yth pak Aby, salam kenal, permisi ikut nimbrung, saya berpendapat semua itu 
tergantung keyakinan kita tentang kebijakan yang bagaimana yang perlu ditempuh 
apakah membiarkan aglomerasi makasar biar tumbuh sendiri dan investasi 
infrastruktur sesuai dengan kepadatan penduduk dikawasan tsb,  ataukah 
mempercepat aglomerasi makasar dengan meningkatkan fokus investasi kita kesana 
sehingga mempercepat pengembangan di Indonesia timur. atau ambil jalan tengah. 
yang terjadi sekarang kita sedang ambil jalan tengah dimana kita sudah mendapat 
bantuan TA dari JICA untuk pengembangan mamminasata 4 tahun belakangan ini  
dilanjut dengan TA untuk pengembangan sulawesi secara keseluruhan 2 tahun 
belakangan ini, dan selanjutnya JBIC dimana sekarang sdh menyatu dengan JICA, 
namanya sekarang menjadi JICA, mendanai sebagian konstruksi dari rencana 
pengembangan dimaksud. Dengan harapan tentunya pihak donor lain dan swasta ikut 
tertarik/ terpancing untuk investasi.tks.

wassalam,
 Wahyono Bintarto

--- On Thu, 9/18/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Re: ESDM Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2)
To: [email protected]
Date: Thursday, September 18, 2008, 12:36 AM

 Pak Nuzul ysh,  Menteri ESDM Purnomo itu kebetulan waktu klas 1 (1B) dan klas 
3 (3E) SMA sekelas dengan saya….. waktu itu saya yang dari SD biasa bersekolah 
dikota kecil kecamatan karena bapak saya ditugaskannya begitu… terbiasa dikota 
kecil dimana anak2 bersekolah biasa nyeker dan kalau saya pakai sepatu sendiri 
malah jadi aneh… ketika harus bersekolah disekolah yang boleh dibilang elit 
untuk ibukota propinsi tempat kami…. Saya memang sempat shock juga…..  Sudah 
saya termasuk paling miskin disekolah (bapak saya terlalu jujur kali ya?)…. 
Sudah begitu mayoritas siswanya dari non-pri dan dari anak orang2 kaya/ 
pejabat….dan pelajaran agama disekolahpun beda dari agama saya…. Saya lalu 
banyak menyendiri dan diam…. Lalu kata mas Purnomo … saya pengung…  Tapi 
setelah saya perhatikan mas Purnomo menjadi menteri ESDM sejak dari Presiden 
GusDur, Mega laluSBY….. dan urusan energi tak kunjung pernah beres…. Termasuk 
kontrak penjualan
 LNG Tangguh ke RRC yang konon  terlalu murah…….. akh saya pikir mas Purnomo 
sih sama2 pengung juga…. Sama dengan saya…..  Masak negeri penuh dengan SDA 
minyak dan gas.. saking berlebih sampai gasnya dijual kontrak ke RRC secara 
amat murah….. belum lagi ada sumber biofuel dan biogas dari kotoran sapi….dari 
angin.. panas bumi dan terakhir termahal tenaga surya (konon utk jangka panjang 
jadi tidak mahal juga)…. Lha kok mau bikin pembangkit listrik di SulSel saja 
sampai pak Nuzul nanya ke orang jalanan  macem saya…. Wah terbalik deh dunia 
ini…..    Pak Nuzul…., serombongan pengusaha asing mau relokasi industri sih 
baik saja….. tapi kalau itu serombongan petualang pengusaha pabrik besi 
kacangan dari RRC yang disana sudah dilarang beroperasi karena merusak 
lingkungan dan mau berelokasi ke Indonesia dan membuat produk2 dengan ukuran 
‘banci’ tak sesuai standar SNI….. kita sih tak boleh terpesona sama yang 
begituan…..    
 Mengembangkan kawasan tertinggal dengan industri adalah dengan “industri 
(manufaktur) nasional yang memimpin” (leading industries) yang telah ada dibumi 
sendiri (dalam konteks ini Indonesia secara faktual menjadi pasar ke-3 terbesar 
dunia utk industri tsb) …… yang jelas sehat pada berbagai aspeknya…. Dan sangat 
jelas pula multiplier effectnya……  dalam hal ini sudah saya sebutkan sebagai 
persemaian  fasilitas produksi kelas jauh (filial) dari industri sepeda motor.. 
dimana tiap industri otomotif itu membangkitkan berdirinya sekitar 50 
perusahaan subkontraktor … dan tiap perusahaan subkontraktor itu membangkitkan 
pula berdirinya 50 perusahaan  sub-subkontraktor……     Orang Papua atau Ternate 
yang biasa belanja/ menjual barang barang ke Surabaya tak usah hari ini dipaksa 
beli barang ke Makasar…..ngapain? ...
Kalau dinamika aglomerasi Makasar telah terbentuk…. Dengan sendirinya para 
pedagang besar di Surabaya akan mengekspansi pasarnya dengan membuka cabang di 
Makassar… untuk lebih mendekati konsumennya diKTI….. dan para trader di KTI 
(NTT, NTB, Sulawesi, Maluku, Papua, Kaltim)  sana tanpa dipaksa tentu akan 
merasa lebih murah untuk berbelanja di Mks dibanding ke Sby… karena jarak lebih 
dekat, biaya perjalanan/angkut lebih murah  serta harga sama dengan di Sby……    
 Saya tidak berpikir tentang membangun Mks sebagai pusat KTI ’at all cost’….. 
termasuk dengan mengundang para petualang relokasi  dirty industries dari China 
itu…... Dengan daya yang ada.. serta dengan cara yang elegan…. kita sebenarnya 
bisa ‘membangun’ KTI kok….  Masalahnya adalah selama ini jiwa patriotisme itu 
tidak muncul……yang merembet pada tidak munculnya jiwa demokratik.. ....    
Salam,  aby      

--- On Wed, 9/17/08, Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [referensi] Re: KTI, Konsep Lama Merasuk Jiwa (2)
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Wednesday, September 17, 2008, 9:01 AM

Pak Aby dan Rekan-rekan Ysh, Semangat nasionalisme Pak Aby harus 
diapresiasi, konsisten dan "keukeh" pada pendirian pada national spatial 
development planning, biar kata orang-orang itu bilang sudah kuno... he he 
he.:). Tapi dari pada kita berputar putar tentang argumentasi menumbuhkan 
Kawasan Timur Indonesia dengan pusat pertumbuhan Makassar, saya ingin dengar 
cerita dari pak Aby nih, gimana dengan ketersediaan energy listrik di Sulsel, 
cukup nggak kira-kira serombongan pengusaha mau relokasi industri ke KIMA? 
Diperoleh berita bahwa Kawasan Industri Makasar (KIMA) tidak bergerak 
signifikan, Padahal dulu waktu jamannya pemerintahan sentralistrik, Makasar 
memang diarahkan sedemikan rupa jadi pusat kegiatan ekonomi, dan pada era 
sentralistik pula KIMA seperti tak bergairah lagi.  Sebutlah saya pengusaha 
industri (footloose industries), sebenarnya ingin juga relokasi ke luar Jawa. 
Pasar saya ada di kawasan Asia Pacifik, khususnya Asia Timur. Tapi
 karena listrik tidak cukup di Sulsel, saya lebih suka ke Sumatera Bagian 
Selatan (Sumbagsel) karena supply energy listrik lumayan, sudah diperkuat 
oleh interkoneksi pembangkit listrik di Muara Enim.  Singkat cerita, presiden 
RI dan Wapres boleh perintahkan Menteri PU untuk prioritaskan bangun jalan, dan 
Menteri Perhubungan perbesar kapasitas pelabuhan kontainer Makasar. Lha, ketika 
Menteri Energy dipaksa harus membangun pembangkit listrik di Sulsel bilang, 
Menteri ESDM bilang, bapak Presiden, PLN nggak punya duit lagi pak, bahkan BBM 
saja masih nunggak di Pertamina.. ampun deh pak, gas nggak mencukupi.  Gimana 
tuh pak Aby, akankah kita tetap konsisten pada mimpi-mimpi indah demi 
nasionalisme, pokoke Makasar harus jadi pusat pertumbuhan (baru) di jagad 
nusantara ini at all cost. Oh ya lagi, gimana caranya maksa orang-orang Papua 
beli barang ke Makasar, bukan Surabaya.  Ingin dengar cerita segar dari Pak 
Aby... tapi jangan yang pake orde orde
 pusat pertumbuhan lagi ya.. agar nggak jenuh he he he .. just 
kidding. Cheers, Nuzul Achjar        
              


      

Kirim email ke