Pak Rofiq dan Pak Nuzul ysh, Sampai 2 tahun <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3186> lalu ada 2.691 kampung dan 186 distrik (kecamatan) di Papua. Ketika program pertama kali diluncurkan (2006?) dana yang dibagikan per kampung (di kota) adalah Rp 20 juta. Timbul masalah, karena banyak kampung tidak bisa membuat laporan pertanggungjawaban, konon pula untuk mengajukan proposal. Saya kira sekarang seharusnya lebih baik, apalagi dananya sudah meningkat.
Berbeda ketika saya mengawal Pak Iman bertemu Pak Bas 2 tahun <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3001> lalu, kelihatannya ada sedikit pergeseran cara pandang beliau tentang pembangunan. Sebelumnya ada 'obsesi infrastruktur' (commodity based), namun sepertinya beliau menyadari untuk kemudian beralih ke pilihan populis: community based. Terutama ketika beberapa gagasan beliau ditolak oleh 'selatan'. Pembangunan sdm memang luar biasa di Papua. Banyak putra daerah yang dikirim S1 s/d S3 ke luar daerah dan ke luar negeri dengan dana APBD, namun sepertinya selalu 'kekurangan orang'. Mengenai kayu, saya sudah menawarkan lokasi yang paling tepat untuk processing: Morotai <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4122> . Bila masih di Papua akan tetap sulit dikontrol, karena terlalu banyak 'pintu'. Mengenai energi alternatif, seperti yang pernah disinggung rekan Wisnu <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7621> , perlu dieksplorasi beberapa pilihan, seperti batubara di Yahukimo Utara, termasuk bio-energy di selatan Papua, tentunya juga gas dari Bintuni. Termasuk alternatif material bangunan (semen) dengan menggunakan materi tailing hasil residu PTFI. Sebenarnya ini material yang seharusnya sangat mahal, karena katanya masih ada sampai 5% kandungan emas/tembaga. Saya sudah melihat ujicoba material ini untuk jalan antara Kuala Kencana ke Tembagapura sepanjang 5 km. Demikian sementara waktu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], Aunur rofiq <aunurrofiqh...@...> wrote: > > Pak Nuzul, > Itu mimpi pak Bas sejak dulu, mudah-mudahan beliau bisa mewujudkannya di periode sekarang. Tapi saya khawatir dengan memberi dana per kampung 100 juta rupiah.......beberapa kampung mungkin bisa memanfaatkan tetapi ribuan (bukan ratusan pak) yang lain masih sulit dibayangkan > > Salam > Aunur Rofiq > > > --- On Mon, 2/16/09, Nuzul Achjar ach...@... wrote: > > > From: Nuzul Achjar ach...@... > > Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan Buntu? > > To: [email protected] > > Date: Monday, February 16, 2009, 11:25 AM > > Pak Aby, > > > > He he he.. pak Aby, kok minta tolong ke saya sih.. langsung > > saja pak Aby > > kasih saran. Pada seminar "Sustainable Development > > Papua" tahun lalu, > > sebenarnya banyak usulan agar permukiman kecil dengan > > jumlah penduduk yang > > sangat sedikit dikelompokkan saja dalam suatu permukiman > > sehingga lebih > > mudah untuk membuat akses jalan. Tetapi ini tentu perlu > > dukungan argumentasi > > antropologis apakah permukiman ini bisa disatukan. > > > > Seperti saya kemukakan sebelumnya, fokus perencanaan Papua > > ke depan dimulai > > dari desa. Tapi saya yakin, pembangunan perkotaan tentu > > tidak akan diabaikan > > begitu saja. > > > > Salam hangat, > > > > Nuzul Achjar >

