Ysh Pak Eko dan milister lainnya.
 
Menurut saya tetap saja bisa disebut sektor informal soalnya nggak mungkin bisa 
mendata pedagang-pedagang ini dan rasanya tidak ada gunanya mendata mereka. 
Sekarang didata penjual tas, kali lain dia jualan sepatu. Hari ini jualan CD, 
lain kali jualan mainan anak-anak. Kalau ditanya alamatnya juga tidak jelas 
karena dia menyewa jangka pendek dan pindah-pindah. Belum lagi jumlahnya bisa 
mengkerut dan kali lain (pas lebaran) bisa membengkak. 
 
Kalau mereka membayar retribusi tidak berarti formal. Asal menggunakan aset 
Pemda, maka wajib membayar retribusi. Sedangkan pajak, rasanya nggak mungkin 
mereka  dipajaki. Lagipula dalam UU 34/2000 tentang Pajak Daerah koq ya tidak 
ada pajak untuk penjual eceran semacam itu.
 
Ruang buat sektor informal hanya sekedar memberi ruang sehingga tertib di 
lokasi yang  legal, tapi tetap saja mereka itu informal (tidak mudah 
diformalkan). Hanya sedikit dari mereka kemudian berkembang maju dan berubah 
menjadi formal.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 2/12/09, Eko B K <[email protected]> wrote:

From: Eko B K <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] intermezzo - Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan 
ruang utk Sekt Informal?
To: [email protected]
Date: Thursday, February 12, 2009, 10:27 AM










Pak Iman, Pak Benny, Pak BdwiAgus, dan rekan2 ysh.

Ini juga menjadi pertanyaan saya, kalau RTR kota menyediakan ruang khusus bagi 
sektor informal, kemudian usaha mereka di data, membayar retribusi/pajak atau 
apapun namanya, kemudian usaha mereka menjadi tetap bukan temporal, dst. 
bukankah mereka kemudian menjadi "sektor formal"? 

Tidak ada yg salah di sini, namun dengan demikian penyebutan sebagai 
"penyediaan ruang bagi sektor informal" menjadi tidak tepat karena di ruang tsb 
nantinya sudah tidak ada lagi sektor informal, melainkan pengusaha2 baru sektor 
formal...menurut hemat saya mungkin lebih tepat disebut sebagai penyediaan 
ruang bagi usaha kecil-menengah. ..

salam,

Eko.




--- On Thu, 2/12/09, beherma...@yahoo. com <beherma...@yahoo. com> wrote:

From: beherma...@yahoo. com <beherma...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] intermezzo - Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan 
ruang utk Sekt Informal?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, February 12, 2009, 8:40 AM




Sepemahamn sy,Sy kira informal sektor scr teoritis bersifat temporal dan 
melengkapi sektor formal ,meskipun byk tulisan menyebutkan bhw kontfibusinya 
sangat besar aplg saat krisis.mnrt saya adanya peruntykan scr khusus bagi ruang 
informal dgn persentase tertentu dlm rtr akan berpotensi membuatnya jd formal n 
tdk temporal lagi,seperti kasus solo sbgm post in mas agus.mnrt saya dlm rtr yg 
penting adalh ruang3 publik baik hijau atau non hijau yg seyogyanya melekat 
fungsi sosial ekonomi n lingkungan tentunya. Dgn ketentuan tertentu dan 
fasulitas yg baik,ruang tsb boleh dimanfaatkan utk sektor informal sepanjang 
fungsi utama tdk terganggu svr menerus.tapi hal ini nampaknya akan kurang ramah 
dlm perspektif sospol.makanya dlm uupr sgt didorong ada ketentuan terukur utk 
ruang publik termasuk rth bukan ukuran ruang informal 
Semoga masih sesuai laptop.tks
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: isoedradjat@ yahoo.com
Date: Thu, 12 Feb 2009 05:42:16 +0000
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: Re: [referensi] intermezzo - Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan 
ruang utk Sekt Informal?



Memang berbeda pada waktu memberika norma ut RTH, krn strukturnya satu kota dgn 
kota lainnya akan mirip2. Sementara ut informal sektor dari satu kota dgn kota 
lainnya bisa sangat berbeda, walaupun hampir semua kota2 di -ndonesia ada 
informal sektornya. Sy setuju usulan Bung Dwi ukurannya dilihat kasus perkasus.
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: "Benedictus Dwiagus Stepantoro" 
Date: Thu, 12 Feb 2009 12:14:05 +0700
To: <refere...@yahoogrou ps.com>
Subject: RE: [referensi] intermezzo - Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan 
ruang utk Sekt Informal?





Kembali ke laptop,… 
 
Mungkin indikator yang semi-terukur itu bisa dilihat pada tataran kebijakannya 
dan konsep implementasinya, dan tak perlu ada ukuran-ukuran tertentu yang butuh 
itung2an dsb,… 
Misal: Ketika Kota Solo membenah pasar tradisionalnya dan membuat daerah wisata 
kuliner yang menampung beberapa sektor informal,… atau kota malang yang menolak 
membangun mall dan membantu SME terutama yang sektor informal mendapatkan ruang 
usahanya,….  Lantas sudah cukup jadi indikator yang memadai untuk dianggap 
sudah memenuhi amanat UUPR itu,….  Jadi tak perlu ukuran-ukuran 20% wilayah 
dijadikan ruang khusus untuk sektor informal, atau 80% pelaku sektor informal 
yang terdata sudah mendapat ruang usahanya,… 
 
Sepertinya untuk melihat apakah sebuah kota sudah memenuhi amanat UUPR untuk 
menyediakan ruang bagi sektor informal, akan tergantung pada kreativitas si 
pengelola kota membuat indikatornya,… .  
 

Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 


From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of abimanyu takdir alamsyah
Sent: 12 February 2009 11:53
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] intermezzo - Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan 
ruang utk Sekt Informal?
 



Saya juga setuju terukur pak Eka ysh, 

Apapun alat pembangunannya (maupu  RPJP, RPJM, RTRW, pembangunan ekonomi 
pasar/rakyat, dll), pada akhir setiap periode bila jumlah penduduk asal yang 
semula kurang sejahtera semakin sedikit dan luas serta kondisi lingkungan alam 
yang semula berada di bawah standar semakin berkurang, pembangunan tersebut 
dapat dianggap berhasil (berapapun tingkat keberhasilannya) . 

Terukur disini adalah angka-angka nyata dengan individu yang nyata (bukan 
agregat  = tidak terukur) dan dapat diidentifikasi/ diukur di lapangan secara 
nyata. Ukuran dapat saja disepakati (dipertahankan lebih dahulu kelayakannya 
dalam kampanye pembangunan) pada awal program berdasarkan kepentingan pemangku 
kepentingan.

Keberhasilan dari aspek manusia misalnya kekurangan penghasilan penduduk asal 
terhadap pengeluarannya semakin kecil (sesuai kondisi daerahnya masing-masing) 
, penduduk lokal: yang tidak punya atau kehilangan pekerjaan, yang kualitas 
hidup di bawah ukuran standar baku kesehatan dan gizi semakin sedikit, tidak 
punya tempat tinggal, memiliki status tidak legal, tergusur oleh pendatang 
baru, tidak siap menanggulangi risiko kriminalitas, kecelakaan, bencana, dsb 
semakin berkurang. 

Keberhasilan dalam aspek ekologis misalnya berkurangnya luas hutan 
lindung/suaka/ bakau/terumbu karang/padamg lanun setempat yang rusak, 
meningkatnya jumlah dan kualitas air minum memenuhi standar kesehatan yang 
dapat dinikmati penduduk asal, dll.

Mengapa penduduk asal atau lingkungan lokal sebagai ukuran utamanya? karena 
bila kondisi lokal semakin baik, maka biaya untuk berpindah, berkomuter, 
menggunakan sarana antara, pemborosan pemanfaatan sumber daya alam, dll akan 
semakin berkurang, manfaat pembangunan setempat lebih besar, hilangnya sumber 
daya dan energi setempat bagi kepentingan luar yang sukar diukur manfaatnya 
bagi setempat semakin kecil. Peningkatan potensi lokal semakin terduga..

Pendekatan ini sangat berbeda dengan konsep persaingan pasar oleh pelaku yang 
tidak berbasis lokal, yang banyak menghasil pelaku hit and run. Kalau tidak 
menghasilkan manfaat komersial atau kompetitif lagi pindah lokasi, tanpa 
tanggung jawab terhadap lokasi setempat, ternasuk komunitas setempat maupun 
lingkungan alam setempat. 

Jadi, kalau terukur, kembangkanlah ukuran yang benar-benar relevan dengan 
keterukuran tersebut (manusia dan alam setempat), bukan maya atau berasal dari 
angka statistik diatas kertas atau kurs bank yang berfluktuasi antar negara dan 
foot lose. 

Abimanyu




On Thu, Feb 12, 2009 at 10:56 AM, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:





Yang jelas Pak Benny, dengan adanya revolusi BB maka semuanya jadi lebih
terukur.

Powered by So'e StrawBerry(R)

--- In refere...@yahoogrou ps.com, beherma...@. .. wrote:
>
> Sy pilih yg terukur pak....apalagi sdh dituntut makin rinci...bgmn yg
lain?
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> -----Original Message-----
> From: isoedradjat@ ...
>
> Date: Thu, 12 Feb 2009 03:18:09
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: Re: Indikator RTR kota sdh menyiapkan ruang utk Sekt
Informal? RE: [referensi] Sektor Informal Perkotaan
>
>
> Ada dua sifat planner yg sering saya hadapi.
> 1. Yg suka dgn pemikiran2 tapi tdk ada ukurannya.
> 2. Ada yg suka semuanya pengen terukur.
> Nah, tinggal pilih yg mana.
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
 


















      

Kirim email ke