Kalau saya kebetulan melewatkan libur kemarin ke Bandung. Alasannya, lihat-lihat DiesEmas ITB, tapi tujuan utama kangen anak. Karena situasi, bukannya nongkrong di kampus tapi malah lebih banyak nonton macetnya Dago. Dengan mengistirahatkan judgment 'spatial planning' sebentar, yang tampak adalah geliat ekonomi kota. FO masih tetap jadi magnet utama. Mudah-mudahan yang dijual memang lebih banyak produk lokal. Kalau melihat Elizabeth (produk tas), Edward Forrer (sepatu n kulit lokal), Kartika Sari, Evita klapper tart (kue-kue lokal) makin memperbesar dan memformalkan outletnya di Dago, mungkin indikasi bahwa dagangan mereka kian moncer. Makan siang di Bukit Dago Pakar Timur, sambil melihat panorama Bandung di kejauhan. (Kali ini keprihatinan spatial planning tak dapat dibendung, prihatin melihat bukit-bukit gundul. Tapi bisa apa ya?). Makin banyak saja retoran (Sierra, Neo Calista, berbagai warung kopi termasuk Selasar Sunaryo), dan beberapa hotel (Horizon, Marbella). Kalau mlihat nomor mobilnya, bisa ditebak, mayoritas leter B. Namun ada trend baru, yaitu makin banyaknya wisatawan mancanegara dari Malaysia. Dengan adanya penerbangan langsung Bandung-Kuala Lumpur, dan jalan tol Cipularang, nampaknya memberikan daya tarik bagi wisatawan negeri jiran itu. Dan, mereka relatif royal dalam berbelanja dan memenuhi hotel. Damai di bumi, Risfan Munir blog- Urbaneconomic
--- On Mon, 3/9/09, Nuzul Achjar <[email protected]> wrote: From: Nuzul Achjar <[email protected]> Subject: Re: [referensi] JJF dan Creative Industries To: [email protected] Date: Monday, March 9, 2009, 12:40 PM 2009/3/9 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Satu lagi bos...... masak acara debat saya "teori hirarkhi/ Central Place Theory" samasekali nggak diberi kata sambutan sekapur sirih-sirih acan sih bos?... itu khan sebenarnya teorinya ekonomi geografi khaan? NA: lha, pan udah dijawab berkali kali sama pak Risfan, Pak BTS, pak Eko, dan lain-lain..he he he.. Salah satu asumsi Christaller adalah sebuah wiayah yang datar (seperti kawasan di Jerman Selatan tahun 1933). Lha di Indonesia kan banyak gunung-gunungnya. .. dan yang menjadi kendala utama, tanah- tanah sudah ada pemiliknya.. .itu baru dari aspek praktisnya, belum lagi aspek kelembagaan (misalnya otonomi daerah). Christaller made a number of assumptions such as: All areas have • an isotropic (all flat) surface • an evenly distributed population • evenly distributed resources • similar purchasing power of all consumers and consumers will patronize nearest market • transportation costs equal in all directions and proportional to distance • no excess profits (perfect competition) Wassalam, Nuzul Achjar

