Halo Bung Andri, Selamat Tahun Baru 2009. wah..sepertinya Anda tak  lelah terus 
berjuang anti aglomerasi Jakarta. Saya juga anti aglomerasi Jakarta,cuman saya 
lebih berharap daerah itu melakukan inovasi untuk cepat berkembang dan maju, 
sementara Anda meminta agar Jakarta berhenti berkembang dan meminta kesempatan 
daerah untuk berkembang. Itulah yang saya bisa tangkap dari posting-posting 
Anda soal anti aglomerasi Jakarta di milis ini.
 
Dalam kesempatan ini saya ingin menanggapi tulisan yang Anda tampilkan berisi 
ide agar ada keberanian Pemerintah untuk memindahkan kantor-kantor pusat 
industri (khususnya BUMN) pengolah sumber daya alam  ke daerah penghasil.. 
 
Saya berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada kekuatan yang bisa menahan 
aglomerasi Jakarta (mungkin tepatnya The Greater Metropolitan Jakarta), 
termasuk juga Pemerintah baik melalui regulasi maupun kebijakan fiskal. Tidak 
ada! Jadi bukan soal berani atau tidak berani, tapi memang ya tidak bisa.
 
Kemudian soal Headquarter Office yang di Jakarta agar dipindah ke lokasi SDA 
dengan anggapan bahwa headquarter office itu mampu mendorong perkembangan.. Ide 
ini rada aneh juga soalnya headquarter itu jumlah pegawainya tidak banyak, 
bersifat administratif, dan jumlah pegawai jauh lebih besar di lokasi SDA. 
Contohnya RNI itu. Walaupun ia mempunyai pabrik besar di Luar Jawa, RNI itu 
adalah Perusahaan Induk dari banyak anak-anak perusahaan. Ada 7 perusahaan anak 
bidang gula, 3 perusahaan anak bidang farmasi, dan 5 perusahaan anak bidang 
perdagangan. Terus mau dipindah ke mana?. Jadi ya tak mungkin harus pindah di 
Luar Jawa. Terus gimana dengan perusahaan anak di bidang perdagangan, khan 
nggak mungkin pindah ke Gorontalo (salah satu perusahaan anak di bidang gula).
 
Contoh Lippo di Karawaci dianggap sukses memindahkan Kantor Pusat di Karawaci 
sehingga mampu mengembangkan daerah sekitar juga perlu dipertanyakan. Soalnya 
perkembangan Karawaci itu sekarang ini bukan karena pindahnya Kantor Pusat 
Lippo, tetapi sudah menjadi bagian dari spill over perkembangan Jakarta (karena 
ada jalan tol). Coba saja Lippo itu pindah di Pangandaran (Kabuaten Banjar-Jawa 
Barat), ya nggak akan mampu men-generate perkembangan Pangandaran.
 
Itu pendapat saya. Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 1/1/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:

From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
Subject: [referensi] FW: Beranikah Pemerintah?
To: 
Date: Thursday, January 1, 2009, 12:47 PM






Artikel ini agaknya menunjukkan bahwa sudah banyak pihak yang
merasakan aglomerasi Jakarta -- yang memang sudah sangat keterlaluan.

Salam,
Andri

----- Forwarded Message ----
From: "bambangsoesatyo@ yahoo.com" <bambangsoesatyo@ yahoo.com>
To: Forum Hipmi <forumhi...@yahoogro ups.com>
Sent: Thursday, January 1, 2009 5:38:04 PM
Subject: [ForumHIPMI] Beranikah SBY?

BERANIKAH PEMERINTAH?

memerintahkan manajemen pengelola BUMN untuk tinggal / pindah bersama
keluarganya dipusat kegiatan BUMN itu?!!
Banyak yang tidak pernah bisa mengerti atau mendapatkan penjelasan
yang rasional kenapa BUMN selalu mempunyai kantor operasi di Jakarta.
Kantor operasi yang sangat tidak efisien, kadang mewah tapi tidak
secara strategis mempunyai guna untuk perseroan. Pertanyaan bahkan
kegalauan kadang timbul melihat BUMN seperti Pupuk Kaltim misalnya
yang material dasarnya di Kalimantan, pabriknya di Kalimantan,
pasarnya Terutama di Kalimantan, harus mempunyai kantor di Jakarta.
RNI mempunyai pabrik gula di Jawa tengah/timur, dekat dengan
perkebunannya, pasar yang tersebar di Jawa tapi juga beroperasi dengan
gagah di Jakarta. . Aneh memang jika semua operasi tehnis perseroan
berlokasi diluar Jakarta, tetapi phisik para pengelolanya berada dan
dibiayai dengan mahal untuk menikmati harumnya kekuasaan di Jakarta
BUMN, seharusnya dapat menjadi lokomotif pembangunan daerah.,
karena BUMN memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap disinsentif
Usaha dan efektif sebagai alat untuk mentransformasi kebijakan
pemerintah yang terkadang sulit diimplementasikan di lapangan . BUMN
juga bahkan mampu menciptakan stimulan yang dapat membangun
infrastruktur didaerah, termasuk sarana pendidikan dan sentra ekonomi
lainnya.
Dengan masuknya BUMN ke daerah diharapkan terjadi multiplier efek yang
mampu meningkatkan size Perekonomian daerah. Baik melalui accumulated
creating capital maupun efek ikutan dari pelaku usaha swasta yang
masuk setelah resiko usaha mulai menurun. Dengan adanya business
entity yang besar di daerah diharapkan juga mendorong desentraliasasi
sumber daya manusia yang unggul ke daerah. Sumber daya yang selama ini
lari ke Jakarta dapat ditahan oleh daerah karena terdapat tantangan
dan kesempatan kerja yang setara. Jika manajemen RNI misalnya
diwajibkan untuk berkantor dan bekerja di dekat pabrik Jawa tengah,
Pupuk Kaltim ke Kalimantan, Merpati ke Makasar, Bukit Asam ke Sumatera
selatan, Pertamina ke Riau, BNI ke Sumatera Utara. Maka dapat
dibayangkan bagaimana semua pegawai inti yang mempunyai pendidikan
bagus, pindah kedaerah membawa keluarga, membawa pindah kemakmuran
yang mereka miliki. Semua suplier utama akan pindah, sekolah sebagai
lembaga penunjang akan secara otomatis berdiri atau menyempurnakan
diri, sentra perekonomian akan bergerak dan yang menarik akan terjadi
interaksi antar komponen bangsa yang tadinya tidak saling mengenal.
Kluster industri secara strategis akan terbentuk.
Kemajuan tehnologi komunikasi dan peningkatan kemampuan industri
transportasi memfasilitasi perseroan untuk beroperasi dengan efisien.
Levis telah memindahkan kantor pusatnya jauh ke pinggiran kota, Lippo
secara taktis memindahkan kantor pusat serta dengan konsisten memaksa
semua jajaran SDM nya untuk pindah ke Karawaci. Mereka berhasil,
lingkungan daerah nya pun berkembang. Tidak ada alasan bagi BUMN untuk
juga kembali memfungsikan dirinya sebagai 'agent of development' ,
didaerah mrk beroperasi.
Diperlukan keberanian bertindak bahkan memerintah agar BUMN yang
selama ini merajalela di Ibukota , bergaul, bersentuhan langsung
dengan pusat kekuasaan dipindahkan secara phisik ke daerah yang memang
tidak mempunyai dan membutuhkan big Bussiness entity untuk mampu
menggali keunggulan komparatif nya. Perpindahan yang bisa diartikan
berupa 'hijrah'. Perpindahan yang jangan diartikan sebagai kemunduran
bahkan pengorbanan, tetapi perpindahan yang harus dirasakan sebagai
perjalanan pulang kampung untuk membangun daerah.
Beranikah Presiden Perintah Ini?!!
tito sulistio

Sent from my BlackBerry(R) wireless device
Sent from my BlackBerry(R) smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss... !
------------ --------- --------- ------

Yahoo! Groups Links

 














      

Kirim email ke