit lagi pak, bahkan BBM saja masih nunggak di Pertamina.. ampun 
deh pak, gas nggak mencukupi. 
 
Gimana tuh pak Aby, akankah kita tetap konsisten pada mimpi-mimpi indah demi 
nasionalisme, pokoke Makasar harus jadi pusat pertumbuhan (baru) di jagad 
nusantara ini at all cost. Oh ya lagi, gimana caranya maksa orang-orang Papua 
beli barang ke Makasar, bukan Surabaya. 
 
Ingin dengar cerita segar dari Pak Aby... tapi jangan yang pake orde orde pusat 
pertumbuhan lagi ya.. agar nggak jenuh he he he .. just kidding.
 
Cheers,
 
Nuzul Achjar
 
 
 
 
 
 
 
 

 














      

Kirim email ke