Betul pak Iman, contoh lain pembangunan di marore, marampit dan miangas di 
sulut yg notabene sangat dekat ke Filipina daripada indonesia, selain bertujuan 
menjaga kedaulatan indonesia secara ekonomi juga menjaga sumber daya kelautan 
yg sangat besar disana. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]

Date: Sun, 15 Mar 2009 10:57:57 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir


Pak Aby, Mardiansyah, and dear all.
Kalau membangun pasar di Jambi, di Jakarta, di Tangerang, atau pasar Inpres di 
Ciledug, Semarang atau Plk Raya, kalau ngga berfungsi boleh disalahkan, tapi 
kalau membangun diperbatasan boleh kho, mungkin waktu itu niatnya lain, paling 
tdk sebagai tetenger bahwa itu Indonesia, di bangun oleh Indonesia, 
eksistensinya ada Indonesia dan sbg upaya ut menjga kedaulatan bangsa. Nah, 
sekarang kalau tdk berfungsi silahkan gunakan ut penggunaan yg lain. Sementara 
skr digunakan kadang kambing. 
Pulau Nipa diperbatasan dgn Singapura direklamasi dgn biaya yg sy tahu 350 
milyard, hanya sekedar ngurug pulau, skr ngga di apa2 in. Memang mahal kalau ut 
kedaulatan negara.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: <[email protected]>

Date: Sun, 15 Mar 2009 00:31:26 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir


Pak Aby dan rekan referensiers lain ysh,
 
Membangun ruko sebagai suatu bentuk pengembangan fasilitas perdagangan yang 
digabungkan dengan fungsi hunian tidak serta merta menjamin ruko (bangunan) 
tersebut berfungsi. Kalo Pak Aby jalan-jalan ke Kota Jambi atau Batam, mungkin 
Pak Aby akan menemukan banyak bangunan ruko yang tidak termanfaatkan kecuali, 
mungkin, untuk fasilitas spekulasi... (Ini setidaknya sampai tahun 2005 dulu, 
nggak tahu bagaimana persisnya sekarang).
 
Sayang laporan Kompas ttg mubazirnya bangunan pasar di Motaain, perbatasan RI - 
Timor Leste (TL), tidak menyertakan berapa besar agglomerasi penduduk di 
Motaain tsb. Agglomerasi penduduk yg berkumpul itu bisa didekati dari jumlah 
penduduk yang tinggal di wilayah Motaain, Motamasin dan Turiskai (kota kecil 
Motaain, Motamasin dan Turiskai), atau bahkan kalau bisa lebih spesifik lagi 
mungkin bisa ditambah dengan jumlah penduduk sekitar (baik dari wilayah RI 
maupun TL) yang memanfaatkan Motaain, Motamasin dan Turiskai sebagai tempat 
pertemuan, pertukaran, dan atau perdagangan. Mungkin yang lebih spesifik lagi 
adalah besaran agglomerasi ekonomi yang berputar di sana. Saya menduga besaran 
agglomerasinya relatif kecil bila dibandingkan dengan bangunan pasar yang 
dibangun (bangunan besar dengan 5 buah gedung dimana salah satunya bertingkat, 
dengan 35 los pasar di dalamnya?). Untuk bangunan pasar sebesar itu, untuk 
suatu kawasan yang 'normal', perkiraan
 pribadi saya memperkirakan bahwa bangunan pasar tersebut harus didukung oleh 
sekitar 50ribu atau 60ribu penduduk sehingga mampu menggerakkan ekonomi pasar 
tersebut.
 
 
Jadi, bisa jadi kemubaziran pasar tsb bukan hanya disebabkan oleh jenis 
bangunan fasilitas pasarnya saja, melainkan juga dipengaruhi oleh belum 
'terbentuknya' agglomerasi ekonomi yang mampu mendukung berlangsungnya fungsi 
pasar seperti yang diharpkan dari bangunan pasar 5 bangunan dengan 35 los pasar 
seperti itu. Mungkin, apabila pasar tersebut dibangun dengan bangunan yang 
berbentuk ruko bisa mengurangi kemubazirannya, karena bisa berfungsi sebagai 
rumah tinggal. Tetapi hal itu juga belum tentu terjadi karena belum tentu 
bangunan ruko juga akan memiliki penyewa, mengingat harga bangunan ruko juga 
akan jauh lebih mahal daripada bangunan rumah biasa. (Bangunan ruko bisa 
berharga dua hingga empa kali lipat harga bangunan rumah biasa, atau bahkan 
lebih, bergantung kepada kualitas konstruksi dan lokasinya). Namun, seperti 
yang banyak dapat dilihat pada Kota Jambi, Batam dan kota-kota lainnya terutama 
di Sumatera, pengembangan bangunan ruko pun belum tentu
 mampu mengembangkan fungsi fasilitas pasar (perdagangan).
 
Mungkin sekian dulu diskusi saya. Terima kasih atas perhatian Pak Aby dan rekan 
referensiers lain ysh. Semoga apa yang saya utarakan dapat berkontribusi bagi 
kitasemua, dan juga untuk kontribusi kecil saya dalam .... MENUJU INDONESIA 
MULIA.... ........ MULIA BANGSANYA...... MULIA RAKYATNYA....
 
Salam,
 
Fadjar - Undip
 


--- On Sun, 3/15/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:


From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir
To: [email protected], [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Sunday, March 15, 2009, 9:19 AM












Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir 
Pengungsi Eks Timor Timur yang menggunakannya. 
  
Motaain, Kompas -  Enam pasar bersama diperbatasan Republik Indonesia – Timor 
Leste yang dibangun Pemerintah Indonesia dengan nilai miliaran rupiah kini 
mubazir. Bahkan salah satunya menjadi tempat tinggal warga dan kandang kambing. 
Pengamatan Kompas di Motaain-Kabupaten Belu, perbatasan  RI-Timor Leste, Jumat 
(13/3),  pasar itu tidak dimanfaatkan sebagai  pasar. Sekitar 21 los pasar 
digunakan warga sekitar untuk tinggal sementara dan 13 los pasar menjadi 
kandang kambing. Pasar itu dibangun dengan dana sekitar 5 miliar. Dikabupaten 
Belu terdapat  pasar Motaain, Motamasin, dan Turiskai. Ketiga  3 pasar ini 
berbatasan dengan Bobonaro, Timor Leste. 
Adapun pasar Wini, Haumeniana, dan Napan berada dikabupaten Timor Tengah Utara, 
berbatasan dengan distrik Oecussi, Timor Leste. 
Matias Sakiik (42) warga desa SiIawan,  kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten 
Belu, menuturkan, pasar Motaain dibangun sejak tahun 2003. Dari 5 gedung, salah 
satunya bertingkat, dengan 35 los yang hendak disewakan. Namun gedung berlantai 
2 itu ditempati warga eks pengungsi Timor Timur yang belum  memiliki rumah. 
Alfonso Diaz Ximenes (55) penghuni pasar,  mengatakan, mereka menempati gedung 
pasar itu setelah gubug yang dibangun tahun 2000, hancur diterjang banjir pada, 
2009. “Kami tinggal sementara saja. Kalau pasar ini beroperasi kami pindah”. 
Di Wini, ibukota kecamatan  Insana, Timor Tengah Utara, yang berbatasan 
langsung dengan distrik Oecussi terdapat bangunan pasar diareal 5000 ha, dengan 
nilai 2 milyar rupiah. 
H. Bono Usman (55) asal Bone, Sulawesi Selatan, pengusaha pertokoan dan warung 
makan di Wini menyesalkan pasar itu mubazir. 
Komandan Pos Pengamanan Perbatasan Motaain–Batugade  Letda (Inf) Butar-Butar  
mengatakan, rencananya, pasar itu dioperasikan bersamaan dengan pasar Timor 
Leste yang letaknya berdampingan dengan pasar perbatasan RI dibangun. (KOR) 
  
 -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  - 
  
Kalau disebutkan bhw pasar Motaain misalnya dibangun pada 2003, itu berarti ia 
tlh hampir 6 (enam)  thn lamanya nganggur tak dioperasikan….. suatu tenggang 
waktu yg tak dpt dikatakan sebagai “sebentar”….. 
Lagipula dari 2 tahun lalu alasannya kok itu2 terus…. Mau buka ‘barengan’ 
dengan pihak TimorLeste…. Sebenarnya pasar itu utk fungsi ‘pelayanan’ atau utk 
fungsi 'janjian' atau fungsi apa?....... 
Mengapa banyak pasar yg dibangun didaerah tertinggal dan terpencil  tak dapat 
dipergunakan secara optimal?.... .. itu sebabnya karena pemerintah (dan para 
‘konsultan profesionalnya’) hanya lebih  mengenal bentuk-bentuk desain ‘pasar’ 
sebagaimana yang ada dikota-kota besar… yang terdiri dari kios-kios kecil serta 
los-los terbuka…… dan pemerintah (serta para “konsultan profesional”nya) tak 
mengenal atau tak akrab dengan bentuk2 “ruko” atau “rumah toko” 
(shophouse)……dimana kalau bagi orang Cina itu adalah bentuk spasial dari 
kewirausahaan yang fundamental dan melegenda... .. 
Dengan bentuk2 "ruko" demikian para pengusaha kecil sebenarnya dapat amat 
sangat tertolong dengan masalah “rumah tinggal” maupun  masalah “ruang usaha” 
mereka….. yg bila “terpisah” menjadi sangat repot… sedangkan bila “disatukan”  
maka akan sangat memberikan keleluasaan kemudahan yg luar biasa utk mereka 
dapat “tinggal” sekaligus “berusaha dikawasan yg sepi pembeli” itu dengan 
dengan “cara mengoperasikan ruang usaha”  yg menjadi mudah dan santai (bisa 
sambil lalu dan oleh siapa saja) namun dapat dilakukan “setiap hari” (bukan 
hanya 2 kali seminggu)… dan dapat dilakukan dari pagi bahkan hingga malam (dan 
bukan hanya “bbrp jam” saja dipagi hari spt pd umumnya pasar dikawasan 
tertinggal  dan didesa2…...  dan yg terpenting pembeli dapat berbelanja “kapan 
saja” setiap hari dari pagi hingga malam…. tanpa harus menunggu “hari pasaran”  
tiba……… 

Tapi after all benarkah pasar tsb mubazir?.... . kenyataannya khan bisa 
dimanfaatkan untuk rumah tinggal oleh eks pengungsi TimTim dan untuk kandang 
kambing khan…… jadi sebenarnya  ya tidak mubazir dong?...... 
  
Salam, aby
















      

Kirim email ke