Milisters ysh,
++++:    Sepertinya yang dibahas menjurus ke daerah perbatasan dengan Malaysia, 
Brunei sementara ada perbatasan dengan Singapore, Papua New Guinea, Timor Leste 
juga batas laut dengan Filipina yang situasinya berbeda.
>>>>: Ya, alur diskusi pd topik ini awalnya dimulai dgn kutipan ttg ‘pelajaran/ 
>>>>bagi2 pengalaman dari menteri Datuk Tan ttg “pengalaman membangun wilayah 
>>>>tertinggal di Malaysia”, lalu diskusi berkembang dimulai dgn “ada 
>>>>perhatian” ttg “jalan” yg dianggap sbg paling strategis sbg “kunci 
>>>>pembanguna wilayah”…. Lalu terdpt kesadaran bahwa “wilayah kita yg demikian 
>>>>luasnya memerlukan panjang jaringan jalan yg tak terkira pula panjangnya, 
>>>>juga anggaran pemeliharaanya yg juga nyaris tak terpikul beratnya……. Lalu 
>>>>ada pergeseran pemikiran “dari ‘jalan’ geser ke ‘intervensi ekonomi 
>>>>wilayah’ dari ‘penduduk dikawasan tertinggal”…. Yg  krn narasumbernya adlh 
>>>>Menteri Tan dari Malaysia…… saya sendiri jg tanpa sadar terbawa keimajinasi 
>>>>ttg  “pembangunan dikawasan perbatasan Kalimantan antara Indonesia dan 
>>>>Malaysia” terlebh krn dlm satu-dua hari sebelumnya Kompas juga menurunkan 
>>>>tulisan ttg kerawanan drh perbatasan
 khususnya di Kalimantan sbg jalur perjalanan teroris dlm berpindah basis 
operasi dari Sumatera—melalui perbatasan Kalimantan dari KalBar sampai Kaltim 
dan lalu menyeberang ke Mindanao di Philipina.…… 
Memang sih…… kecuali “perbatasan dgn Singapura” yg karakteristik PWK kita 
“paling sangat beda” (urban, metropolis, internasional)… perbatasan dgn negara 
lain seperti Papua Nugini, Serawak, Sabah, Timor Leste, Australia, Philipina, 
Thailand, India, Palau, Vietnam…. pada dasarnya berbeda lagi 
karakteristiknya….ialah perbatasan laut lepas dgn jarak luar biasa jauh 
(Australia, Philipina, Thailand, India, Palau, Vietnam) …. Perbatasan dgn 
negara lebih makmur (Kalimantan RI dan Serawak serta Sabah)…… atau perbatasan 
dgn “negara sama2 susah/ lebih parah” (Timor Leste, Papua Nugini)…. 
 
++++:    Kalau fokus perbatasan dengan Malaysia (Kalimantan) , ide rekan Fajar 
bagus, tapi kok masih seperti perencanaan permukiman transmigrasi, yang 
begitu-begitu saja. 
>>>>: Kalau berpijak pada kenyataan bahwa “dana pembangunan prasarana tak 
>>>>ada”……. Maka tak salah juga saya kira  kalau “sambil menunggu realisasi 
>>>>strategi seperti apa yg dianjurkan oleh pak Risfan”…. Kita juga berbicara 
>>>>ttg “kenyataan yg ada”… krn itu saya mendukung “strategi2 pembangunan 
>>>>daerah yg berbasis keswadayaan”….. dalam hal ini adalah pengembangan 
>>>>“komunitas urban” pada hirarkhi terendahnya… ialah  dgn mengembangkan ”kota 
>>>>pusat layan desa” berbasis kompleks rukodesa swadaya”…. yg ini saya kira 
>>>>‘setara’ dgn KTM/Kota  Transmigrasi Mandiri yg dikoarkan oleh 
>>>>Depnakertrans…. Dan sistem transportasi ‘antar desa’ atau ‘antar desa2 dan 
>>>>kota terdekat’ berbasis keswadayaan juga….. ialah kalau lewat sungai ya dgn 
>>>>perahu 2 kecil bermotor…. Atau kalau bisa lewat darat ya dgn gerobak 
>>>>ditarik hewan utk transport dari desa kekota kecamatan terdekat…….tak perlu 
>>>>jalan aspal, jalan propinsi atau
 apalah namanya…. Juga tak perlu “kecepatan” seperti dikawasan2 yg sudah 
memakai jalan tol……
Masalahnya adalah….. disatu sisi yg ideal tak kunjung dibuat…  dan gilanya  
yang serba mungkin secara swadaya serta swadana sesungguhnya banyak  bisa 
dibuat…… tapi itupun tak kunjung dibuat juga……. Program yg per desa mendapat 
dana ratusan juta samasekali tak  menyentuh standarisasi keruangan spt 
standardisasi pengembangan kompleks rukodesa sbg pusat layan desa dan pusat 
kewiraswastaan desa berkarakter urban…….. ndak ada itu …....ndak ada itu…… 


++++:   Sulit dibayangkan akan mencegah 'brain-drain' . Apalagi dana 
pembangunan prasarana tak ada.
>>>>: Brain drain utamanya menyangkut mereka yg memang otaknya cerdas dan ada  
>>>>faktor pendukung utk mereka trs meningkatkan jenjang pendidikannya hingga 
>>>>tak ada cara lain mrk hrs kekota besar utkk nantinya mendapatkan pekerjaan 
>>>>white collar….. atau ada juga  'human resources drain',  yg walau otaknya 
>>>>pas2an atau mungkin termasuk  otak bodoh tapi lbh tertarik pada gaya hidup 
>>>>urban dibanding pertanian dan perdesaan……  namun diluar itu tetap ada juga 
>>>>yg tetap lebih kerasan utk tetap tinggal  didesa dan bergiat disektor 
>>>>pertanian/ non pertanian….. utamanya krn alasan bhw mereka  kurang cocok  
>>>>dan kurang dpt mengikuti  gaya hidup urban yang ”mau serba cepat”, serba 
>>>>“keras”,”serba “individual”, serba “mobile”, serba “modern” dsb…… 
>>>>kenyataannya dinegara maju penduduknya tidak 100% menyerbu kota…. Tapi 
>>>>tetap ada tertinggal 10-20% tetap didesa dan mengerjakan bidang2 
>>>>pertanian…. Kalau more big cities bisa lebih
 banyak dikembangkan dan disebarkan lokasinya…..”brain-drain” itu pada dasarnya 
tidak merugikan apapun pada “wilayah belakangnya”… krn “persebaran big cities” 
akhirnya toh bermakna “jarak dgn periferi semakin dekat”…..atau “periferi 
semakin sempit”…. Dgn demikian perbedaan/ kontras antara  “desa dan kota” krn 
dipakainya prinsip jarak menjadi semakin kabur…….

++++:   Mungkin Indonesia perlu berfikir jauh lebih maju, dari pada "konsep 
yang telah ditiru Malaysia". Masalahnya kita menganggap perbatasan itu "kawasan 
belakang", sehingga tertinggal terus dalam prioritas.
>>>>: Ya kalau berpikir  sangat kelewat maju sih tentu boleh sekali dan bagus 
>>>>sekali…. Saya dukung….. Tapi bertindak praktis dan bertindak strategis, 
>>>>bersikap nasionalis (cinta bangsa dan negara)  serta bersikap militan  dan 
>>>>tak egoistik utk mengimbanginya….. ini yg nggak konsisten……. ndak ada itu… 
>>>>ndak ada itu……..

++++:   Kalau memang serius maka perlu paradigma beda. Anggap kawasan 
perbatasan sebagai "kawasan terdepan" dalam persaingan dan kerjasama antar 
negara. Bangun perbatasan bukan sebagai "kawasan/pusat desa" dengan hirarkhi 
terendah.
>>>>: Nha ini repotnya…… selama ini kita memang tak pernah mengembangkan “the 
>>>>real regional development projects based on  development of newly real 
>>>>agglomerative urban n industrial development”……. Yg ada adalah (1-4) …. (1) 
>>>>Proyek2 urban n industrial development swasta komersial bagai anak kecil….. 
>>>>kerjanya menempel melulu pada agglomerasi2 yg telah berkembang  pesat 
>>>>(pembangunan seputar DKI, seputar mBandung, Sby, Medan;  seputar Singapura/ 
>>>>maksudnya Batam, Rempang, Galang) yg kebetulan semuanya berada di KBI 
>>>>hingga tak mengobati sedikitpun ketimpangan dengan KTI….. (2) proyek2 
>>>>pembangunan padat modal berbasis eksplorasi SDA oleh asing (Bontang, Dumai, 
>>>>Soroako, Tembagapura) yg  tak menimbulkan efek pusat pertumbuhan urban dan 
>>>>aglomerasi dan penduduk sekelilingnya tetap tinggal miskin 
>>>>dantertinggal……..(3) proyek2 pembangunan agroindustri (termasuk HPH dan 
>>>>perusakan hutan) yg juga tak menimbulkan aglomerasi (termasuk disini
 proyek2 13 Kapet lalu  yg tewas 11 Kapet)….. (4) proyek transmigrasi agraris 
yg lambat sekali or dpt dibilang tak menimbulkan efek aglomerasi urban 
sedikitpun……
Adakah yg memakai basis “menyemai industri manufaktur urban” dari “industri 
nasional memimpin” (kecuali dari Singapura disemai ke Batam) ?..... ndak ada 
itu…..…ndak ada itu……...

++++:   Undang pengusaha besar, beri mereka untuk mengembangkan plantation 
skala besar, kawasan industri tertentu, kawasan eksklusif. Karena 
keterbatasannya adalah tak ada prasarana, jauh dari permukiman, butuh investasi 
besar. Maka kompensasinya, beri mereka konsesi yang lebih banyak soal tax dan 
kemudahan, karena tujuannya adalah pioneering.
>>>>: Saya kira ini bukannya tak pernah/ blm pernah dikerjakan…..  selama ini 
>>>>dan selama masa orde baru langkah2 ini telah dan sudah dan sampun 
>>>>dikerjakan oleh silih berganti  tim perekonomian setiap rezim 
>>>>pemerintahan…… sejak dimasa orba kita telah kenyang melihat suguhan 
>>>>tontonan  demikian…. Para pengusaha diundang utk proyek2 demikian 
>>>>(ngundangnya  a.l.ke Tapos)….. Lim Sioe Liong, Eka Cipta Wijaya, Prayoga 
>>>>Pangestu… dsb….. giliran banyak yg tertarik… modelnya nanti seperti Adelin 
>>>>Lis…. merusak (sekaligus mencuri isinya) hutan…...lalu raib……

++++:   Kaji industri, agricultur atau kegiatan ekonomi apa yang cocok untuk 
geografi dan lokasi antar negara, jauh dari permukiman seperti itu.
>>>>: Yg cocok adalah urban development dgn “prinsip hirarkhi dan prinsip 
>>>>jarak” yg itu memakai “teori kutub pertumbuhan” seperti para mantan veteran 
>>>>negara2 pembangun wilayah yg kini pada menjadi negara2 maju itu dulu pernah 
>>>>lakukan…….. tapi kita nggak percaya… atau giliran memahaminya…. Tapi banyak 
>>>>salah interpretasi dan korupsi…. Lalu giliran gagal  buntutnya menyalahkan 
>>>>teorinya……… 

++++:   Diskusi juga dengan MS Hidayat, Siswono, Ciputra, LIPPO dan pengusaha 
besar lain yang pengalaman mengembangkan kawasan jadi modern.
>>>>: Ya…. itu akan  sgt cocok kalau anda berencana akan mengembangkan 
>>>>Jabodetabek, KelapaGading, Karawaci, Cikarang, Surabaya mBandung atau Medan 
>>>>atau Batam agar lebih berkembang dan lebih padat lagi……
Tapi kalau utk KTI jangan keburu gembira dulu….. Siswono setidaknya pernah jadi 
Menpera dan Mentrans PPH saat rencana 13 Kapet itu 1992/1993 dicanangkan….. 
masa 1994 Siswono juga tidak setuju dgn “pengembangan kota metropolitan”… 
alasannya waktu itu (lsg dari bibir Siswono ketelinga saya)…. “Kota 
metropolitan itu rawan huru-hara” (mohon pembaca sedikit flashback kemasa itu 
dimana “stabilitas” adalah doktrin pembangunan… dan 3 /tiga/ orang ibu2 yg demo 
dgn berjalan dijalan umum di Semanggi dgn membawa bunga utk masalah harga susu 
mahal diseret kesidang pengadilan)……… MS Hidayat bisakah diajak bicara bisnis 
tanpa nemplok ke-anggaran2 pemerintah?......Ciputra dan Lippo mainnya diseputar 
Jabodetabek…. Yg artinya…. Mrk lbh banyak bermain “diseputar aglomerasi yg 
sudah ada”….. dan belum pernah bermain ditempat  “dimana aglomerasi baru 
ditempat lain dgn susah payah harus dibangun bersamaan dgn bisnis mereka”
 itu………  tapi ini setidaknya  harus dicoba juga… terlebih kalau mereka 
dibilangin bahwa ditempat baru lain itu akan dibentuk proyeksi kota sebsr Jkt 
(lho)… dan akan disemai industri manufaktur dgn pasar no. 3 terbesar dunia 
dikota itu (lho)………..

++++:   Intinya, jangan melihat kawasan perbatasan sebagai wilayah terdepan 
dalam pesaingan/persahaba tan antar negara, bukan wilayah belakang dengan 
prioritas terendah pula.
>>>>: Sayang selama/ sejauh ini pengalaman kita dengan “pembangunan kota dalam 
>>>>kerangka pembangunan wilayah” yang paling menonjol dan paling spektakular 
>>>>sptnya barulah “Batam” saja yg setiap anak kecilpun tahu bahwa faktor 
>>>>Singapuralah  (20km disbrang Batam) yg sgt dgn mudah dan pasti dpt 
>>>>mendukung ‘keberhasilan’ Batam…… dimana krn Singapura sbg kota dunia maupun 
>>>>juga letaknya yg amat strategis dipersimpangan jalur pelayaran 
>>>>AsiaTimur-Eropa yg amat ramai…  dan Singapura juga kekurangan lahan utk 
>>>>spill over effectnya……… 
Ini jelas ide pak Risfan yg baik sekali dan perlu didukung…….  Mengingat “kwsn 
terdepan” kita itu demikian “banyaknya”… maka utk itu rasionalnya  kita jelas 
perlu “banyak latihan” dan perlu mengembangkan “sebuah model”nya dulu utk 
selanjutnya itu dapat direplikasi/ multiplikasi dibanyak tempat lain dgn cepat, 
lancar tapi berhasil….. 
Trims pak Risfan tlh berkenan meramaikan diskusi ini…… saya  mau berikutnya 
menanggapi mas Fajar dgn cita2 sistem distribusi kotanya yg lucu dan enak 
didengar..…..
 
Salam, aby
 

--- On Thu, 2/19/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun Desa 
Tertinggal
To: [email protected]
Date: Thursday, February 19, 2009, 4:55 PM






Dear All,

Sepertinya yang dibahas menjurus ke daerah perbatasan dengan Malaysia, Brunei 
sementara ada perbatasan dengan Singapore, Papua New Guinea, Timor Leste juga 
batas laut dengan Filipina yang situasinya berbeda.

Kalau fokus perbatasan dengan Malaysia (Kalimantan) , ide rekan Fajar bagus, 
tapi kok masih seperti perencanaan permukiman transmigrasi, yang begitu-begitu 
saja. Sulit dibayangkan akan mencegah 'brain-drain' . Apalagi dana pembangunan 
prasarana tak ada.

Mungkin Indonesia perlu berfikir jauh lebih maju, dari pada "konsep yang telah 
ditiru Malaysia". Masalahnya kita menganggap perbatasan itu "kawasan belakang", 
sehingga tertinggal terus dalam prioritas.

Kalau memang serius maka perlu paradigma beda. Anggap kawasan perbatasan 
sebagai "kawasan terdepan" dalam persaingan dan kerjasama antar negara. Bangun 
perbatasan bukan sebagai "kawasan/pusat desa" dengan hirarkhi terendah.

Undang pengusaha besar, beri mereka untuk mengembangkan plantation skala besar, 
kawasan industri tertentu, kawasan eksklusif. Karena keterbatasannya adalah tak 
ada prasarana, jauh dari permukiman, butuh investasi besar. Maka kompensasinya, 
beri mereka konsesi yang lebih banyak soal tax dan kemudahan, karena tujuannya 
adalah pioneering.

Kaji industri, agricultur atau kegiatan ekonomi apa yang cocok untuk geografi 
dan lokasi antar negara, jauh dari permukiman seperti itu.

Diskusi juga dengan MS Hidayat, Siswono, Ciputra, LIPPO dan pengusaha besar 
lain yang pengalaman mengembangkan kawasan jadi modern.

Intinya, jangan melihat kawasan perbatasan sebagai wilayah terdepan dalam 
pesaingan/persahaba tan antar negara, bukan wilayah belakang dengan prioritas 
terendah pula.

Salam,
Risfan Munir
http://ecoplano. blogspot. com

















      

Kirim email ke