Referensiers Yth,

Sedikit catatan (amatiran) tentang Java Jazz Festival 2009, selingan di
antara humor pak Aby dan “sersan” Pak Wawo.

Hari kedua Java Jazz Festival (JJF) 2009 di JHCC, Sabtu 7 Maret 2009, saya
berkesempatan nonton beberapa performance. Sayang sekali saya hanya kebagian
buntutnya saja nonton “Chaseiro Reunion”, karena keasyikan dengan group jazz
Toku dari Jepang. Jadwal Toku dan Chaseiro bersamaan.

Seperti sudah saya perkirakan, akan banyak orang tua yang sudah beruban dan
perut yang dipenuhi lemak seperti  saya yang bakal hadir pada show berlabel
“Chaseiro Reunion” di Hall Cendrawasih I dan II. He he he… sisa-sisa laskar
Pajang....  Ya nggak heranlah, setelah show, terlihatlah salam-salaman
ketemu teman yang sudah lama tak bersua. Ibu-ibu (yang mungkin ketemu calon
suami di kampus) saling peluk cium waktu ketemu lagi, foto bersama..dll.

Waktu mahasiswa dulu saya suka sekali aransemen jazz Chaseiro - yang
personilnya kebetulan anak-anak UI, seperti Candra Darusman (angkatan 1976
FEUI) salah seorang penggagas Jazz Goes To Campus (JGTC) yang hingga kini
masih berjalan.  Selain Candra, personil Chaseiro terdiri dari Omen
(vocalist-Fisip UI),  Aswin (FKUI 1976), Indrakesuma bersaudara (Rizali -
Fisip, Helmi - FEUI, dan Irwan -FEUI) dan Edwin Hudioro.

Melihat kemampuan anak-anak muda jaman sekarang bermain jazz, saya angkat
topi. Beberapa catatan yang bisa dibuat adalah performancenya Barry
Likumahua, bassist muda berbakat dan komunikatif. Dia mengajak penonton
menirukan suara cabikan basnya, persis seperti ketika para penonton
mengikuti pancingan suara keyboard Chick Corea pada lagu “Spain” di
Montreaux Jazz Festival. Sesekali Barry unjuk gigi dalam “tapping” ala gaya
Stanley Clark tempo doeloe.  Tapi katanya sih gaya “tapping” sudah kuno, dan
lagian, udah banyak yang bisa.

Bukan tidak mungkin kelak, Barry akan sebagus bassist Indro Hardjodikoro –
saya kira bassist (jazz) terbaik Indonesia saat ini. Indro memenuhi hampir
semua kriteria bassist kontemporer. Well.. coba perhatikan gaya permainan
bassist top John Myung dari group progressive rock terkemuka saat ini,
“Dream Theather”, masing masing sepuluh jari dapat bergerak dinamis, seolah
jari-jari pemain piano di atas tuts.

Selain Barry, saya juga terkesan dengan drummer muda berbakat yaitu Demas
Narawangsa yang usianya masih 15 tahun. Sekitar tiga minggu lalu saya
kebetulan menonton Demas bermain bersama gitaris senior Donny Suhendra di
TIM. Sayang tak sempat nonton lagi Donny Suhendra dan kawan-kawan di ajang
JJF 2009.

Kira-kira apa hubungannya antara pandangan mata (amatiran) JJF 208 dengan
milis reference kita? Meminjam jargon kampanye Clinton dulu: “Stupid, this
is creative industries”. Ada usulan agar arena festival jazz semacam ini
dipindahkan saja ke Kemayoran karena sesaknya peminat.

Salam jazz,

Nuzul Achjar

Kirim email ke