Pak Risfan, Pak Fajar dan Pak Eko serta milisters ysh,
Memang paling sering mendengar isu di perbatasan adalah keamanan dan kegiatan 
illegal, jarang sekali pembicaraan tentang pengembangan wilayah, apalagi 
potensi perdagangan. Saya ingin memberi gambaran tentang perkembangan 
perbatasan di Kalimantan yang dalam beberapa tahun ini begitu dinamisnya 
sehingga apa yang dipikirkan oleh Pak Fajar maupun pak risfan yakni 
berkembangnya kota-kota kecil di perbatasan menjadi kenyataan. Tetapi sayangnya 
perencanaan kota selalu datang terlambat 

Entikong, adalah pintu pelintasan perbatasan yang resmi (ada petugas bea cukai, 
imigrasi dan karantina) perkembangannya cukup lumayan, meskipun tidak seperti 
yang diharapkan semula. Pada sisi Malaysia (Tebedu) telah disiapkan kawasan 
niaga yang cukup bagus dan ada kota kecil di dekatnya (lupa namanya) yang 
paling sering dikunjungi oleh Masyarakat Sanggau. Di sisi Indonesia beberapa 
Departemen telah membangun fasilitas/ infrastruktur...tetapi sayangnya masih 
terasa tidak terkoordinasi dengan baik. Sebenarnya Malaysia berharap banyak 
dengan pintu perbatasan ini, terutama di bidang perdagangan dan tenaga kerja. 
Kota Kuching yang hanya berjarak 2 jam dari perbatasan mempunyai fasilitas 
pelabuhan ekspor yang cukup bagus, diharapkan produksi perkebunan dari 
Kalimantan Barat bisa diekspor melalui pelabuhan ini. Tenaga kerja Indonesia 
sangat dibutuhkan untuk bisa mengembangkan perusahaan-perusahaan yang ada di 
Sarawak (atau Kuching)...Entikong bisa menjadi
 tempat pemukiman bagi pekerja Indonesia sebagai commuters, sehingga tidak 
banyak menghadapi kesulitan imigrasi.....dimasa depan Entikong akan menjadi 
wilayah pemukiman yang besar..

Aruk (kecamatan Sajingan Besar, kabupaten Sambas) akan dibuka menjadi pintu 
resmi tahun ini...saat ini baru berupa desa kecil, tetapi jika dibuka, maka 
Kuching Pontianak bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam. Kemarin kompas 
memberitakan bahwa Listrik di sajingan besar telah ada, di suplai dari 
Malaysia. Jika jalan negara dari sambas ke Aruk sudah jadi, maka jalur 
Pontianak Kuching yang melalui kota Singkawang ini akan sangat ramai. Dan 
kemungkinan besar pintu perbatasan aruk-biawak ini akan cepat menjadi kota 
kecil seperti yang diinginkan Pak Fajar. 

Pulau Sebatik di Nunukan sekarang berkembang cukup pesat, terutama pendatang 
dan pencari kerja yang ingin ke Sabah (Tawau).....kota ini jika tidak 
dikendalikan akan menghabiskan hutan lindung di pulau sebatik. Ini juga akan 
menjadi kota kecil yang padat, apalagi jika rencana membuat jembatan ke pulau 
nunukan terwujud.

Pak risfan, kegiatan perdagangan dan tenaga kerja antara Indonesia dan Malaysia 
akan berkembang cukup pesat jika banyak pintu-pintu perbatasan yang dibuka 
secara resmi, pola entikong mungkin akan sangat menguntungkan bagi Indonesia, 
yakni pemukiman tetap di sisi Indonesia meskipun mereka bekerja di 
Malaysia....akan tetapi lebih baik lagi jika industri juga berada di Indonesia.

Pak Eko, saya setuju kalau kita tidak memaksakan membangun kota-kota kecil, 
tetapi kita juga jangan sampai terlambat untuk menata wilayah perbatasan, agar 
berkembang secara terkendali....Pulau Sebatik, Entikong dan Aruk memerlukan 
penataan ruang secepatnya agar bisa berkembang dengan baik. 

Malaysia telah menata perbatasan dengan sangat baik.....memang akhirnya kita 
harus belajar dari sana..... 

Salam
Aunur Rofiq


--- On Sun, 2/22/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

> From: Risfan M <[email protected]>
> Subject: RE: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari Indonesia Bangun Desa 
> Tertinggal
> To: [email protected]
> Date: Sunday, February 22, 2009, 7:35 AM
> Mas Eko dan rekans ysh,
> 
> Terima kasih atas tanggapannya.  Memang wilayah perbatasan
> banyak ragamnya. Dari perbandingan kemakmuran misalnya: pada
> perbatasan dengan Singapore, Malaysia, Brunei umumnya
> wilayah perbatasan kita penduduknya lebih miskin dibanding
> seberangnya. Tapi wilayah perbatasan dengan PNG, Timor Leste
> nampaknya di wilayah itu penduduk kita kondisi ekonominya
> lebih baik.
> 
> Berpikir mengenai wilayah perbatasan (bukan wilayah
> tertinggal) mungkin ada baiknya melihatnya juga dalam
> konteks "regional" ASEAN dan West Pacific. 
> 
> Dimana posisi wilayah-wilayah perbatasan kita dalam konteks
> kerjasama antar negara/bangsa dalam region tersebut. Apa
> yang bisa dimanfaatkan dalam situasi dan kondisi region itu
> bagi "wilayah-wilayah perbatasan" kita.
> 
> Dalam kasus wilayah perbatasan dengan Malaysia dan Brunei,
> wilayah kita kaya akan SDA yang masih perawan, jumlah
> penduduk sedikit. Sementara ini pemerintah kita
> menelantarkannya, dan hanya menaruh perhatian kalau ada
> kasus-kasus saja. 
> Kenapa pemerintah menaruh prioritas rendah, mungkin karena
> terhadap pusat Orde-1 Jakarta, wilayah perbatasan itu
> hirarkhinya "di ujung kelingking kaki". Padahal
> kalau kita berfikir geo1konomi, geo-politik antar negara di
> ASEN, West Pacific posisinya terdepan.
> 
> Mengapa Menteri Malaysia peduli? Tentu karena pertimbangan
> kerjasama regional. Ada keuntungan yang diperoleh secara
> ekonomi, misalnya banyaknya pengusaha HPH terkait dengan
> Malaysia. Tetapi ada alasan lain seperti potensi
> "gangguan keamanan" misalnya.
> 
> Menurut saya, sekali lagi, dengan mempertimbangkan potensi
> SDA, daya tarik bagi tetangga, serta kondisi ketidak-mampuan
> pembiayaan dari pemerintah untuk membangun prasarana.
> Alternatif yang layak dipertimbangkan ialah mengundang
> investor dengan memberi konsesi seluas-luasnya (dalam
> koridor hukum dan kelayakan) untuk mengembangkan
> kawasan-kawasan yang layak dan potensial di wilayah
> perbatasan dengan Malaysia dan Brunei, dengan kewajiban
> membangun prasarana, khususnya transportasi.
> 
> Sekali lagi, wilayah perbatasan adalah "beranda
> depan" dalam konteks kerjasama/persaingan antar bangsa
> di region ASEAN dan West Pacific. 
> 
> Dalam kamus perencanaan kita sebaiknya dimuat juga IMT-GT,
> BIMP-EAGA, dst. Karena bagi warga wilayah perbatasan,
> mungkin pusat pelayanan kota Utama/ Orde-1 bukanlah Jakarta.
> TKI asal pulau Jawa, Madura, NTB, NTT saja kalau
> ber"urbanisasi" ke Kuala Lumpur, Jahor, Singapore.
> Warga perbatasan, apalagi.
> 
> Mungkin akan bermanfaat kalau kunjungan Manteri Malaysia
> itu ditindak-lanjuti dengan kerja sama antar Sekolah
> Perencanaan, asosiasi profesi perencana (IAP) se ASEAN, West
> Pacific yang berbatasan, untuk tukan pandang, tukar konsep
> tentang pengembangan wilayah perbatasan.
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> Http://ecoplano.blogspot.com
> 
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Eko B K <[email protected]>
> Sent: Saturday, February 21, 2009 6:35 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> 
> Pak Iman, Pak BTS, Pak Risfan, Pak Aby, Mas Fadjar, Mas
> Benni dan rekan2 ysh,
> 
> Posisi saya dalam masalah Menteri Malaysia ajari Indonesia
> ini adalah sbb:
> 
> 1. Saya sepakat dgn Pak BTS bahwa yg disampaikan pak
> menteri ini tidak ada yg baru dan di milis referensi ini
> saja kita sudah sering mendiskusikan. Membangun wilayah,
> tertinggal atau tidak, ya rumusnya begitu2, bangun
> infrastruktur, tingkatkan kualitas SDM, tarik modal masuk,
> jamin security, dll. Masalahnya seperti yg diungkit mas
> Benni, bagaimana caranya dgn sumber daya finansial yg
> terbatas, kondisi geografik yg sulit, dll... Malaysia
> sendiri punya kesulitan dlm hal ini, khususnya di wilayah
> Sabah Sarawak akibat luasnya wilayah, penduduk yg tersebar,
> kondisi geografik yg sulit. Sabah dulu sebelum bergabung dgn
> Malaya adalah state kedua terkaya, saat ini kemiskinan 24%,
> dan kemiskinan anak2 42%, tertinggi di Malaysia...itu baru
> "sekecil" Sabah, apalagi diberi masalah sebesar
> KTI? Minat pak menteri mengajari Indonesia pasti hilang.
> Terimakasih bagaimanapun utk pak menteri sudah berbagi
> pengetahuan...
> 
> 2. Mohon maaf sebelumnya, tapi saya tidak sepakat dengan
> Mas Fadjar. Menurut saya pendekatan yg diusulkan terlalu
> "bermain sebagai Tuhan"/supply side/ supply driven
> atau apapun istilahnya. Seperti yg disampaikan Pak Iman,
> ternyata tidak ada kota2 transmigrasi atau kabupaten yg
> bertumbuh. Ini juga yg saya dan Pak Aby pertanyakan,
> bagaimana menarik SDM, firms, kapital, ke kota2 tsb? Yg
> menurut pak Risfan, pendekatan ini nampaknya menafikan peran
> sektor swasta dlm menentukan lokasi investasinya...
> dan Pak Aby, walau saya bukan orang universitas, namun
> menurut saya konsep tsb adalah pandangan pribadi Mas Fadjar,
> tidak mewakili pandangan kalangan universitas secara umum...
> 
> 3. Poin no 2 di atas juga terkait dgn yg disampaikan Pak
> Risfan, bahwa kondisi kawasan perbatasan yg berbeda2 membuat
> perlu disusun kebijakan pembangunan yg berbeda2. Tidak bisa
> pukul rata bahwa pengembangan kota2 kecil dilakukan di semua
> kawasan perbatasan (ini pun kalau kita setuju dgn konsep
> pengemb kota kecil tsb.)... apalagi kondisi geografik kita
> sebagai negara kepulauan tentu sistem kotanya berbeda dgn
> negara kontinen. Sebuah wilayah bisa saja langsung berdagang
> dgn kota besar tanpa harus melalui kota kecil sebagai hub...
> 
> 
> Terimakasih. Salam.
> 
> Eko.
> 
> 
> 
> 
> --- On Sat, 2/21/09, Bambang Tata Samiadji
> <[email protected]> wrote:
> From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
> Subject: Re: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> To: [email protected]
> Date: Saturday, February 21, 2009, 10:45 AM
> 
> Memang benar sih,kata peneliti-peneliti Bank Dunia 
> (Menata Ulang Geografi Ekonomi) bahwa konsentrasi kegiatan
> ekonomi tidak dapat digerakkan di seluruh daerah atau
> lokasi.
>  
> Jadi jangan bangun sembarang kota di sembarang lokasi.
>  
> Thanks. CU. BTS.
> 
> --- On Fri, 2/20/09, isoedradjat@ yahoo.com
> <isoedradjat@ yahoo.com> wrote:
> From: isoedradjat@ yahoo.com <isoedradjat@ yahoo.com>
> Subject: Re: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, February 20, 2009, 11:38 PM
> 
> Hati2 dgn konsep membangun kota. Kota2 transmigrasi mana yg
> bertumbuh? Mana kota ibukota kabupaten hsl studi dan sengaja
> dibangun yg bertumbuh? Mana konsep dekonsentrasi planologis,
> hingga kota2 satelitnya yg bertumbuh? Nggak ada kan? 
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> From: Eko B K
> Date: Fri, 20 Feb 2009 09:18:45 -0800 (PST)
> To: <refere...@yahoogrou ps.com>
> Subject: RE: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
>  
> Pak Aunur, Mas Fadjar, dan rekan2 ysh.,
> 
> Saya sebetulnya bertanya2 terkait konsep yg diajukan Mas
> Fadjar, apakah seluruh kecamatan tsb masing2 memerlukan
> adanya kota kecil dgn ukuran yg diajukan (25.000-80.000
> penduduk)? Lalu kalau di suatu kecamatan kawasan perbatasan
> tidak/belum ada kota2 dgn ukuran kota2 kecil, bagaimana
> caranya ya agar pemerintah bisa membangun kota2 seperti itu?
> Dan berapa target jangka waktu yg ditetapkan utk pemerintah
> membangun kota2 tsb.? Kalau kota2 tsb akan difungsikan
> sebagai hub, sementara sistem transportasi yg baik juga
> dibangun yg memungkinkan kecamatan2 perbatasan bisa langsung
> terhubung ke market di kota2 besar, apakah kecamatan2 tsb
> tetap harus dipaksa melalui kota2 kecil tsb?
> 
> salam,
> 
> Eko.
> 
> 
> --- On Fri, 2/20/09, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@
> yahoo.com> wrote:
> From: Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ yahoo.com>
> Subject: RE: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, February 20, 2009, 5:45 PM
> 
> Mas fajar,
> Pada UU 43 tahun 2008 tentang wilayah negara bahwa wilayah
> perbatasan dibatasi hanya kecamatan yang berbatasan langsung
> dengan negara tetangga. Kawasan perbatasan akan dikelola
> oleh Badan Pengelola Perbatasn (Nasional, Provinsi dan
> Kabupaten).. ..di UU itu juga Pemerintah diwajibkan
> menyediakan anggaran bagi pembangunan perbatasan
> 
> Sedangkan rencana pembangunan "kota" di
> perbatasan sudah tercantum di RTRW Nasional berupa PKSN,
> tapi apakah sama dengan yang dimaksudkan oleh mas fajar,
> saya kurang tahu....beberapa kota perbatasan seperti yang
> disebut mas fajar mungkin kota-kota Jayapura, Merauke,
> Sambas, Sanggau, Nunukan, Atambua, Batam
> 
> Salam
> Aunur Rofiq
> 
> --- On Fri, 2/20/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com
> <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote:
> 
> > From: efha_mardiansjah@ yahoo.com
> <efha_mardiansjah@ yahoo.com>
> > Subject: RE: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Friday, February 20, 2009, 6:39 PM
> > Rekan referensiers ysh,
> >  
> > Saya sepakat dengan ide Pak Risfan untuk lebih
> > mengedepankan perubahan cara pandang tentang kawasan
> > perbatasan dari "wilayah belakang" menjadi
> > "beranda depan". Hal ini juga yang saya
> maksud
> > dalam pengembangan daerah/kawasan tertinggal, walau
> bukan
> > berarti sama seperti yang Pak Risfan katakan yaitu
> seperti
> > pembangunan permukiman/kawasan transmigrasi.
> >  
> > Pembangunan sistem perkotaan di daerah/kawasan
> tertinggal
> > yg saya maksud adalah pembangunan kota-kota kecil yang
> ada
> > di wilayah tersebut sehingga mampu berkembang menjadi
> > kota-kota kecil dengan skala antara 25ribu - 80ribu
> > penduduk, atau mungkin dengan skala yang lebih kecil
> yaitu
> > antara 2àribu - 50ribu penduduk. Bukan sekedar
> pusat-pusat
> > kawasan perdesaan yang berskala antara 2000 - 10.000
> > penduduk atau seperti permukiman transmigrasi yang
> > berpenduduk sekitar 2500 jiwa atau kurang.
> >  
> > Kota-kota dengan skala 25ribu - 80ribu jiwa adalah
> seperti
> > Kota Sabang (25ribu), Padang Panjang (40ribu), Solok
> dan
> > Sawahlunto (50ribu), atau Sibolga (80ribu) di tahun
> 2000.
> > Kalau di kabupaten, contohnya adalah Slawi (Kab
> Tegal,
> > 60ribu) dan Purwakarta (80ribu). Saya yakin tidak
> semua
> > kota-kota tersebut harus menjadi daerah kota seperti
> Solok,
> > Sabang dan Sawahlunto. Tetapi bisa menjadi kota-kota
> > kecamatan saja, seperti Dampit (25ribu), Tumpanf
> (18ribu),
> > atau Turen (60ribu) di Kab Malang. atau seperti
> Lebaksiu
> > '30ribu), Balapulang (20ribu) atau
> Kramat (50ribu) di
> > Kabupaten Tegal.
> >  
> > Kota-kota seperti ini akan mampu berfungsi sebagai
> > kota-kota kedua atau kota-kota antara yang akan
> > menghubungkan wilayah perdesaan di sekitarnya denga
> > kota-kota besar dan/atau kota-kota metropolitan yg
> menjadi
> > konsumen akhir (atau juga main hub) bagi produk-produk
> > daerah tertinggal. Tidak seperti pusat-pusat
> permukiman
> > transmigrasi yg tidak mampu berfungsi seperti itu,
> kecuali
> > seperti Kota Metro yg sudah berusia lebih dari 50
> tahun.
> >  
> > Dengan dilakukan pembangunan kota-kota kecil seperti
> itu,
> > saya juga berharap bahwa hal itu akan juga mengurangi
> > terjadinya "brain drain" atau
> "human capital
> > drain" dari wilayah-wilayah inferior ke
> wilayah-wilayah
> > superior.
> >  
> > Saya yakin pengembangan kota-kota seperti itu tidak
> bisa
> > dilakukan secara sendirian oleh masing-masing
> kabupaten.
> > Apalagi oleh kabupaten yg tergolong sbg daerah
> tertinggal.
> > Oleh karena itu diperlukan upaya bersama, yaitu oleh
> > kabupaten ybs, antar-kabupaten yang berdampingan,
> propinsi,
> > atau mungkin juga oleh departemen dari pemerintah
> pusat
> > untuk bekerja sama melakukannya. Karena pembangunan
> > kota-kota seperti itu memerlukan suatu pendekatan
> > antar-sektor dan antar-wilayah di dalam
> pelaksanaannya. Ini
> > yang saya maksud sebagai bagian pengembangan sistem
> > perkotaan dalam rangka pngembangan daerah/kawasan
> > tertinggal, dimana hal yang sama juga bisa dilakukan
> pada
> > beberapa kawasan perbatasan, karena banyak diantara
> wilayah
> > perbatasan kita yang masih tergolong ke dalam wilayah
> > tertinggal (dimana hal yang ini mungkin perlu
> dukungan
> > politik yang lebih besar, mengingat tingkat urgensi
> > strategisnya yang lebih tinggi).
> >  
> > Mungkin sekian dulu, sambungan saya ini (seperti yg
> diminta
> > oleh Pak Aby, pada posting sebelumnya). Mudah-mudahan
> dan
> > insya Allah bisa ikut berkontribusi ke dalam diskusi
> kita.
> > Juga kontribusi kepada INDONESIA MULIA.... MULIA
> > BANGSANYA... MULIA RAKYATNYA... .
> >  
> > Salam,
> >  
> > Fadjar Undip
> >  
> >
> >
> > --- On Fri, 2/20/09, Risfan M <risf...@yahoo.
> com>
> > wrote:
> >
> >
> > From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
> > Subject: RE: [referensi] Re: Menteri Malaysia Ajari
> > Indonesia Bangun Desa Tertinggal
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Friday, February 20, 2009, 7:55 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Dear All,
> >
> > Sepertinya yang dibahas menjurus ke daerah perbatasan
> > dengan Malaysia, Brunei sementara ada perbatasan
> dengan
> > Singapore, Papua New Guinea, Timor Leste juga batas
> laut
> > dengan Filipina yang situasinya berbeda.
> >
> > Kalau fokus perbatasan dengan Malaysia (Kalimantan) ,
> ide
> > rekan Fajar bagus, tapi kok masih seperti perencanaan
> > permukiman transmigrasi, yang begitu-begitu saja.
> Sulit
> > dibayangkan akan mencegah 'brain-drain' .
> Apalagi
> > dana pembangunan prasarana tak ada.
> >
> > Mungkin Indonesia perlu berfikir jauh lebih maju, dari
> pada
> > "konsep yang telah ditiru Malaysia".
> Masalahnya
> > kita menganggap perbatasan itu "kawasan
> belakang",
> > sehingga tertinggal terus dalam prioritas.
> >
> > Kalau memang serius maka perlu paradigma beda. Anggap
> > kawasan perbatasan sebagai "kawasan
> terdepan"
> > dalam persaingan dan kerjasama antar negara. Bangun
> > perbatasan bukan sebagai "kawasan/pusat
> desa"
> > dengan hirarkhi terendah.
> >
> > Undang pengusaha besar, beri mereka untuk
> mengembangkan
> > plantation skala besar, kawasan industri tertentu,
> kawasan
> > eksklusif. Karena keterbatasannya adalah tak ada
> prasarana,
> > jauh dari permukiman, butuh investasi besar. Maka
> > kompensasinya, beri mereka konsesi yang lebih banyak
> soal
> > tax dan kemudahan, karena tujuannya adalah pioneering.
> >
> > Kaji industri, agricultur atau kegiatan ekonomi apa
> yang
> > cocok untuk geografi dan lokasi antar negara, jauh
> dari
> > permukiman seperti itu.
> >
> > Diskusi juga dengan MS Hidayat, Siswono, Ciputra,
> LIPPO dan
> > pengusaha besar lain yang pengalaman mengembangkan
> kawasan
> > jadi modern.
> >
> > Intinya, jangan melihat kawasan perbatasan sebagai
> wilayah
> > terdepan dalam pesaingan/persahaba tan antar negara,
> bukan
> > wilayah belakang dengan prioritas terendah pula.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> > http://ecoplano. blogspot. com


      

Kirim email ke