"Nuzul Achjar" ach...@.......... wrote:
 
“…Perencanaan regional Papua sekarang dan ke depan diarahkan pada desa. Pak 
Bas menyebut langkahnya sebagai "people driven development strategy.  Secara 
implisit saya kira pak Bas inging mengatakan bahwa meningkatkan 
kualitas SDM Papua antara lain dapat dimulai dari penataan institusi desa. "…… 
Waduh pak Nuzul……. Kok desa siiiih?...... temen2 planner dan DJPR khan 
mainannya bukan yg desa2 gitu paak?....... Yang ‘kota-kota’ gitu  ada nggak 
siih?......... soalnya temen2 planner dan DJPR itu lebih senengnya yang 
’kota-kota’ gitu lho paak?..... tapi  itu juga bukannya lalu kota-kota yang 
besar gitu  pak?…. tapi  ingingnya kota-kota yang kecil-kecil…. malah kalau  
bisa ya kota yang perawan-perawan gitu…... yang nanti disana bisa dibuat jalur 
khusus sepeda lalu ada pohon2 yang rindang dan khan lalu karenanya bisa ada 
suara burung2 berkicau… mungkin juga nanti ada suara ayam berkokok…… atau 
kambing mengembik……... 
Tolong bener deh ya pak Nuzul?..........

Salam dari aby
 
--- On Sun, 2/15/09, Nuzul Achjar <ach...@........> wrote:

From: Nuzul Achjar <ach...@.........>
Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan Buntu?
To: [email protected]
Date: Sunday, February 15, 2009, 10:31 AM







 
Pak Risfan, Pak Aunur, Pak Aby, Pak BTS, uda Eka, dan rekan-rkan Milister Ysh,
 
Menyambung diskusi yang disampaikan pak Risfan tentang kelembagaan, ideologi 
atau paham-paham yang melandasi perencanaan, tentang UKM, tentang infrastruktur 
Papua yang menjadi concern uda Eka pada diskusi lalu, izinkakah 
saya menyampaikan sedikit info terbaru  tentang Papua, karena kebetulan saya 
dan teman-teman dari Papua berkesempatan makan siang, sambil mendengarkan 
pandangan Pak Bas, Sabtu 14 Feb 2009 kemarin. 
 
Perencanaan regional Papua sekarang dan ke depan diarahkan pada desa. Pak 
Bas menyebut langkahnya sebagai "people driven development strategy". 
 
Secara implisit saya kira pak Bas inging mengatakan bahwa meningkatkan 
kualitas SDM Papua antara lain dapat dimulai dari penataan institusi 
desa. Diakuinya, ini perlu waktu melalui proses yang disebutnya sebagai mulai 
dengan "biasa" untuk kemudian menjadi "bisa", dan kelak diharapkan menjadi 
"budaya." 
 
Tantangan terbesar Papua memang, suka atau tidak suka, adalah persoalan 
"governance." Untuk menjawab tantangan itu, praktek "good governance" dimulai 
dengan "test case" desa. Ada sekitar 300 desa, tiap desa dapat antara Rp 
200-300 juta per tahun, lengkap dengan petunjuk pelaksananya termasuk 
monitoring dan evaluasinya serta tata cara pertanggunganjawab nya.     
 
Sebagai peneliti, kecemasan saya soal "governance" di Papua selama ini cukup 
beralasan, dan itu sangat dimaklumi pak Bas. Penjelasan pak Bas paling tidak 
dapat mengurangi kekuatiran saya dan teman-teman lain, apalagi beliau 
mengatakan bahwa paradigma pembangunan regional di Papua sudah berubah sama 
sekali.
 
Mengenai pengembangan UKM di Papua ke depan, pak Bas punya cerita menarik bahwa 
beliau sampai pergi ke Cina untuk melihat diapakan kayu-kayu Papua yang 
"dibawa" ke Cina. Alamak, ternyata kayu-kayu itu diolah menjadi furniture oleh 
UKM. Jadi ke depan, kenapa tidak diolah saja oleh UKM di Papua?
 
Pada tahun 2010, pada tahap awal Papua diharapkan sudah punya PLTA melalui 
bendungan sungai di Nabire dengan kapasitas 300 MW. Listrik ini akan dijual 
untuk Freeport, dan sisanya untuk masyakat Papua. Kapasitas PLTU dari sungai di 
Nabire seluruhnya dapat mencapai 2000 MW. Beberapa pelajar terbaik Papua sudah 
disiapkan belajar si luar negeri untuk menguasai kelistrikan ini. Dorongan 
untuk membuat PLTU ini antara lain adalah bahwa tak perlu PTFI mengeluarkan 
biaya lebih besar untuk pembangkit PLTU karena PLTA milik Pemerintah Papua jauh 
lebih murah.
 
Direncanakan juga akan dibuat pabrik semen dengan bahan baku tailing yang 
mengalir hingga Timika. Diperkirakan harga semen ini akan menjadi yang paling 
murah di Indonesia, diproritaskan untuk pembangunan infrastruktur di Papua. 
 
Well, kita tunggu bagaimana kiprah selanjutnya gubernur kita yang lumayan 
innovatif ini. Kesempatan baik bagi para planner, regional economist dll untuk 
memberikan kontribusi pemikiran kepada beliau. Tentu tak elok kalau saya 
ceritakan apa saja gebrakan yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini sebelum 
beliau umumkan sendiri, karena masih harus menunggu persetujuan pusat. Pokoknya 
lumayan innovatif, karena belum pernah dilakukan oleh daerah-daerah lain 
sebelumnya.
 
Wassalam,
 
Nuzul Achjar

 















      

Kirim email ke