Yup, bgtulah Peter Gontha, founder JJF bilang (kompas, 1/3). Tmn2 di panitia jg sdh 'kasak kusuk'. Ini memang baru rencana. JJC memang strategis, tp ruang2nya sdh tidak cukup. Pdhl hall A+B & sbgian parking area sdh dipakai. Ya maklum, isi festival bkn lg cuma stages for music perfomance, tapi jg stands alat music, audio, toko kaset, f&b smpai bank sponsor. Stand rsp pertamina aja ada, utk apa coba. Jadi kbyang kan bgmn suasananya, ya mirip pasar malam. Saya jg trmsuk yg kberatan. Bkn apa2, slama ini drpd brmacet2 ria, better naik taxi walau hrs jalan hingga pintu JCC di gatot sbroto. Nah kalo jadi pindah, tak tahulah apa moda transp pilihan saya nanti yg aman + nyaman.
Salam, Nita Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Date: Mon, 9 Mar 2009 22:55:59 To: <[email protected]> Subject: Re: [referensi] JJF dan Creative Industries Halo Nita...JJF mau pindah Kemayoran? H..he.. apa nggak salah? Sebaiknya tidak! Jangan mengulangi kesalahan Jakarta Fair yang pindah ke Kemayoran. Fair...festival....expo...dsb itu adalah bagian dari gaya hidup. Siapa yang punya gaya hidup di Jakarta? Ya..orang-orang yang tinggal di belahan Tengah sampai Selatan (termasuk Tangerang dan Bekasi). Kalau JJF di Kemayoran.... bakalan tidak populer lagi dan sebentar akan digantikan oleh gaya hidup lain yang diselenggarakan di sekitar Senayan. Thanks. CU. BTS. --- On Tue, 3/10/09, arinynta <[email protected]> wrote: From: arinynta <[email protected]> Subject: Re: [referensi] JJF dan Creative Industries To: [email protected] Date: Tuesday, March 10, 2009, 5:15 AM Dear bapak-2 milister yth, ikut ya sedikit.... saya habiskan lwe (long weekend) kali ini dgn " begadang" di JJF. Hari pertama, sepulang kantor langsung meluncur ke JCC.... seperti biasa, suasananya festival sudah terasa dari luar. Kemacetan sudah pasti terjadi di seputaran Senayan. Namun, tidak seperti tahun-tahun lalu, kali ini kemacetan tidak begitu heboh (ya, setidaknya mobil teman yg saya tebengi, mudah dapat parkir di Hotel Sultan). Ini bisa jadi karena program sudah diatur sedemikian rupa, sehingga pengunjung lebih tersebar. Mereka yg mau nonton Jason Mraz, yg kebanyakan ABG, sudah rela antri dari sekitar jam 3-an, pas JJF dibuka. Sementara yang mau lihat Dianne Reeves, yg notabene sudah lebih berumur, pastinya datang selepas jam kantor. Hari kedua, seperti yang dialami Pak Nuzul, saya juga merasakan kesumpekan JJC. Bedanya, saya sempat menikmati Chaseiro Reunion dgn komplit. Laura Fygi, cukup setengah, karena juga mau lihat yg lain. Dgn "terpaksa" saya lewatkan Glenn, karena saya tak bisa masuk plenarry hall yang tak sudah sanggup tampung penggemarnya. Hari kedua ini sepertinya memang jadi "puncak"nya, dari segi pengunjung. Bayangkan saja, ada Jason Mraz [lagi2 saya ga bisa nonton..:(], Chaseiro, Laura Fygi, sampai Matt Bianco. Yg lokal ada Benny Likumahua, Glenn, & .... Jadi kebayang dong pengunjung yg datang, dari yg ABG sampai para nini & aki2.., semua tumpleg bleg. Hari ketiga, sepertinya mirip dgn hari jumat. hari ini yg tampil slank (sayang, saya datang kemalaman jadi tidak bisa lihat rocker on jazz), peabo bryson, brian mcknight (yg bisa membuat miranda gultom teriak2 histeris di bibir panggung), nita feat michael paulo (yg enak dinikmati sambil lesehan), maliq yang digelar jelang 00.00 & swing out sister (yg start manggung jam 01..00 hingga 02.15 & jadi penutup JJF yg oke bgt). SOal JJF dgn creative industries.. . ini juga yg membuat Marie Pagestu rela dua hari datang ke sini, terus berkeliling lihat2 pameran alat2 musik & audio juga stand lain... Keduanya pasti ada hubungannya, dan memang menghidupkan ekonomi secara langsung, walaupun tidak (belum) besar (secara regional misalnya) dan sifatnya masih temporer. Apakah untuk membuat creative industries bisa lebih besar & lebih permanen, maka perlu ada festival sekelas JJF, tidak harus demikian. Saya jadi ingat ketika krisis 1998, sempat tren warung tenda yg dikelola scr kreatif di areal yg cukup luas. Sayangnya, krisis lewat, berlalu pula tren itu dan satu per satu kampung warung tenda itu mati. Padahal jika terus dihidupkan di beberapa tempat, bukan tidak mungkin jadi tempat tujuan wisata kuliner yg ok. Apalagi jika diisi oleh kegiatan seni yg kreatif. Soal JJF pindah ke Kemayoran... . JCC memang sudah sanggup terima pengunjung seperti JJF kali ini. Bayangkan jika ada 15 ribu orang datang dlm sehari, meski silih berganti, tetap saja membuat suasana tidak nyaman. belum lagi, ruang2nya sudah harus segera direnovasi. Atap interior byk yg sudah terlepas, pintu2 kmr mandi sudah banyak yg tambal sulam. Rencana kepindahan itu, dilihat secara positif, bisa "menghidupkan" aktivitas daerah tsb, setidaknya dlm 1 minggu jelang & sesudah acara JJF. Efeknya setidaknya akan terasa hingga Ancol dan Mangga2. dari kacamata negatif, pengunjung non-kendaraan pribadi pasti akan kerepotan. maklum lokasinya, meski masuk wilayah jakarta pusat, tapi urusan transportasi umumnya minim. kalaupun ada bis, kelasnya metromini. utk itu sebaiknya panitia menyedia shuttle bus dari/ke lokasi2 tertentu, macam ke parkir timur Senayan, sehingga tidak saja bisa digunakan bagi pengunjung bermobil, juga yg enggan bermobil ke sana. maklum, daerah ini masih tenar dgn "kerawanannya" ... dan ini juga yg hrs dipikirkan matang panitia.. ( komentar dr tmn yg selalu berurusan dgn keamanan JJF, "wah, mesti mulai buka 'kontak' sama yg 'megang' di sana nih, biar aman...") eh kok jd panjang..... maaf salam nita New Email names for you! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does!

