"Nuzul Achjar" <[email protected]> wrote: “…….Kira-kira apa hubungannya antara pandangan mata (amatiran) JJF 208 dengan milis reference kita? Meminjam jargon kampanye Clinton dulu: “Stupid, this is creative industries”. Ada usulan agar arena festival jazz semacam ini dipindahkan saja ke Kemayoran karena sesaknya peminat…..” Aduh asyiknya acara bos ekonomi geografi kita yg satu ini……… rupanya diam2 maniak berat jazz juga ya?........ Kalo abdi mah payah banget bos….. paling banter juga hanya kadang sayup2 saja dengerin gratis suara Tompie saja… atau kalo beruntung ya nemu This Masquerade dari Mus Mujiono..... itu juga kalo pas kebetulan lewat tempat dimana orang nyetel musik gitu…… Bos?….. akh masak ngusulin pindahan jazz festival kok hanya dari JCC ke Kemayoran aja siih?….. mestinya pake semangat regional development planning yg dinamis gitu dong bos ya?… usulinnya ke Kupang NTT gitu misalnya?......... nanti namanya apakah Kupang Jazz Festival…... mungkin bisa digabung sama acara Sail Indonesia…… dimana pesertanya kan ratusan kapal layar dari Australia…. mungkin juga plus acara Timor Auto Rally dibulan sebelumnya.... lalu pertemuan2 internasional semacam tema global warming dsb…. lalu acara pertandingan olahraga nasional yg enteng2 seperti bola voli, voli pantai atau basket…… lalu wisata nonton budidaya mutiara dsb…… dan kalo itu menjadi acara tahunan….. bukanlah lama2 jaringan international hotel industries seperti Four Season atau Ritz Carlton akan merayap kesana juga ya?....... jangan lupa ada arsitek etnik Timor Timur milister kita juga yg selalu siap sedia lho……… Satu lagi bos...... masak acara debat saya "teori hirarkhi/ Central Place Theory" samasekali nggak diberi kata sambutan sekapur sirih-sirih acan sih bos?........ itu khan sebenarnya teorinya ekonomi geografi khaan?..... Salam dari aby
--- On Sun, 3/8/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote: From: Nuzul Achjar <[email protected]> Subject: [referensi] JJF dan Creative Industries To: [email protected] Date: Sunday, March 8, 2009, 2:23 PM Referensiers Yth, Sedikit catatan (amatiran) tentang Java Jazz Festival 2009, selingan di antara humor pak Aby dan “sersan” Pak Wawo. Hari kedua Java Jazz Festival (JJF) 2009 di JHCC, Sabtu 7 Maret 2009, saya berkesempatan nonton beberapa performance. Sayang sekali saya hanya kebagian buntutnya saja nonton “Chaseiro Reunion”, karena keasyikan dengan group jazz Toku dari Jepang. Jadwal Toku dan Chaseiro bersamaan. Seperti sudah saya perkirakan, akan banyak orang tua yang sudah beruban dan perut yang dipenuhi lemak seperti saya yang bakal hadir pada show berlabel “Chaseiro Reunion” di Hall Cendrawasih I dan II. He he he… sisa-sisa laskar Pajang.... Ya nggak heranlah, setelah show, terlihatlah salam-salaman ketemu teman yang sudah lama tak bersua. Ibu-ibu (yang mungkin ketemu calon suami di kampus) saling peluk cium waktu ketemu lagi, foto bersama..dll. Waktu mahasiswa dulu saya suka sekali aransemen jazz Chaseiro - yang personilnya kebetulan anak-anak UI, seperti Candra Darusman (angkatan 1976 FEUI) salah seorang penggagas Jazz Goes To Campus (JGTC) yang hingga kini masih berjalan. Selain Candra, personil Chaseiro terdiri dari Omen (vocalist-Fisip UI), Aswin (FKUI 1976), Indrakesuma bersaudara (Rizali - Fisip, Helmi - FEUI, dan Irwan -FEUI) dan Edwin Hudioro. Melihat kemampuan anak-anak muda jaman sekarang bermain jazz, saya angkat topi. Beberapa catatan yang bisa dibuat adalah performancenya Barry Likumahua, bassist muda berbakat dan komunikatif. Dia mengajak penonton menirukan suara cabikan basnya, persis seperti ketika para penonton mengikuti pancingan suara keyboard Chick Corea pada lagu “Spain” di Montreaux Jazz Festival. Sesekali Barry unjuk gigi dalam “tapping” ala gaya Stanley Clark tempo doeloe. Tapi katanya sih gaya “tapping” sudah kuno, dan lagian, udah banyak yang bisa. Bukan tidak mungkin kelak, Barry akan sebagus bassist Indro Hardjodikoro – saya kira bassist (jazz) terbaik Indonesia saat ini. Indro memenuhi hampir semua kriteria bassist kontemporer. Well.. coba perhatikan gaya permainan bassist top John Myung dari group progressive rock terkemuka saat ini, “Dream Theather”, masing masing sepuluh jari dapat bergerak dinamis, seolah jari-jari pemain piano di atas tuts. Selain Barry, saya juga terkesan dengan drummer muda berbakat yaitu Demas Narawangsa yang usianya masih 15 tahun. Sekitar tiga minggu lalu saya kebetulan menonton Demas bermain bersama gitaris senior Donny Suhendra di TIM. Sayang tak sempat nonton lagi Donny Suhendra dan kawan-kawan di ajang JJF 2009. Kira-kira apa hubungannya antara pandangan mata (amatiran) JJF 208 dengan milis reference kita? Meminjam jargon kampanye Clinton dulu: “Stupid, this is creative industries”. Ada usulan agar arena festival jazz semacam ini dipindahkan saja ke Kemayoran karena sesaknya peminat. Salam jazz, Nuzul Achjar

