Rekans ysh, Terima kasih atas pengayaan knowledge tentang strategi pengembangan ekonomi antar negara ini. Saya jadi teringat buku yang yang berjudul: "Tiga Pilar Pengembangan Wilayah: SDM, SDA dan Teknologi" terbitan BPPT. Inovasi dan difusi Teknologi yang tak bisa dilupakan. (Mungkin rekan Aunur bisa cerita sedikit tentang ini, karena seingat saya, kata pengantar itu buku beliau yang teken).
Kebetulan program pengembangan ekonomi lokal yang saya tangani, sedikit bersinggungan dengan kegiatan Menristek tentang pengembangan jaringan BTC (business technology centers). Ini adalah jaringan pembelajaran keterampilan teknologi madya. Ada simpul-simpul antar universitas, tapi sasarannya tingkat SMK (sekolah menengah kejuruan). Jejaringnya online ini berskala internasional, sehingga skill/teknologi apa yang dibutuhkan di tingkat lokal bisa dicarikan sumbernya di belahan bumi lain. Sementara dari Jerman, sebagai sponsornya saat ini. Kita tahu Swiss-German, juga Jepang telah lama membantu SMK-SMK kita. Kedua, hal yang diangkat oleh Cut Safana yang belum terjawab ialah soal manajemen pelayanan publik terkait delivery management dari berbagai pelayanan (dicontohkan distribusi tabung dan kompor gas). Tapi masalah service delivery ini terjadi juga pada hampir semua pelayanan, misalnya BLT (yang sekarang sedang akan turun), beras bagi Gakin, pupuk bersubsidi. Planner umumnya belajar tentang sistem distribusi dan koleksi (koldip). Memang dulu konsepnya antar hirarkhi pelayanan (kota). Tapi dengan revolusi transportasi model hirarkhi tersebut sudah mesti dirubah dengan pendekatan supply chain management, atau manajemen logistik yang lebih praktis. Sekali lagi di literatur pengembangan wilayah atau regional science itu sudah dikembangkan, tinggal bagaimana kita mengadopsi dan mengaplikasikannya. Mengenai MANAJEMEN pelayanan publik bisa juga diklik di www.ecoplano.blogspot.com. Damai di bumi, Risfan Munir -----Original Message----- From: indra budiman syamwil <[email protected]> Sent: Tuesday, March 17, 2009 8:59 PM To: [email protected] Subject: RE: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto Pak Eka dan Rekan Ysh, Kalaulah saya diminta pendapat tentang mana yang penting SDA dan SDM, ya sama sama penting untuk saat ini. Strategi pengembangan perekonomian berdasarkan SDM harus disiapkan sedini mungkin, sehingga devisa SDA bisa menghasilkan SDM dan kapasitas teknologi yang meningkatkan nilai tambah penggunaan sumberdaya alam itu sendiri. Betul Pak Eka, kalau saya tidak salah memang perekonomian Jepang sangat tergantung kepada perekonomian domestiknya, dan tergantung pada SDM sebagai penggerak ekonomi dan juga customer (internal economy). Sehingga dua pandangan dalam pembangunan perekonomian pandangan distribusi (welfare) dan pandangan pertumbuhan (melalui ekspor yang menghasilkan devisa) sering menjadi perdebatan. Sekarang kita mulai membicarakan daya beli masyarakat konsepnya bisa kesejahteraan (akses kepada ekonomi) atau pertumbuhan internal economy sebagai penciptaan deman efektif. Setelah bubble economy kira-kira pertengahan 1980an sehingga terjadi exodus industri Jepang ke manca negara (hollowing-out) sebenarnya Jepang tengah mengalami krisis kecil perekonomian yang agak sustainable. Ketika itu di banyak literatur para ahli Jepang mengharapkan terjadinya babby boom seperti pada era 1960an, agar konsumsi meningkat dan pabrik ngepul lagi Newly married dan children lebih konsumtif dan produktif dibandingkan orang tua sepertinya begitu. Sebenarnya yang terjadi adalah umur menikah meningkat (lelaki terlalu terkooptasi bekerja di perusahaan, wanita justru semakin mandiri), banyak keluarga Jepang sibuk kerja suami istri dan tidak punya anak, dan orang tua semakin panjang umur karena sehat. Sampai terjadi fenomena orang tua (60 tahun) memelihara orang tua (90 tahun), ini yang disebut fenomena aging society. Jadi pertumbuhan penduduk di tahun 1980an adalah karena panjangnya usia sungguhpun angka kelahiran kecil sekali. Pada grafik Pak Eka titik puncak di tahun 2000an mulai terlihat dampak kecilnya angka kelahiran dan mulai meninggalnya orang tua yang lahir di tahun 1920an. Fenomena aging society lainnya di akhir 1980an Jepang berupaya merekayasa pembentukan kota High-tech di Utara Australia untuk memanfaatkan tenaga ahli pensiunan mereka, begitu pentingnya produktifitas manusia bagi mereka. Singapura dan Jepang mempunyai fenomena yang sama yaitu rakyatnya bekerja untuk pemerintah (mereka kaya setelah pensiun, ketika tidak bisa lagi menikmati lezatnya kolesterol). Bisnis pensiunan ini merupakan bisnis jasa yang cukup besar di Jepang, termasuk rumah jompo dan pelayanan livelihood orang tua. Memang antara Malaysia dan Indonesia serta negara-negara Asia lainnya telah terjadi division of labor lintas negara. Malaysia dengan penduduk yang sedikit harus pintar-pintar mengelola ekonominya. Malaysia secara tradisional selalu bersaing dengan Singapura (musuh bebuyutan). Singapura menjadi international hub capital lintas negara, Malaysia juga ingin, maka diciptakanlah KL Global city scheme dan Cyberjaya serta Putera Jaya. Pembangunan Malaysia setelah transformasi sistem Inggris, terutama pada era Mahathir memang banyak mencontoh Jepang (Malaysia Truly Asia). Sebagai trading hub mereka harus mempertahankan efisiensi industri pengolahan serta kunci-kunci perdagangan komoditi (contohnya minyak atsiri dari Indonesia). Perusahaan Malaysia sekarang mulai menciptakan platform-platform di Indonesia karena mereka kekurangan blue collar labor, deman, disamping memanfaatkan TKI. Sayangnya, beberapa studi menunjukkan remiten dari TKI belum memberikan dampak pembangunan yang sustainable di perdesaan di Indonesia karena kurang dipersiapkan untuk menciptakan deman di perdesaan. Saya setuju dengan Pak BTS neoliberalisme di Malaysia menciptakan ketergantungan yang amat sangat kepada pecuniar capital (uang). Modernisasi pasar tradisional seperti program Mas Prabowo harus betul-betul disiasati dengan baik karena bisa memarginalkan sebagian pelaku pasar. Tukang beca masih bisa mengantarkan penumpang sampai ke pagar rumah. Orang Indonesia masih bisa ngutang di Mang Udin (sungguhpun Mang Udin bukan Bankir), pasar seperti apa ini? Pasar dengan modal sosial yang kental?. Bio-etanol bisa menciptakan 'kartelisasi' yang baru setelah fosil fuel?. Tentang program 8 Program Mas Prabowo saya kawatir semua Capres sekarang punya program yang mirip. Masalahnya pelaksanaannya seperti apa, bagaimana strategi dan kebijakan itu dibuatkan instrumennya dan disusun rencana pelaksanaannya. Program nya semua serba fisik, kelembagaan masyarakat, kapasitas teknopreneur masyarakat, inovasi dan good governancenya mana ya, Mas Prabowo? Indra B Syamwil To: [email protected] From: [email protected] Date: Fri, 13 Mar 2009 18:08:34 +0700 Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto Setuju Bu Cut, kelihatannya kita selalu 'satu hati'. Setuju Pak BTS, itu bila 'dana' sudah menjadi 'modal pembangunan', seperti kasus Zimbabwe. Padahal kebijakan nasional kita menyebutkan bila 'modal pembangunan' itu adalah sdm, kekayaan alam, dst; sehingga akhirnya melahirkan istilah-istilah seperti penatagunaan tanah, penatagunaan udara, penatagunaan air, dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. Permasalahan terpenting adalah : mudeng nggak kita dengan istilah-istilah ini? Jepang sedikit yang saya ketahui sudah menjadikan sdm sebagai modal pembangunan. Pertumbuhan sdm seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Mohon periksa lampiran, bahan yang saya peroleh dari Onishi, Mohon dilihat 'stepping'nya bila kemajuan ekonomi selalu seiring dengan kemajuan sdm, terkecuali 'fenomena baru' pasca 2000; namun ini pun terpatahkan dengan 'fenomena China'. Kunci lain saya kira 'privatisasi', sehingga sebenarnya semua program kecuali 1 dan 7 itu bisa diserahkan kepada 'non-Pemerintah'. Namun perlu kita minta pendapat Pak Indra dkk yang lebih memahami kasus Jepang 'dan Malaysia' ini. Salam. -ekadj 2009/3/13 cut safana [email protected] Para milister Ysh, Untuk bangsa kita saat ini yang diperlukan tidak hanya sekedar program (termasuk cara penyediaan dana), tetapi yang paling penting nantinya adalah bukti/realisasi program (tidak sekedar out put, tetapi out come & impac nya). Contoh kecil : program tabung gas + kompor gas, mohon dichek siapa saja yang menerimanya ? (kriteria penerima subsidi tidak terlaksana dengan baik, yang penting programnya jalan, dan LAKIP 100 % ....???????)

