Pak Aby, saya merasa tersenggol dalam emailnya….arsitek dedikatif…dst…saya ingin menjelaskan sedikit, sebab sampai email ini saya tuliskan masih banyak persepsi yang kurang pas tentang profesi arsitek….memang, minimal ada dua aliran…bergerak menggarap bangunan menjadi arsitek dengan mainan mikro…dan berkiprah menggarap kompleks bangunan-bangunan, misalnya perumahan…jadi pada skala meso…soal istilah bisa diperdebatkan lagi….
Oleh karenanya, ketika orang melihat bahwa karya arsitektur selalu berkonotasi indah….ya salah satu aspeknya memang benar….tetapi karena saya selalu di pinggiran diskursus para planner maka sudah tercemari….sehingga persoalan yang saya hadapi selalu bermuatan lain….bukan kota yang indah melainkan kota yang hidup….indah lantas menjadi nomor berikutnya…..ini aliran tentunya….bagi saya kota yang penuh dengan PKL sangat humanistik dan indah….indahnya kehidupan…. Jika melihat sebuah desain kompleks perumahan massal di kota atau arsitektur (lingkungan) desa….yang terlihat bagi saya adalah bagaimana warganya bisa hidup….seting-seting kegiatan seperti apa yang sebaiknya dikembangkan agar kehidupan menjadi lebih baik dan makin baik bagi semakin banyak orang….usulan bikin gardu ronda bukan keindahan yang dikedepankan melainkan bagaimana desainnya yang mendukung perilaku warganya supaya semakin akrab…makin menyatu….makin sejahtera…dsb….desain yang indah dipikirkan sebagai nilai tambahan….. Fokus “arsitektur desa” selama ini jarang digarap oleh kalangan arsitek karena terbius mitos bahwa arsitek selalu menghasilkan desain yang indah bagi kalangan berduit…itulah sebabnya Mangunwijaya hengkang dari pendidikan arsitektur karena dia merasa pendidikan arsitektur telah salah arah….mendidik orang intelek yang ujungnya mengabdi kaum berduit…..ya tetap kuli kenceng….bukan arsitek yang otonom mengabdikan profesinya untuk kepentingan yang lebih bernilai….arsitek dedikatif…..ya ? Itulah sebabnya, ayahku dikritik langsung oleh Mangunwijaya….ketika beliau berkunjung di gubugnya di tepian kali Code….sesama mantan tentara pelajar….dan berceritera bahwa aku anaknya sekolah di arsitektur….katanya, Oooo kleru kuwi….sekarang arsitektur sudah salah kaprah…..aku disini menjadi contoh bagaimana arsitektur seharusnya….. Saya prihatin pada obyek yang namanya “arsitektur desa” ….sebab banyak desa-desa kita terpangkas oleh instrumen pembangunan….misalnya pembangunan jalan….di dekat rumah saya ada sebuah desa yang semula satu sekarang terbelah menjadi dua oleh jalan kebanggaan….ring road….banyak desa-desa yang mengalami nasib seperti itu….warganya menjadi terbelah juga….apakah desa-desa yang kompak bukan sebuah potensi kehidupan yang dapat diuntai menjadi jalinan kehidupan yang lebih menyelamatkan……..meskipun kemudian terjadi keseimbangan baru dan tatanan baru, tetapi nasib tragis mereka sebenarnya dapat diminimalisir….dengan tindakan planning yang lebih cermat…..hebatnya…..ketika spidol planner ada tanda-tanda mau nabrak sebuah pabrik gula…ternyata bisa dibelokkan tuh……spidol para planner memang sangat hebat ketika melintas dan membuat garis di atas peta-peta rencana kota….entah apa yang ada di dalam benak orang yang tangannya menggariskan…. Itulah hasilnya….kalau Pak Aby menyeret saya ke dunia planning….lewat Bukit Sutera hahahahaaaa……meski saya terus di pinggiran….enjoy aja…. Salam, Djarot --- On Wed, 9/17/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2) To: [email protected] Date: Wednesday, September 17, 2008, 9:10 PM Sebelum berdiskusi tentang aspek industri dan migrasi pusat pertumbuhan KTI….Saya ingin bicara tentang sikap moral dulu….. Sama sbgmn TNI-AL dengan peralatan amat terbatas terpanggil harus menjaga 92 pulau-pulau terluar… demi apa yang namanya NKRI….suatu pekerjaan yang tak dapat dikatakan sebagai enak, efisien dan ekonomis (enak itu bisa diartikan sebagai mudah, menyenangkan, menarik, basah dsb…)…..Suka-tidak suka…tanpa bisa menawar…. TNI (AL) harus selalu lakukan itu…. Sebab kalau tidak TNI akan hilang kredibilitas serta kehormatannya sebagai penjaga/ penjunjung keamanan dan kedaulatan negara….. Dalam bayangan saya … seorang patriotic national spatial development planner atau seorang nationalistic regional development planner… walau dunia mau runtuh sekalipun….. seharusnya selalu berpikir seperti itu pula….. dengan tanpa kenal menyerah selalu berpikir keras tentang bagaimana mengupayakan arah pembangunan keruangan secara nasional yang ideal serta adil dari beberapa aspeknya (karena planologi adalah bagian dari ilmu teknologi/ teknik rekayasa… dan bukan bagian dari ilmu spiritual seperti zikir yang dalam beberapa bagiannya kita diajarkan untuk bersyukur dan nrimo untuk hal yang tak bisa kita capai…. dsb) …. seperti demografik… keseimbangan kemajuan antar wilayah… perluasan kesempatan kerja…. Perbaikan nasib simiskin ……. Penegakan sistem nasional kota-kota…pengembang an aglomerasi2 baru…bersama dengan rekayasa pemerataan lokasi2 industri manufaktur….. ketahanan wilayah dan ketahanan perekonomian yang tinggi…. dsb….. walau disisi lain birokrat daerah2 sedang riang bereforia dengan otonomi daerah yang jelas amat sangat kedaerah-daerahan… dan tak peduli dengan apa yang namanya visi nasional keutuhan serta integritas NKRI……... Ditengah gegap gempita eforia otonomi daerah pula… lembaga nasional seperti BKKN misalnya juga harus mengupayakan program family planning … sesuatu yang mungkin terlupa atau disikapi EGP ditengah eforia birokrat otonomi daerah itu……… Banyak sekali visi-visi nasionalistik lainnya yang harus ditegakkan…demi kredibilitas sebuah negara agar terhormat… terlepas apakah sarana kerja serba terbatas serta apakah situasi medannya ‘letoy’ atau bahkan ganas seperti apapun …… Berbeda dengan KPK yang memperoleh anggaran sangat besar serta peralatan canggih yang memadai seperti alat penyadap… sehingga dasar dilandasi oleh etos kerja yang baik pula .. maka lalu hasil kerja KPKpun cukup memuaskan…. Tetapi sebaliknya dari itu…. tidak kurang kegigihan seperti kisah apa yang telah dilakukan secara patriotik oleh Suster Apung Hj. Andi Rabiah, pemenang Eagle Award 2006… yang selama 30 tahun mengarungi laut Flores yang ganas ombaknya untuk mengunjungi belasan pulau2 terpencil yang terserak dikawasan Pangkajene Kepulauan untuk melakukan layanan kesehatan….yang bahkan sampai melampaui kapasitas jabatan mediknya yang hanya suster…. Karena memang disana tak ada lagi petugas kesehatan lain yang melakukannya…… Sama seperti TNI-AL yang tak pernah memiliki pilihan ideal dan menyenangkan menjaga wilayah perairan serta pulau2 terluar…… seorang patriotic national spatial planner juga tidak akan pernah membayangkan atau bahkan tak sudi memilih bahwa medan yang dihadapinya haruslah yang mewah dan tidak ‘letoy’…. Atau agar yang kaya SDA terpendam….. justru karena berbeda dari ‘pejuang kelas salon’… tantangan dari seorang patriot sejati adalah medan2 yang berat dan ganas…… sama seperti tantangan serta kepuasan seorang arsitek dedikatif adalah …. Bagaimana dapat mengubah sebuah kawasan gersang, kumuh, tergenang atau kotor menjadi lingkungan hunian serta aktivitas manusia serta bagi simiskin yang indah serta menyenangkan……. Atau tantangan dari seorang hot-rod mania adalah memburu mobil kuno dan mangkrag lalu mengubahnya menjadi mobil yang horsepowerful… speedy … kinclong… macho.. .lalu menjadi pemenang kontes automobile show….. Satu hal adalah ….. seorang patriotic national spatial planner pertama-tama tidak akan secara fanatik hanya berpikir tentang mengandalkan pembangunan fisik sebagai ujung tombak ‘pembangunan’……serta tak akan puas dengan aglomerasi kota primat yang ada seperti jabodetabek sentrisme atau jawasentrisme… ... Rekan Mulya Amri pernah katakan bahwa walaupun ditempat terpencil dibangun jalan serta prasarana lainnya …. Kalau pengusaha tidak mau datang…. Siapa akan lakukan kegiatan disana …… karena itu pembangunan tak boleh semata2 mengutamakan mengandalkan pembangunan fisik saja…… Ekologi tak usah lagi disebut panjang lebar (karena sudah standar dan tak akan pernah dilupakan serta tak akan pernah dikesampingkan)…… maka itu seorang patriotic national development planner seharusnya tidak begitu antusias dengan pembangunan jawasentrisme…… karena jawasentrisme selain kontradik dengan penyelamatan ekologi di Jawa… ia juga hampir sama saja dengan ‘melecehkan’ kawasan luar Jawa yang 93.3% wilayah……atau sama saja itu dekat dengan sikap anasionalis…. ... Seorang patriotic national spatial planner sudah tentu pada saat yang sama adalah seorang nationalistic regional development planner…. Karena ia selalu berpaling ingin menjauh dari aglomerasi kota primat…. Dan sekaligus ia adalah juga seorang urban planner yang peduli pada kemiskinan dan pengangguran. ...dan last but not least tentu saja juga seorang city planner…. yang selalu ingin merancang ruang yang indah dan menyenangkan. .. ruang bagi kegiatan kehidupan manusia..... .. Dalam memandang regional development ia akan selalu lebih mengedepankan national integrity lebih daripada sekedar ego/ provincial interest yang tak jelas alasannya…… Ia akan lebih berpikir mengedepankan demografi… industri manufaktur untuk job creation dan multiplier effect… megapolitan dan metropolitan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi….. aglomerasi sebagai pusat kegiatan… serta migrasi dan pengelolaan urbanisasi.. .... Salam, aby

