On Monday, November 3, 2008 3:00 AM
"Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED] wrote:
 
“…..Saya sih juga belum yakin, apakah kota-kota lain di luar jawa mau dilimpahi 
beban dan tugas menjadi Ibukota. Mendingan menjaga ‘keperawanan’ kota-kota di 
luar jawa, sebelum terkena jamahan ‘kutukan menjadi ibukota’…..”
 
Saya tertarik pada hipotesanya  mas Dwi tentang “…menjaga ‘keperawanan’ 
kota-kota di luar jawa…”….. 
Kalo boleh usulkan… saya ingat .. bu Reny khan punya “pulisi  tataruang” khan 
ya?….
Saya pikir “pulisi tata ruang”nya bu Reny ini akan pas sekali kalau ditugasi 
menjaga keperawanan kota-kotanya mas Dwi diluar Jawa itu…. Jadi bisa bersinergi 
dengan hipotesanya mas Dwi itu….
Nanti kalau  ada kasus keperawanan kota yang jebol…. Saya kira “pulisi tata 
ruang”nya bu Reny bisa sigap segera membuat pagar betis kota dan menjaga serta  
memastikan  agar tak ada pihak2 yang mau lolos  dan mau lari dari 
tanggungjawab…..
 
Salam,
aby


--- On Mon, 11/3/08, Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [email protected]
Date: Monday, November 3, 2008, 3:00 AM








Selamat Siang Pak BSP, ysh
Dan rekan milister lainnya… 
 
Senang mendapat email yang segar dari Pak BSP. 
Paragraph terakhir tulisan bapak, sepenuhnya saya dukung. Dengan tambahan 
sedikit: kuncinya bukan ibukota pindah atau tidak, tetapi kemampuan kita 
memanage Jakarta, juga bagaimana kemampuan daerah lain di luar Jakarta 
memanfaatkan ke(tidak)mampuan Jakarta memanage kota Jakarta. 
 
Saya jadi ingat cerita,…. beberapa bulan lalu, ketika pergi ke Semarang, hendak 
membayar uang muka kontrakan rumah untuk istri saya yang sedang meneruskan 
sekolah di tempatnya Bang Fadjar mengajar,….. saya bertemu si pemilik rumah 
kontrakan, yang adalah pensiunan petinggi BI, yang sudah bekerja di berbagai 
kantor perwakilan BI di daerah, dan sekarang sedang diminta bantuan untuk 
membantu BPD jateng. 
Beliau cerita-cerita soal bagaimana BPD jateng mestinya mengambil segala 
kesempatan, termasuk memanfaatkan apa yang ada di Jakarta. 
Jadi ketika BPD membuka cabang Jakarta, mestinya dimaksudkan untuk ‘mengeruk 
potensi kapital’ yang ada di Jakarta yang dipegang oleh para 
‘pengusaha-pengusaha jateng’, para bakul bakso, bakul soto, yang potensi 
kapitalnya besar sekali,… Beliau memberitahu strategi penempatan BPD jateng 
mestinya bisa accessible oleh para pemegang capital yang bisa direangkul untuk 
menaruhdananya di BPD ,… mestinya taruh kantor cabang di tengah pasar-pasar 
tradisional,…. Di tengah perkampungan para imigran urban dari Jateng,….
Beliau jg menertawakan sebuah BPD yang buka kantor di Hotel Kartika Tjandra 
Gatot Subroto,… lah, pedagang2 kulakan bakso itu mana mau datang ke situ,….. 
 
Jadi sebenarnya adanya capital yang ada di Jakarta bukan berarti capital 
non-acessible oleh mereka yang mau menjangkaunya,…. sayang, kadang mereka yang 
sebenarnya bisa mengakses capital di Jakarta itu tapi belum tahu bagaimana 
menyentuhnya apalagi menariknya kembali ke daerah,… (malah BPD mengendapkan 
balik dananya ke SBI di Jakarta)  
 
 
 
Saya sih juga belum yakin, apakah kota-kota lain di luar jawa mau dilimpahi 
beban dan tugas menjadi Ibukota. Mendingan menjaga ‘keperawanan’ kota-kota di 
luar jawa, sebelum terkena jamahan ‘kutukan menjadi ibukota’.
 
 
Thanks
 

Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
bdwiagus.blogspot. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib [EMAIL PROTECTED] com 
 


From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of [EMAIL PROTECTED] net.id
Sent: 03 November 2008 09:14
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
 



Selamat pagi mas Dwiagus, selamat pagi Milister yth.

Sudah lama sekali saya tidak menulis dalam milist ini, meskipun saya selalu 
mengikuti terus perkembangan milist. Namun kali ini saya mencoba untuk sedikit 
nimbrung dalam diskusi ibukota ngacir ke luar Jawa ini.

Dari beberapa bulan ini issue tentang Jakarta semakin padet bahkan ada yang 
mengatakan Jakarta lumpuh sudah muncul dalam diskusi. Meskipun kalau kita runut 
ini juga antara lain andil dari para planner juga... he he he termasuk jaman 
saya tahun 1981 dengan JMDP (jabotabek metropolitan development project) dan 
1991 dengan JIAP (jabotabek implementation advisory project) sebagai 
implementasi Inpres 13/1976 tentang Pelaksanaan Pembangunan Jabotabek.

Pemikiran ibukota negara pindah itu sah-sah saja.. wong jaman bung Karno saja 
sudah dipikirkan tentang pindah ke Palangka Raya. Yang jadi pertanyaan adalah 
apakah tujuan kita memindah ibukota. Apakah itu tujuannya untuk menyelamatkan 
Jakarta, atau berfungsinya Kantor Pemerintahan Nasional. 

Kalau boleh saya katakan bahwa Jakarta itu menjadi seperti sekarang itu bukan 
secara langsung karena adanya pusat pemerintahan. Jakarta seperti ini karena 
kegiatan ekonomi yang terakumulasi di Jakarta. Karena semua fungsi ekonomi 
terpusat di Jakarta. Cilakanya, ini sangat disenangi oleh pejabat pemerintahan. 
Meskipun selalu ada kebijakan redistribusi fungsi ke daerah, tapi kenyataannya 
kebijakan yg terjadi tidak seperti itu. Sampai dengan sekarang kebijakan 
redistribusi ke daerah lebih bersifat lip-service. Termasuk didalamnya adalah 
hegemoni tentang penataan ruang. Jakarta sentris demikian kental dalam setiap 
policy.

Saat inipun saya kebetulan menjadi anggota tim Revisi Undang-Undang 32 ttg 
Pemerintahan di Daerah, semangat Jakarta sentris sangat kental. Tidak terlalu 
lama akan ada Peraturan Pemerintah tentang Peran Gubernur sebagai wakil 
Pemerintah Pusat.... dan kalau tdk hati2 akan terjadi re-sentralisasi. 

Jadi sebelum kita bermimpi tentang memindahkan ibukota. Tolong kita lebih 
mendalami policy framework dari sistem kenegaraan ini dan sistem ekonomi 
nasionalnya. Coba dicek bagaimana kebijakan Menteri Perdagangan dan industri di 
daerah. Bagaimana Menteri Perhubungan mengatur tata transportasi nasional. 
Bagaimana sistem perbankan nasional dikembangkan.

Saat ini dalam mendorong keistimewaan Yogyakarta, saya mencoba memberikan sudut 
yg lain dari hanya sekedar issue penetapan dan pemilihan. Saya bersama tim 
sedang mengusahakan agar dalam draft RUUK DIY dimasukkan klausul bahwa :

Kerahasiaan nasabah bank di Yogyakarta dijamin sempurna. Hanya raja atau 
presiden yang berhak memberi ijin pemeriksaan.

Saya sangat yakin dengan klausul itu, Yogyakarta akan booming ekonominya. 
Sehingga tidak perlu repot2 pemerintah investasi mbangun kota baru atau ibukota 
baru. Saya banyak melihat contoh ibukota-ibukota propinsi baru yang nasibnya 
menjadi kota-kota mati. 

Karena pemindahan ibukota bukan sekedar memindahkan fisik, tetapi memindahkan 
rohnya, dan itu hanya terjadi bila kita menyelami secara benar rohnya ekonomi 
di Indonesia. Sekali lagi, saya pernah mengingatkan dulu pernah saya ungkapkan 
tentang kasus Chandigar. Akankah itu kita ulang. 

Tokyo bisa tetap menggabung fungsi ekonomi dengan fungsi pemerintahannya 
sehingga menghasilkan sebuah megalopolitan dan masih bisa kondisinya lebih baik 
dibanding biukot-ibukota lain di Asia secara relatif. 

Menurut saya kuncinya bukan ibukota pindah atau tidak, tetapi kemampuan kita 
memanage Jakarta. 

Salam

bambang sp/jogja



 














      

Kirim email ke