Saya juga setuju terukur pak Eka ysh, Apapun alat pembangunannya (maupu RPJP, RPJM, RTRW, pembangunan ekonomi pasar/rakyat, dll), pada akhir setiap periode bila jumlah penduduk asal yang semula kurang sejahtera semakin sedikit dan luas serta kondisi lingkungan alam yang semula berada di bawah standar semakin berkurang, pembangunan tersebut dapat dianggap berhasil (berapapun tingkat keberhasilannya).
Terukur disini adalah angka-angka nyata dengan individu yang nyata (bukan agregat = tidak terukur) dan dapat diidentifikasi/diukur di lapangan secara nyata. Ukuran dapat saja disepakati (dipertahankan lebih dahulu kelayakannya dalam kampanye pembangunan) pada awal program berdasarkan kepentingan pemangku kepentingan. Keberhasilan dari aspek manusia misalnya kekurangan penghasilan penduduk asal terhadap pengeluarannya semakin kecil (sesuai kondisi daerahnya masing-masing), penduduk lokal: yang tidak punya atau kehilangan pekerjaan, yang kualitas hidup di bawah ukuran standar baku kesehatan dan gizi semakin sedikit, tidak punya tempat tinggal, memiliki status tidak legal, tergusur oleh pendatang baru, tidak siap menanggulangi risiko kriminalitas, kecelakaan, bencana, dsb semakin berkurang. Keberhasilan dalam aspek ekologis misalnya berkurangnya luas hutan lindung/suaka/bakau/terumbu karang/padamg lanun setempat yang rusak, meningkatnya jumlah dan kualitas air minum memenuhi standar kesehatan yang dapat dinikmati penduduk asal, dll. Mengapa penduduk asal atau lingkungan lokal sebagai ukuran utamanya? karena bila kondisi lokal semakin baik, maka biaya untuk berpindah, berkomuter, menggunakan sarana antara, pemborosan pemanfaatan sumber daya alam, dll akan semakin berkurang, manfaat pembangunan setempat lebih besar, hilangnya sumber daya dan energi setempat bagi kepentingan luar yang sukar diukur manfaatnya bagi setempat semakin kecil. Peningkatan potensi lokal semakin terduga. Pendekatan ini sangat berbeda dengan konsep persaingan pasar oleh pelaku yang tidak berbasis lokal, yang banyak menghasil pelaku hit and run. Kalau tidak menghasilkan manfaat komersial atau kompetitif lagi pindah lokasi, tanpa tanggung jawab terhadap lokasi setempat, ternasuk komunitas setempat maupun lingkungan alam setempat. Jadi, kalau terukur, kembangkanlah ukuran yang benar-benar relevan dengan keterukuran tersebut (manusia dan alam setempat), bukan maya atau berasal dari angka statistik diatas kertas atau kurs bank yang berfluktuasi antar negara dan foot lose. Abimanyu On Thu, Feb 12, 2009 at 10:56 AM, ffekadj <[email protected]> wrote: > > Yang jelas Pak Benny, dengan adanya revolusi BB maka semuanya jadi lebih > terukur. > > Powered by So'e StrawBerry(R) > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, > beherma...@... wrote: > > > > Sy pilih yg terukur pak....apalagi sdh dituntut makin rinci...bgmn yg > lain? > > Powered by Telkomsel BlackBerry(R) > > > > -----Original Message----- > > From: isoedrad...@... > > > > Date: Thu, 12 Feb 2009 03:18:09 > > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com> > > Subject: Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan ruang utk Sekt > Informal? RE: [referensi] Sektor Informal Perkotaan > > > > > > Ada dua sifat planner yg sering saya hadapi. > > 1. Yg suka dgn pemikiran2 tapi tdk ada ukurannya. > > 2. Ada yg suka semuanya pengen terukur. > > Nah, tinggal pilih yg mana. > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry(R) > > >

