Dear bapak-2 milister yth,
ikut ya sedikit....
saya habiskan lwe (long weekend) kali ini dgn " begadang" di JJF.
Hari pertama, sepulang kantor langsung meluncur ke JCC.... seperti biasa,
suasananya festival sudah terasa dari luar. Kemacetan sudah pasti terjadi di
seputaran Senayan. Namun, tidak seperti tahun-tahun lalu, kali ini kemacetan
tidak begitu heboh (ya, setidaknya mobil teman yg saya tebengi, mudah dapat
parkir di Hotel Sultan). Ini bisa jadi karena program sudah diatur sedemikian
rupa, sehingga pengunjung lebih tersebar. Mereka yg mau nonton Jason Mraz, yg
kebanyakan ABG, sudah rela antri dari sekitar jam 3-an, pas JJF dibuka.
Sementara yang mau lihat Dianne Reeves, yg notabene sudah lebih berumur,
pastinya datang selepas jam kantor.
Hari kedua, seperti yang dialami Pak Nuzul, saya juga merasakan kesumpekan JJC.
Bedanya, saya sempat menikmati Chaseiro Reunion dgn komplit. Laura Fygi, cukup
setengah, karena juga mau lihat yg lain. Dgn "terpaksa" saya lewatkan Glenn,
karena saya tak bisa masuk plenarry hall yang tak sudah sanggup tampung
penggemarnya. Hari kedua ini sepertinya memang jadi "puncak"nya, dari segi
pengunjung. Bayangkan saja, ada Jason Mraz [lagi2 saya ga bisa nonton..:(],
Chaseiro, Laura Fygi, sampai Matt Bianco. Yg lokal ada Benny Likumahua, Glenn,
& .... Jadi kebayang dong pengunjung yg datang, dari yg ABG sampai para nini &
aki2.., semua tumpleg bleg.
Hari ketiga, sepertinya mirip dgn hari jumat. hari ini yg tampil slank (sayang,
saya datang kemalaman jadi tidak bisa lihat rocker on jazz), peabo bryson,
brian mcknight (yg bisa membuat miranda gultom teriak2 histeris di bibir
panggung), nita feat michael paulo (yg enak dinikmati sambil lesehan), maliq
yang digelar jelang 00.00 & swing out sister (yg start manggung jam 01.00
hingga 02.15 & jadi penutup JJF yg oke bgt).
SOal JJF dgn creative industries... ini juga yg membuat Marie Pagestu rela dua
hari datang ke sini, terus berkeliling lihat2 pameran alat2 musik & audio juga
stand lain... Keduanya pasti ada hubungannya, dan memang menghidupkan ekonomi
secara langsung, walaupun tidak (belum) besar (secara regional misalnya) dan
sifatnya masih temporer. Apakah untuk membuat creative industries bisa lebih
besar & lebih permanen, maka perlu ada festival sekelas JJF, tidak harus
demikian. Saya jadi ingat ketika krisis 1998, sempat tren warung tenda yg
dikelola scr kreatif di areal yg cukup luas. Sayangnya, krisis lewat, berlalu
pula tren itu dan satu per satu kampung warung tenda itu mati. Padahal jika
terus dihidupkan di beberapa tempat, bukan tidak mungkin jadi tempat tujuan
wisata kuliner yg ok. Apalagi jika diisi oleh kegiatan seni yg kreatif.
Soal JJF pindah ke Kemayoran.... JCC memang sudah sanggup terima pengunjung
seperti JJF kali ini. Bayangkan jika ada 15 ribu orang datang dlm sehari, meski
silih berganti, tetap saja membuat suasana tidak nyaman. belum lagi, ruang2nya
sudah harus segera direnovasi. Atap interior byk yg sudah terlepas, pintu2 kmr
mandi sudah banyak yg tambal sulam.
Rencana kepindahan itu, dilihat secara positif, bisa "menghidupkan" aktivitas
daerah tsb, setidaknya dlm 1 minggu jelang & sesudah acara JJF. Efeknya
setidaknya akan terasa hingga Ancol dan Mangga2. dari kacamata negatif,
pengunjung non-kendaraan pribadi pasti akan kerepotan. maklum lokasinya, meski
masuk wilayah jakarta pusat, tapi urusan transportasi umumnya minim. kalaupun
ada bis, kelasnya metromini. utk itu sebaiknya panitia menyedia shuttle bus
dari/ke lokasi2 tertentu, macam ke parkir timur Senayan, sehingga tidak saja
bisa digunakan bagi pengunjung bermobil, juga yg enggan bermobil ke sana.
maklum, daerah ini masih tenar dgn "kerawanannya"... dan ini juga yg hrs
dipikirkan matang panitia.. ( komentar dr tmn yg selalu berurusan dgn keamanan
JJF, "wah, mesti mulai buka 'kontak' sama yg 'megang' di sana nih, biar
aman...")
eh kok jd panjang.....maaf
salam
nita
New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/