Dear Pak Aby dan rekan lainnya

 

Akhir januari lalu saya melongok-longok pasar ini. Memang sepi adanya. Tak ada 
kegiatan pasar samasekali…  walaupun bangunannya sangat bagus sekali,…. Layak 
jadi pasar inter

Sayang, saya tidak ambil gambar di situ,.. karena ragu-ragu membawa kamera ke 
situ, takut tidak diizinkan oleh tentara di situ,.. padahal rekan saya dengan 
bebasnya bisa foto2 di situ.

 

Kalau menurut rekan saya,….. pasar itu memang dimaksudkan untukmenggairahkan 
kegiatan perdagangan perbatasan situ,….

Namun sayang, di pasar itu , kadang menjadi ajang adu konflik,…antara warga TL 
dan RI … karena masih ada sisa-sisa konflik yang tertanam,.. walaupun mungkin 
masih tersisa sedikit,… tapi pasar itu jadi tempat ajang bentrokan. 

Sehingga orang pun malas untuk bertransaksi di situ. 

Dan akhirnya ditutup oleh peihak berwenang,.. 

Dan direncanakan katanya untuk terminal angkutan ,…….. 

 

Rupanya diangkat cerita pasar ini oleh kompas,….. senang juga rasanya. Paling 
tidak menjadi perhatian orang. 

 

Kalau mbangun ruko,..mungkin lebih cocok buat mereka yang memang profesinya 
pedagang saja,..

Tapi mungkin mereka lebih banyak yang menjadi produsen sekaligus pedagang,.. 
jadi mereka membawa hasil ladang/perikanan/perkebunan, langsung ke pasar,..

Jadi mereka yang adalah produsen-pedagang ini lebih suka tinggal lebih dekat ke 
tempat usahanya (di ladang, di peinggir pantai, di kebun) .. daripada di ruko,… 
karena mereka bisa sambil menjaga ladang, kebun mereka,… 

Dan mereka mungkin belum ada banyak pedagang pengumpul hasil produksi 
masyarakat,.. 

Jadi mereka yang jual adalah sekaligus mereka yang menghasilkan …. 

Itu perkiraan saya sih, yang mungkin salah,… 

 

 Di salah satu perbatasan RI-TL, di sebuah sungai,… perdagangan terjadi tanpa 
harus ada pasar,..  transaksi terjadi di atas perahu-perahu yan gmelintasi 
sungai yang membatasi. 

 

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [email protected] 

Find also Indo-MONEV in facebook:  
<http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> 
http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of hengky 
abiyoso
Sent: 15 March 2009 09:20
To: [email protected]; [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: [plbpm] Re: Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir

 


Pasar di Perbatasan RI-Timor Leste Mubazir 

Pengungsi Eks Timor Timur yang menggunakannya. 

  

Motaain, Kompas -  Enam pasar bersama diperbatasan Republik Indonesia – Timor 
Leste yang dibangun Pemerintah Indonesia dengan nilai miliaran rupiah kini 
mubazir. Bahkan salah satunya menjadi tempat tinggal warga dan kandang kambing. 

Pengamatan Kompas di Motaain-Kabupaten Belu, perbatasan  RI-Timor Leste, Jumat 
(13/3),  pasar itu tidak dimanfaatkan sebagai  pasar. Sekitar 21 los pasar 
digunakan warga sekitar untuk tinggal sementara dan 13 los pasar menjadi 
kandang kambing. Pasar itu dibangun dengan dana sekitar 5 miliar. Dikabupaten 
Belu terdapat  pasar Motaain, Motamasin, dan Turiskai. Ketiga  3 pasar ini 
berbatasan dengan Bobonaro, Timor Leste. 

Adapun pasar Wini, Haumeniana, dan Napan berada dikabupaten Timor Tengah Utara, 
berbatasan dengan distrik Oecussi, Timor Leste. 

Matias Sakiik (42) warga desa SiIawan,  kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten 
Belu, menuturkan, pasar Motaain dibangun sejak tahun 2003. Dari 5 gedung, salah 
satunya bertingkat, dengan 35 los yang hendak disewakan. Namun gedung berlantai 
2 itu ditempati warga eks pengungsi Timor Timur yang belum  memiliki rumah. 

Alfonso Diaz Ximenes (55) penghuni pasar,  mengatakan, mereka menempati gedung 
pasar itu setelah gubug yang dibangun tahun 2000, hancur diterjang banjir pada, 
2009. “Kami tinggal sementara saja. Kalau pasar ini beroperasi kami pindah”. 

Di Wini, ibukota kecamatan  Insana, Timor Tengah Utara, yang berbatasan 
langsung dengan distrik Oecussi terdapat bangunan pasar diareal 5000 ha, dengan 
nilai 2 milyar rupiah. 

H. Bono Usman (55) asal Bone, Sulawesi Selatan, pengusaha pertokoan dan warung 
makan di Wini menyesalkan pasar itu mubazir. 

Komandan Pos Pengamanan Perbatasan Motaain–Batugade  Letda (Inf) Butar-Butar  
mengatakan, rencananya, pasar itu dioperasikan bersamaan dengan pasar Timor 
Leste yang letaknya berdampingan dengan pasar perbatasan RI dibangun. (KOR) 

  

 -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  -  - 

  

Kalau disebutkan bhw pasar Motaain misalnya dibangun pada 2003, itu berarti ia 
tlh hampir 6 (enam)  thn lamanya nganggur tak dioperasikan….. suatu tenggang 
waktu yg tak dpt dikatakan sebagai “sebentar”….. 

Lagipula dari 2 tahun lalu alasannya kok itu2 terus…. Mau buka ‘barengan’ 
dengan pihak TimorLeste…. Sebenarnya pasar itu utk fungsi ‘pelayanan’ atau utk 
fungsi 'janjian' atau fungsi apa?....... 

Mengapa banyak pasar yg dibangun didaerah tertinggal dan terpencil  tak dapat 
dipergunakan secara optimal?...... itu sebabnya karena pemerintah (dan para 
‘konsultan profesionalnya’) hanya lebih  mengenal bentuk-bentuk desain ‘pasar’ 
sebagaimana yang ada dikota-kota besar… yang terdiri dari kios-kios kecil serta 
los-los terbuka…… dan pemerintah (serta para “konsultan profesional”nya) tak 
mengenal atau tak akrab dengan bentuk2 “ruko” atau “rumah toko” 
(shophouse)……dimana kalau bagi orang Cina itu adalah bentuk spasial dari 
kewirausahaan yang fundamental dan melegenda..... 

Dengan bentuk2 "ruko" demikian para pengusaha kecil sebenarnya dapat amat 
sangat tertolong dengan masalah “rumah tinggal” maupun  masalah “ruang usaha” 
mereka….. yg bila “terpisah” menjadi sangat repot… sedangkan bila “disatukan”  
maka akan sangat memberikan keleluasaan kemudahan yg luar biasa utk mereka 
dapat “tinggal” sekaligus “berusaha dikawasan yg sepi pembeli” itu dengan 
dengan “cara mengoperasikan ruang usaha”  yg menjadi mudah dan santai (bisa 
sambil lalu dan oleh siapa saja) namun dapat dilakukan “setiap hari” (bukan 
hanya 2 kali seminggu)… dan dapat dilakukan dari pagi bahkan hingga malam (dan 
bukan hanya “bbrp jam” saja dipagi hari spt pd umumnya pasar dikawasan 
tertinggal  dan didesa2…...  dan yg terpenting pembeli dapat berbelanja “kapan 
saja” setiap hari dari pagi hingga malam…. tanpa harus menunggu “hari pasaran”  
tiba……… 

Tapi after all benarkah pasar tsb mubazir?..... kenyataannya khan bisa 
dimanfaatkan untuk rumah tinggal oleh eks pengungsi TimTim dan untuk kandang 
kambing khan…… jadi sebenarnya  ya tidak mubazir dong?......  
<http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/30.gif> 

  

Salam, aby

 



Kirim email ke