ikut kasih pandangan....karena kebetulan ketika minggu kemarin saya mempunyai 
kesempatan diundang makan malam oleh Pak Bas dengan wakil bupati dari Yahukimo 
(kabupaten yang masih berseteru dengan asmat soal suru-suru),beliau 
menceritakan bahwa akibat pemberiaan dana respek sebesar 100 juta setiap 
kampung tersebut beberapa kabupaten malah memecahkan kampungnya sehingga dalam 
satu kabupaten ada yang mencapai 500 desa,bayangkan...
entah ada penduduknya atau tidak kampung tersebut...
berarti ada yang salah tangkap dari keinginan gubernur.faktor pengembangan 
sumber daya manusia mungkin menjadi faktor penting dalam pengembangan papua...




--- Pada Sel, 17/2/09, hengky abiyoso <[email protected]> menulis:
Dari: hengky abiyoso <[email protected]>
Topik: [referensi] Re: Sepeda Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan  Buntu?
Kepada: [email protected]
Cc: [email protected]
Tanggal: Selasa, 17 Februari, 2009, 11:56 AM











    
            Prof Abim ysh, 
 
Kota dgn konsep sepeda utk Papua maap… saya maunya pilih2…... yg saya setujui 
adalah pertama utamanya lbh utk kawasan2 seperti Papua Selatan (Merauke, 
Timika, Agat), Teminabuan atau lembah muara sungai Mamberamo serta kawasan2 yg 
pokoknya topografiknya relatif landai ……Kalau utk kawasan yg topografiknya 
miring  sampai 45 derajat dimana utk jalan kaki saja orang harus setengah 
“memanjat”…. Bgmn mau bersepeda…. Utk naik saja sepedanya musti dituntun… dan 
utk turunnya…. Ya kalau remnya pakem…. Gimana dong bos kalo remnya blong?...... 
....  
Salam dari aby
 
--- On Mon, 2/16/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com>
Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan Buntu?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Monday, February 16, 2009, 4:00 PM




Pak Is,

Saya setuju anda. Papua sangat luas, lebih luas beberapa kali dari Jawa, dengan 
penduduk lebih sedikit dan lebih tersebar dengan banyak ragam budaya lokal. 
Tentu kondisi kultural yang berbeda menuntut pendekatan yang tidak stereotype 
seperti di kota-kota Jawa. Apakah konsep sepeda suatu yang wajar atau justru 
konsep baru bagi mereka yang lebih banyak jalan. Mungkin kota dengan konsep 
sepeda (16 km / jam) akan mencakup kawasan seluas Kebayoran Baru (awal). 
Sedangkan konsep kota berbasis jalan kaki seperempatnya. Alat transport sepeda 
harus import dari luar Papua (istilah import lebih jelas, walau tidak selalu 
dari luar negara). Begitu import sepeda lalu import sepeda motor yag bisa 
menguasai jalan sepeda dan jalan orang, artinya import BBM. Peningkatan 
konsumsi sudah jelas, bagaimana dengan peningkatan produksi dan pasarnya yang 
mampu memberi penghasilan lebih besar daripada peningkatan kebutuhan barang 
import yang di introduksi
 tersebut ? dsb, dst.

Mungkin yang lebih sesuai, kota pantai yang sudah ada dapat dikembangkan. Yang 
kondisinya sudah terpolusi konsep Jawa ya boleh dah rekan-rekan berotak kota 
Jawa bereksperimen di sana. Namun peningkatan permukiman berkonsep perdesaan 
(yang lebih maju tentu) justru mungkin lebih membumi. Apalagi kota selalu minta 
"disangga" sumber daya alam desa. Bagaimana kalau desanya belum kuat? import 
lagi? Apalagi bila kita tidak ingin perkembangan perekonomian Papua cuma 
didominasi oleh "sumbangan keberlanjutan keberadaan Freeport" saja. Banyak 
planner, juga yang berasal dari pulau ini, yang basis pembangunannya bukan kota 
tapi pembangunan perdesaan (halo rekan-rekan PWD, apa kabar?)....yang 
pentingkan tingkat kesejahteraannya meningkat, daya dukung lingkungannya lebih 
lestari.
 
Artinya, kembangkanlah wilayah setempat sesuai dengan potensi dan peluang 
keberlanjutan peningkatan kualitas daerahnya masing-masing. Jangan
 mengintroduksi unsur luar yang belum teruji kesesuaiannya bagi tempat tersebut.

Salam,
Abimanyu



On Tue, Feb 17, 2009 at 5:31 AM, <isoedradjat@ yahoo.com> wrote:






Pak Rofiq.
1/3 penduduk Papua tinggal di daerah pantai, 2/3 nya tinggal di bagian Tengah 
di gunung2, entah namanya apa, yg jelas bukan desa menurut presepsi kita2 ini. 
Yang di pantai mungkin bisa dilakukan pendekatan "seperti Jawa", Tata Ruang 
Kek, site planning, atau apalah yg kite2 udah pd pinter. Tapi paling ngga, 
kalau kita pandai pengolahnya, akan menjadi pusat pertumbuhan atau paling ngga 
sbg pusat kebudayaan (Teorinya kan gitu?), yg bisa menarik Kang Kabayan, 
Crocodile Dandy dan Aktor the God must be Crazy tinggal di kota. Nah, yg 
digunung ini kite kagak tahu, mungkin perlu diawali dgn budaya cocok tanam 
dulu, misal budaya intensi tanam ubi, padi, kemudian tahap berikutnya budaya 
transportasi. Sayang, kalau kita bikin jalan raya, yg digunung kan budayanya 
masih budaya jalan kaki, belum ditambah budaya eksclusive antar kelompok2. 
Sorry, ikut nimbrung.
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Aunur rofiq 
Date: Mon, 16 Feb 2009 04:27:03 -0800 (PST)
To: <refere...@yahoogrou ps.com>



Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan Buntu?





Pak Nuzul,
Itu mimpi pak Bas sejak dulu, mudah-mudahan beliau bisa mewujudkannya di 
periode sekarang. Tapi saya khawatir dengan memberi dana per kampung 100 juta 
rupiah...... .beberapa kampung mungkin bisa memanfaatkan tetapi ribuan (bukan 
ratusan pak) yang lain masih sulit dibayangkan

Salam
Aunur Rofiq

--- On Mon, 2/16/09, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> wrote:

> From: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com>
> Subject: Re: [referensi] RE: [plbpm] Re: UU27/2007 Jalan Keluar or Jalan 
> Buntu?
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Monday, February 16, 2009, 11:25 AM
> Pak Aby,
> 
> He he he.. pak Aby, kok minta tolong ke saya sih.. langsung
> saja pak Aby
>
 kasih saran. Pada seminar "Sustainable Development
> Papua" tahun lalu,
> sebenarnya banyak usulan agar permukiman kecil dengan
> jumlah penduduk yang
> sangat sedikit dikelompokkan saja dalam suatu permukiman
> sehingga lebih
> mudah untuk membuat akses jalan. Tetapi ini tentu perlu
> dukungan argumentasi
> antropologis apakah permukiman ini bisa disatukan.
> 
> Seperti saya kemukakan sebelumnya, fokus perencanaan Papua
> ke depan dimulai
> dari desa. Tapi saya yakin, pembangunan perkotaan tentu
> tidak akan diabaikan
> begitu saja.
> 
> Salam hangat,
> 
> Nuzul Achjar








      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke