Desentralisasi dan DAU memberikan peluang dan insentif pemekaran..
sama juga dengan dana RESPEK... makin banyak kampung.. makin banyak dana yg
dikelola..
dengn sistem admin seada nya.. akuntabilitas sgt rendah..

-K-

2009/2/17 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

>   Bu Any ysh,
>
> Kalau Kabupaten Yahukimo berpenduduk sekitar 10 ribu menjadi 500 desa, maka
> masing-masing desa berpenduduk 20 orang. Organisasi desa membutuhkan
> sedikitnya 10-15 orang antara lain : Kepala Desa (1), Sekdes (1), Badan
> Pertimbangan Desa (3), Ur. Pemerintahan (1), urusan Ekonomi dan Pembangunan
> (1), Ur. Kesejahteraan (1), Ur. Keuangan (1), Ur. Tatib (1)....sudah 10
> orang.. Jadi 10 orang pegawai desa mengurus 10 orang.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- On *Tue, 2/17/09, any susiani <[email protected]>* wrote:
>
> From: any susiani <[email protected]>
> Subject: [referensi] dana respek gubernur papua
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, February 17, 2009, 5:39 AM
>
>    ikut kasih pandangan... .karena kebetulan ketika minggu kemarin saya
> mempunyai kesempatan diundang makan malam oleh Pak Bas dengan wakil bupati
> dari Yahukimo (kabupaten yang masih berseteru dengan asmat soal
> suru-suru),beliau menceritakan bahwa akibat pemberiaan dana respek sebesar
> 100 juta setiap kampung tersebut beberapa kabupaten malah memecahkan
> kampungnya sehingga dalam satu kabupaten ada yang mencapai 500
> desa,bayangkan. ..
> entah ada penduduknya atau tidak kampung tersebut...
> berarti ada yang salah tangkap dari keinginan gubernur.faktor pengembangan
> sumber daya manusia mungkin menjadi faktor penting dalam pengembangan
> papua..
>
>
>
>
> --- Pada *Sel, 17/2/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>* menulis:
>
> Dari: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
> Topik: [referensi] Re: Sepeda Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan Buntu?
> Kepada: refere...@yahoogrou ps.com
>
> Cc: pl...@yahoogroups. com
> Tanggal: Selasa, 17 Februari, 2009, 11:56 AM
>
>     Prof Abim ysh,
>
> Kota dgn konsep sepeda utk Papua maap… saya maunya pilih2….. yg saya
> setujui adalah pertama utamanya lbh utk kawasan2 seperti Papua Selatan
> (Merauke, Timika, Agat), Teminabuan atau lembah muara sungai Mamberamo serta
> kawasan2 yg pokoknya topografiknya relatif landai ……Kalau utk kawasan yg
> topografiknya miring  sampai 45 derajat dimana utk jalan kaki saja orang
> harus setengah "memanjat"…. Bgmn mau bersepeda…. Utk naik saja sepedanya
> musti dituntun… dan utk turunnya…. Ya kalau remnya pakem…. Gimana dong bos
> kalo remnya blong?...... ....
>
> Salam dari aby
>
>
>
> --- On *Mon, 2/16/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>*wrote:
>
> From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
> Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan
> Buntu?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, February 16, 2009, 4:00 PM
>
>  Pak Is,
>
> Saya setuju anda. Papua sangat luas, lebih luas beberapa kali dari Jawa,
> dengan penduduk lebih sedikit dan lebih tersebar dengan banyak ragam budaya
> lokal. Tentu kondisi kultural yang berbeda menuntut pendekatan yang tidak
> stereotype seperti di kota-kota Jawa. Apakah konsep sepeda suatu yang wajar
> atau justru konsep baru bagi mereka yang lebih banyak jalan. Mungkin kota
> dengan konsep sepeda (16 km / jam) akan mencakup kawasan seluas Kebayoran
> Baru (awal). Sedangkan konsep kota berbasis jalan kaki seperempatnya. Alat
> transport sepeda harus import dari luar Papua (istilah import lebih jelas,
> walau tidak selalu dari luar negara). Begitu import sepeda lalu import
> sepeda motor yag bisa menguasai jalan sepeda dan jalan orang, artinya import
> BBM. Peningkatan konsumsi sudah jelas, bagaimana dengan peningkatan produksi
> dan pasarnya yang mampu memberi penghasilan lebih besar daripada peningkatan
> kebutuhan barang import yang di introduksi tersebut ? dsb, dst.
>
> Mungkin yang lebih sesuai, kota pantai yang sudah ada dapat dikembangkan.
> Yang kondisinya sudah terpolusi konsep Jawa ya boleh dah rekan-rekan berotak
> kota Jawa bereksperimen di sana. Namun peningkatan permukiman berkonsep
> perdesaan (yang lebih maju tentu) justru mungkin lebih membumi. Apalagi kota
> selalu minta "disangga" sumber daya alam desa. Bagaimana kalau desanya belum
> kuat? import lagi? Apalagi bila kita tidak ingin perkembangan perekonomian
> Papua cuma didominasi oleh "sumbangan keberlanjutan keberadaan Freeport"
> saja. Banyak planner, juga yang berasal dari pulau ini, yang basis
> pembangunannya bukan kota tapi pembangunan perdesaan (halo rekan-rekan PWD,
> apa kabar?)....yang pentingkan tingkat kesejahteraannya meningkat, daya
> dukung lingkungannya lebih lestari.
>
> Artinya, kembangkanlah wilayah setempat sesuai dengan potensi dan peluang
> keberlanjutan peningkatan kualitas daerahnya masing-masing. Jangan
> mengintroduksi unsur luar yang belum teruji kesesuaiannya bagi tempat
> tersebut.
>
> Salam,
> Abimanyu
>
>
> On Tue, Feb 17, 2009 at 5:31 AM, <isoedradjat@ 
> yahoo.com<[email protected]>
> > wrote:
>
>>   Pak Rofiq.
>> 1/3 penduduk Papua tinggal di daerah pantai, 2/3 nya tinggal di bagian
>> Tengah di gunung2, entah namanya apa, yg jelas bukan desa menurut presepsi
>> kita2 ini. Yang di pantai mungkin bisa dilakukan pendekatan "seperti Jawa",
>> Tata Ruang Kek, site planning, atau apalah yg kite2 udah pd pinter. Tapi
>> paling ngga, kalau kita pandai pengolahnya, akan menjadi pusat pertumbuhan
>> atau paling ngga sbg pusat kebudayaan (Teorinya kan gitu?), yg bisa menarik
>> Kang Kabayan, Crocodile Dandy dan Aktor the God must be Crazy tinggal di
>> kota. Nah, yg digunung ini kite kagak tahu, mungkin perlu diawali dgn budaya
>> cocok tanam dulu, misal budaya intensi tanam ubi, padi, kemudian tahap
>> berikutnya budaya transportasi. Sayang, kalau kita bikin jalan raya, yg
>> digunung kan budayanya masih budaya jalan kaki, belum ditambah budaya
>> eksclusive antar kelompok2. Sorry, ikut nimbrung.
>> Powered by Telkomsel BlackBerry(R)
>>  ------------------------------
>> *From*: Aunur rofiq
>> *Date*: Mon, 16 Feb 2009 04:27:03 -0800 (PST)
>> *To*: <refere...@yahoogrou ps.com <[email protected]>>
>>
>> *Subject*: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or
>> Jalan Buntu?
>>   Pak Nuzul,
>> Itu mimpi pak Bas sejak dulu, mudah-mudahan beliau bisa mewujudkannya di
>> periode sekarang. Tapi saya khawatir dengan memberi dana per kampung 100
>> juta rupiah...... .beberapa kampung mungkin bisa memanfaatkan tetapi ribuan
>> (bukan ratusan pak) yang lain masih sulit dibayangkan
>>
>> Salam
>> Aunur Rofiq
>>
>> --- On Mon, 2/16/09, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com <achjar%40gmail.com>>
>> wrote:
>>
>> > From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com <achjar%40gmail.com>>
>> > Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan
>> Buntu?
>> > To: refere...@yahoogrou ps.com <referensi%40yahoogroups.com>
>> > Date: Monday, February 16, 2009, 11:25 AM
>> > Pak Aby,
>> >
>> > He he he.. pak Aby, kok minta tolong ke saya sih.. langsung
>> > saja pak Aby
>> > kasih saran. Pada seminar "Sustainable Development
>> > Papua" tahun lalu,
>> > sebenarnya banyak usulan agar permukiman kecil dengan
>> > jumlah penduduk yang
>> > sangat sedikit dikelompokkan saja dalam suatu permukiman
>> > sehingga lebih
>> > mudah untuk membuat akses jalan. Tetapi ini tentu perlu
>> > dukungan argumentasi
>> > antropologis apakah permukiman ini bisa disatukan.
>> >
>> > Seperti saya kemukakan sebelumnya, fokus perencanaan Papua
>> > ke depan dimulai
>> > dari desa. Tapi saya yakin, pembangunan perkotaan tentu
>> > tidak akan diabaikan
>> > begitu saja.
>> >
>> > Salam hangat,
>> >
>> > Nuzul Achjar
>>
>>
>
>
> ------------------------------
> Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web
> <http://sg.rd.yahoo.com/th/messenger/pingbox/mailtagline/*http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/>
> Gunakan Wizard Pembuat Pingbox Online
>
>  
>



-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Mobile  : +62 815 1432 0979
T/F       : +62 21 799 7039
INDONESIA

Kirim email ke