Pak Nuzul ysh,
Menteri ESDM Purnomo itu kebetulan waktu klas 1 (1B) dan klas 3 (3E) SMA sekelas dengan saya….. waktu itu saya yang dari SD biasa bersekolah dikota kecil kecamatan karena bapak saya ditugaskannya begitu… terbiasa dikota kecil dimana anak2 bersekolah biasa nyeker dan kalau saya pakai sepatu sendiri malah jadi aneh… ketika harus bersekolah disekolah yang boleh dibilang elit untuk ibukota propinsi tempat kami…. Saya memang sempat shock juga….. Sudah saya termasuk paling miskin disekolah (bapak saya terlalu jujur kali ya?)…. Sudah begitu mayoritas siswanya dari non-pri dan dari anak orang2 kaya/ pejabat….dan pelajaran agama disekolahpun beda dari agama saya…. Saya lalu banyak menyendiri dan diam…. Lalu kata mas Purnomo … saya pengung… Tapi setelah saya perhatikan mas Purnomo menjadi menteri ESDM sejak dari Presiden GusDur, Mega laluSBY….. dan urusan energi tak kunjung pernah beres…. Termasuk kontrak penjualan LNG Tangguh ke RRC yang konon terlalu murah…….. akh saya pikir mas Purnomo sih sama2 pengung juga…. Sama dengan saya….. Masak negeri penuh dengan SDA minyak dan gas.. saking berlebih sampai gasnya dijual kontrak ke RRC secara amat murah….. belum lagi ada sumber biofuel dan biogas dari kotoran sapi….dari angin.. panas bumi dan terakhir termahal tenaga surya (konon utk jangka panjang jadi tidak mahal juga)…. Lha kok mau bikin pembangkit listrik di SulSel saja sampai pak Nuzul nanya ke orang jalanan macem saya…. Wah terbalik deh dunia ini….. Pak Nuzul…., serombongan pengusaha asing mau relokasi industri sih baik saja….. tapi kalau itu serombongan petualang pengusaha pabrik besi kacangan dari RRC yang disana sudah dilarang beroperasi karena merusak lingkungan dan mau berelokasi ke Indonesia dan membuat produk2 dengan ukuran ‘banci’ tak sesuai standar SNI….. kita sih tak boleh terpesona sama yang begituan….. Mengembangkan kawasan tertinggal dengan industri adalah dengan “industri (manufaktur) nasional yang memimpin” (leading industries) yang telah ada dibumi sendiri (dalam konteks ini Indonesia secara faktual menjadi pasar ke-3 terbesar dunia utk industri tsb) …… yang jelas sehat pada berbagai aspeknya…. Dan sangat jelas pula multiplier effectnya…… dalam hal ini sudah saya sebutkan sebagai persemaian fasilitas produksi kelas jauh (filial) dari industri sepeda motor.. dimana tiap industri otomotif itu membangkitkan berdirinya sekitar 50 perusahaan subkontraktor … dan tiap perusahaan subkontraktor itu membangkitkan pula berdirinya 50 perusahaan sub-subkontraktor…… Orang Papua atau Ternate yang biasa belanja/ menjual barang barang ke Surabaya tak usah hari ini dipaksa beli barang ke Makasar…..ngapain?... Kalau dinamika aglomerasi Makasar telah terbentuk…. Dengan sendirinya para pedagang besar di Surabaya akan mengekspansi pasarnya dengan membuka cabang di Makassar… untuk lebih mendekati konsumennya diKTI….. dan para trader di KTI (NTT, NTB, Sulawesi, Maluku, Papua, Kaltim) sana tanpa dipaksa tentu akan merasa lebih murah untuk berbelanja di Mks dibanding ke Sby… karena jarak lebih dekat, biaya perjalanan/angkut lebih murah serta harga sama dengan di Sby…… Saya tidak berpikir tentang membangun Mks sebagai pusat KTI ’at all cost’….. termasuk dengan mengundang para petualang relokasi dirty industries dari China itu…... Dengan daya yang ada.. serta dengan cara yang elegan…. kita sebenarnya bisa ‘membangun’ KTI kok…. Masalahnya adalah selama ini jiwa patriotisme itu tidak muncul……yang merembet pada tidak munculnya jiwa demokratik...... Salam, aby --- On Wed, 9/17/08, Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [referensi] Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2) To: [email protected] Date: Wednesday, September 17, 2008, 9:01 AM Pak Aby dan Rekan-rekan Ysh, Semangat nasionalisme Pak Aby harus diapresiasi, konsisten dan "keukeh" pada pendirian pada national spatial development planning, biar kata orang-orang itu bilang sudah kuno... he he he.:). Tapi dari pada kita berputar putar tentang argumentasi menumbuhkan Kawasan Timur Indonesia dengan pusat pertumbuhan Makassar, saya ingin dengar cerita dari pak Aby nih, gimana dengan ketersediaan energy listrik di Sulsel, cukup nggak kira-kira serombongan pengusaha mau relokasi industri ke KIMA? Diperoleh berita bahwa Kawasan Industri Makasar (KIMA) tidak bergerak signifikan, Padahal dulu waktu jamannya pemerintahan sentralistrik, Makasar memang diarahkan sedemikan rupa jadi pusat kegiatan ekonomi, dan pada era sentralistik pula KIMA seperti tak bergairah lagi. Sebutlah saya pengusaha industri (footloose industries), sebenarnya ingin juga relokasi ke luar Jawa. Pasar saya ada di kawasan Asia Pacifik, khususnya Asia Timur. Tapi karena listrik tidak cukup di Sulsel, saya lebih suka ke Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) karena supply energy listrik lumayan, sudah diperkuat oleh interkoneksi pembangkit listrik di Muara Enim. Singkat cerita, presiden RI dan Wapres boleh perintahkan Menteri PU untuk prioritaskan bangun jalan, dan Menteri Perhubungan perbesar kapasitas pelabuhan kontainer Makasar. Lha, ketika Menteri Energy dipaksa harus membangun pembangkit listrik di Sulsel bilang, Menteri ESDM bilang, bapak Presiden, PLN nggak punya duit lagi pak, bahkan BBM saja masih nunggak di Pertamina.. ampun deh pak, gas nggak mencukupi. Gimana tuh pak Aby, akankah kita tetap konsisten pada mimpi-mimpi indah demi nasionalisme, pokoke Makasar harus jadi pusat pertumbuhan (baru) di jagad nusantara ini at all cost. Oh ya lagi, gimana caranya maksa orang-orang Papua beli barang ke Makasar, bukan Surabaya. Ingin dengar cerita segar dari Pak Aby... tapi jangan yang pake orde orde pusat pertumbuhan lagi ya.. agar nggak jenuh he he he .. just kidding. Cheers, Nuzul Achjar

