Dear rekans,

Jadi semua mendukung Indonesia raya ini? He he he.

Saya hanya ingin menambahkan perlunya melihat dari aspek MANAJEMEN pelaksanaan. 
Kita planner biasanya berhenti di penyusunan Rencana dan Program, yang ini 
sekarang umumnya sudah cukup baik. Dikerjakan oleh konsultan profesional. Tapi 
bagaimana MANAJEMEN pelaksanaannya. Amanat UUPR, misalnya menghendaki 
"perencanaan - pemanfaatan (pelaksanaan) - pemantauan (monev)". Tapi wacana 
diskusi masih melulu "how to plan".

Menyangkut 8 program tsb, yang belum dijelaskan juga menyangkut manajemen 
pembangunan, atau aspek kelembagaannya. Siapa yang menjalankan program itu? Di  
Indonesia sekarang kita harus bicara otonomi daerah. Bagaimana mengajak daerah, 
Pemda dan stakeholdernya agar mendukung program itu. 
Kedua, penyakit kronis negara kita adalah korupsi. Apa program partai/kandidat 
tsb dalam memberantas korupsi.

Soal MANAJEMEN, a.l. menyangkut delivery pelayanan publik. Yang banyak terjadi 
di negara kita manajemen distribusi pelayanan kurang mendapat perhatian 
Perancangan, pelaksanaan dan pengawasannya belum baik. Padahal inilah yang 
langsung dirasakan masyarakat.

Manajemen pelayanan tersebut menyangkut: policy, penetapan target group 
(definisi Gakin selalu diperdebatkan), need assessment (sering salah tebak), 
mobilisasi resources (tidak semua oleh pemerintah), jaringan sistem distribusi, 
titik pelayanan (service point), bagaimana menjangkau penduduk yang menyebar 
(layanan keliling?), dan bagaimana mengorganisir kelompok penerima layanan itu. 
Seluruhnya ini perlu dirancang, dan dievaluasi terus. Kasus BLT, ganti LPJ, 
beras Gakin, kertas n kotak suara, kesehatan, pendidikan, info tata ruang untuk 
sampai ke masyarakat, memerlukan pembenahan "service delivery flow" nya. (lihat 
juga www.ecoplano.blogspot.com)

Selain itu, mendukung optimisme teman-teman, mungkin kita perlu menyebar  
TRUST. Jelek-jelek begini banyak kemajuan, perubahan, prestasi bangsa 
(pemerintah, swasta, masyarakat) yang layak dicatat. Perlu menerapkan 
appreciative approach dalam manajemen pembangunan?

Kembali ke "8 program" di atas, yang layak dicatat mungkin adalah 
kelantangannya bicara kemandirian ekonomi, menilai ulang aset negeri 
(fundamental kuat, jangan kalah bargain hanya sedang sulit likuiditas), dan 
optimismenya. Sesuatu yang diperlukan pasca krisis keuangan dunia yang 
memdorong 'proteksionisme baru' dalam tata ekonomi dunia.

Damai di bumi,
Risfan Munir



-----Original Message-----
From: Ibnu Taufan <[email protected]>
Sent: Friday, March 13, 2009 10:44 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto

BTS,
Setuju 105% ... yg 100 itu sdg rajin digemakan partai2, terutama yg pingin 
"indonesia lebih raya" lagi .. nah sampeyan semangat dan optimis ..gak pakai 
mengumpat masa lalu ..tp percaya bhw bangsa ini MAMPU dan bs HEBAT meski 
bebannya bueraat amat ..tapi khan kekayaan masih banyak juga yaa !
Salam dari desa, karena belajar dari dan dengan masyarakat ..benar2 luarbiasa 
shg sy jg optimis selepas 2014 akan muncul kejayaan ..!
IBNU TAUFAN,
Jakarta Selatan, Indonesia
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: Bambang Tata Samiadji 
Date: Fri, 13 Mar 2009 08:31:03 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto
Halo Bu Cut, dalam banyak hal tentang Indonesia, saya berbeda dengan Anda.
 
Soal program dan implementasi, kita sudah berusaha melaksanakan sebaik-baiknya 
berdasarkan UU 25/2004 tentang SPPN yaitu penyiapan program, implementasi, 
output, dan...outcome/impact. Hanya soal impact  khan tidak begitu saja bisa 
dinilai dalam tahun anggaran berkenaan ataupun tahun anggaran berikutnya. Perlu 
evaluasi dan monitoring. Dan monev ini juga dilaksanakan sesuai dengan 
peraturan dan perundangan yang ada. Khan tidak ada yang salah dalam public 
administration kita? Kalaupun dalam pelaksanaannya ada yang menyimpang, ada 
pemborosan, dsb, itu khan biasa yang secara terus menerus akan diperbaiki. 
Setiap proses manajemen akan terjadi deviasi dan tak perlu disesali.
 
Contoh tentang konversi minyak dengan gas dan pembagian tabung, saya kira itu 
suatu kebijakan Indonesia yang sangat berani (apakah ada negara yang 
melaksanakan seperti ini?). Dalam prakteknya pembagian tabung itu tidak mulus. 
Tapi segala kericuhan pembagian tabung terus diperbaiki dan akhirnya sekarang 
benar-benar pemakaian tabung sudah tersosialisasi dan efektif. Kalaupun masih 
terjadi masalah, secara menerus diperbaiki, Di sinilah Indonesia melakukan 
pembelajaran, ada kegagalan, tapi buahnya keberhasilan. Karenanya, Indonesia 
adalah gudang pembelajaran (the worst practice is the best learnt).
 
Secara pribadi saya sangat menghargai orang Malaysia, mereka sangat menghargai 
manusia sebagai aset bangsa. Begitupun negara kita Indonesia. Memang sepertinya 
negara kita lebih menganggap penduduknya sebagai liability daripada aset. Tapi 
sebetulnya sama saja khan. Kalau ada aset, berarti ada liability. Yang beda 
hanya kesempatan saja. Mereka lebih mudah, kita di sini lebih banyak mengalami 
kesulitan (lebih enak saya sebut tantangan). Ini analog dengan kita-kita yang 
nota bene Kelompok Ekonomi Menengah. Kalau dibandingkan dengan Kelompok Ekonomi 
Bawah, seperti orang-orang miskin yang ada sekitar kita, apakah kita lebih 
hebat daripada mereka? Koq tidak ya. Kita menikmati pendidikan, kita menguasai 
profesi, dsb itu karena kita beruntung. Coba orang -orang miskin itu diberi 
kesempatan yang sama, bisa saja mereka juga sehebat kita, atau lebih hebat 
nkali.
 
"Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput halaman sendiri". Kita merasa 
mengagumi Malaysia tetangga kita. Kota KL itu cukup rapi dan teratur, sangat 
sedikit dijumpai kaki lima, sangat bersih (walau tak sebersih Singapore). 
Apalagi kota baru Putrajaya itu, begitu gemerlap lampu-lampu dan air mancur 
yang semuanya sangat boros enerji. Kawasan-kawasan kumuh juga sangat berkurang 
di KL karena Pemerintah memang punya uang untuk merehabilitasi ataupun 
meremajakan kotanya. Persoalan tanah sepertinya tidak rumit amat. Penggunaan IT 
juga sangat memasyarakat, pelayanan kota seperti perijinan sudah dengan IT, 
atau non-contact dengan aparat, sehingga sangat efisien, dan Good Governance 
berjalan sebagaimana mestinya. Tak salah kalau kantor program UNDP soal Good 
Governance, yaitu The Urban Governance Initiative (TUGI) berkantor di Kuala 
Lumpur Malaysia, dan emoh berkantor di Jakarta.
 
Nah ganti tanya bagaimana orang Malaysia berkunjung ke Indonesia? Apakah mereka 
mual, apakah mereka jijik, apakah mereka meremeh dengan sebut Indon? Boleh jadi 
mereka sangat senang dengan negara kita ini. Coba kalau butuh segala keperluan 
pribadi, dalam jarak 50 m kita menemukan warung. Mana mungkin di Malaysia bisa 
begini? Kalau perlu apa-apa mesti ke corner-corner,  atau ke kantin-kantin 
resmi yang tak mudah mencapainya. Mau beli baju,...woow...It is cheap and good. 
Apalagi kalau lihat Bali, Malaysia akan sangat iri, mana ada kelompok budaya 
dan alam yang begitu surgawi seperti Bali itu (dan masih banyak pulau-pulau 
lain tak kalah dengan Bali, misalnya Papua). Mana mungkin orang Malay bisa 
melihat bikini ataupun swimsuit di Asia Islam selain di Bali? Memang di 
Pataya-Thailand juga bisa...dan itu negara Budha..tapi ntar bisa keliru 
ternyata Ladyboy (Kathoey). Buat laki-laki buaya Malaysia, Indonesia adalah 
surga dunia. Kayak ginian susah di Malaysia.  Apalagi soal demokrasi dan 
kebebasan pers, mereka sangat iri dengan kita. Jadi orang Malaysia juga melihat 
"Rumput Indonesia lebih hijau dari halamannya sendiri".
 
Kita tak perlu terlalu khawatir dengan negara kita ini. Kita tidak bodoh amat 
dan malahan kita ini hebat. Coba saja Lee Kuan Yew dan Mahatir, mereka sangat 
hormat sama Pak Harto yang mampu memimpin negara yang begitu besar,  komplek, 
dan unik seperti Indonesia ini. Mereka yang kita sebut hebat ini, coba suruh 
pimpin Jakarta saja, belum tentu mereka mampu. Atau coba mereka disuruh menjadi 
Komite Pemilu Umum seperti di Indonesia ini, emoh mereka.....Pemilu Indonesia,  
Pemilu  paling rumit sedunia.
 
Jadi kita optimis dengan negara ini. Kalaupun berbagai kesulitan dan 
permasalahan yang begitu berat....kita anggap semua adalah tantangan. Indonesia 
adalah gudang pembelajaran. Juga ilmu korupsi, di sini juga jagonya. Cuman 
belum ada yang nulis buku tentang hal ini.
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 


--- On Fri, 3/13/09, cut safana <[email protected]> wrote:

From: cut safana <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto
To: [email protected]
Date: Friday, March 13, 2009, 10:57 AM

Para milister Ysh,
Untuk bangsa kita saat ini yang diperlukan  tidak hanya sekedar  program 
(termasuk cara penyediaan dana), tetapi yang paling penting nantinya adalah 
bukti/realisasi program (tidak sekedar out put, tetapi  out come & impac nya). 
Contoh kecil : program tabung gas + kompor gas, mohon dichek siapa saja yang 
menerimanya ? (kriteria penerima subsidi tidak terlaksana dengan baik, yang 
penting programnya jalan, dan LAKIP 100 %  ....???????) .
 
Cerita berikut nyambung atau tidak, tetapi membuat saya nelongso, btw  beberapa 
minggu yll saya  ke negara tetangga Malaysia (yang nota bene sering tidak 
dianggap oleh bangsa kita). Saya menyewa taksi yang kebetulan supirnya warga 
negara RI asal Medan dan memperistri orang Malaysia. Ngobrol ngolor ngidul, si 
supir mengatakan (kalimat asli) : "disini Bu, Pemerintah menganggap penduduk 
itu aset negara, masyarakat yang sangat tidak mampu diberikan kesempatan 
memiliki apartemen dengan harga murah; anak saya yang perempuan dikuliahkan ke 
Amerika; orang bawahan bisa makan seperti apa yang dimakan oleh menteri".... 
......... ....dst, dst. Saya hanya terdiam; tidak heran jika mendengar ini  di 
negara maju seperti Amerika atau Eropah. Patutlah Malaysia mengirim puluhan 
orang mahasiswa beasiswa setiap tahunnya ke Indonesia, pemerintah mereka sedang 
merajut pondasi (termasuk jiwa/karakter) yang kokoh untuk kemaslahatan 
rakyatnya kedepan..... ......... ..
Salam....... .......

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Friday, March 13, 2009 11:38:04 AM
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto

Bung Eka, dana tidak bisa dicetak begitu saja. Nanti kayak Zimbabwe dengan 
inflasi 66.212%. Kalau Jepang gimana?
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Fri, 3/13/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, March 13, 2009, 4:53 AM

Salam pak. "Dana" bisa dicetak dalam waktu cepat. Namun tantangannya bagaimana 
program itu bisa dilaksanakan tanpa harus mencetak 'dana', seperti pengalaman 
Jepang. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@. ..> 
wrote:
>
> Dear all.
>  
> Ada satu program yang perlu ditambahkan yaitu bagaimana mendapatkan 
> dana/investasi  untuk membiayai ke-8 program tersebut.
>  
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- On Thu, 3/12/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@... wrote:
>
>
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@...
> Subject: [referensi] 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Thursday, March 12, 2009, 8:45 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
> Ada yang minta dikritik, nih.
> Dipersilahken,….
>  
>
> Best Regards,
>  
> Benedictus Dwiagus S.
>
>
>
>
>
>
>
>
>  (dari milis pembaca kompas)
>
> Posted by: "Prabowo Subianto" salam.prabowo@ yahoo.com   salamprabowo
> Wed Mar 11, 2009 3:19 pm (PDT)
>
> Saudara-Saudara FPK yang saya banggakan,
>
> Jika mendapatkan lampu hijau dari Saudara Agus Hamonangan, Moderato r, saya 
> ingin mempost-kan 8 program yang saya tawarkan dan mulai iklankan hari ini. 
> Mengingat Saudara semua di sini tajam wawasan, dalam, mengritisi usulan 
> program ini. Saya ingin mendengar komentar-komentar Saudara di sini.
>
> Jika tak keberatan juga di-CC-kan di: tinyurl.com/ prabowo, di forum diskusi 
> akan sangat bermanfaat.
>
>
> Membangun Kembali Indonesia Raya
> 8 Program Aksi Untuk Kemakmuran Rakyat
>
> 1. Menjadwalkan kembali pembayaran utang luar negeri
>
> - Mengalihkan dana pembayaran utang luar negeri sebagai modal untuk membiayai 
> program pendidikan, kesehatan, pangan dan energi, yang murah serta ramah 
> lingkungan.
>
> 2. Menyelamatkan kekayaan negara untuk menghilangkan kemiskinan.
>
> - Menjadikan BUMN sebagai lokomotif dan ujung tombak kebangkitan ekonomi.
> - Menghentikan penjualan aset negara yang strategis atau yang menguasai hajat 
> hidup orang banyak.
> - Meninjau kembali semua kontrak pemerintah yang merugikan kepentingan 
> nasional.
> - Mewajibkan eksportir nasional yang menikmati fasilitas kredit dari negara 
> untuk menyimpang dana hasil ekspornya di bank dalam negeri.
> - Membangun industri pengolahan untuk memperoleh nilai tambah.
>
> 3. Melaksanakan ekonomi kerakyatan
>
> - Mencetak 2 juta Ha lahan baru untuk meningkatkan produksi beras, jagung, 
> kedelai, tebu yang dapat memperkerjakan 12 juta orang.
> - Mencetak 4 juta Ha lahan untuk aren (bahan baku bio etanol) yang dapat 
> mempekerjakan 24 juta orang.
> - Membangun pabrik pupuk ureak dan NPK dengan total kapasitas 4 juta ton.
> - Memperbesar permodalan lembaga keuangan mikro untuk menyalurkan kredit bagi 
> rakyat kecil.
> - Membangun sarana transportasi massal.
> - Modernisasi pasar tradisional untuk pedagang kecil.
> - Meningkatkan pendapatan per kapita dari USD 2.000 menuju USD 4.000
>
> 4. Delapan program desa
>
> - Listrik desa.
> - Bank dan lembaga keuangan desa.
> - Koperasi desa, lumbung desa, pasar desa..
> - Air bersih desa.
> - Klinik desa.
> - Pendidikan desa.
> - Infrastruktur pedesaan dan daerah pesisir.
> - Rumah sehat pedesaan.
>
> 5. Memperkuat sektor usaha kecil
>
> - Prioritas penyaluran kredit perbankan kepada petani, nelayan dan pedagang 
> kecil.
> - Melarang penyaluran kredit bank pemerintah untuk pembangunan perumahan dan 
> apartemen mewah, mall, serta proyek-proyek mewah lainnya.
> - Melindungi pedagang pasar tradisional dengan melarang pembangunan pasar 
> swalayan berskala besar yang tidak sesuai undang-undang.
> - Melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh migran (TKI).
>
> 6. Kemandirian energi
>
> - Membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi dan air (10.000 MW).
> - Menyediakan sumber energi dengan mendirikan kilang-kilang minyal, pabrik 
> bio etanol dan pabrik DME (pengganti LPG).
> - Membuka 2 juta hingga 4 juta Ha hutan aren - dengan sistim tanam 
> tumpangsari - untuk produksi bahan bakar etanol, sebagai pengganti BBM impor. 
> Pembukaan lahan ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor bahan 
> bakar nabati setelah 7 tahun masa tanam (4 juta Ha hutan aren menghasilkan 
> sekitar 56 juta mt etanol/tahun) .
>
> 7. Pendidikan dan kesehatan
>
> - Mencabut undang-undang bahan hukum pendidikan.
> - Pencabut pajak buku pelajaran dan menghentikan model penggantian buku 
> pelajaran setiap tahun.
> - Melaksanakan kembali program KB (Keluarga Berencana).
> - Meningkatkan peran PKK, Posyandu dan Puskesmas.
> - Menempatkan sarjana dan dokter baru melalui program pemerintah terutama di 
> kantong-kantong kemiskinan.
> - Menggerakkan revolusi putih dengan menyediakan susu untuk anak-anak miskin.
>
> 8. Menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup
>
> - Melakukan penghijauan kembali 59 juta Ha hutan yang rusak serta konservasi 
> aneka ragam hayati dan hutan lindung.
> - Mengamankan dan merehabilitasi daerah aliran sungai.
> - Mencegah dan menindak tegas pelaku pencemaran lingkungan.
> - Melindungi flora dan fauna sebagai bagian dari aset bangsa.
>
> Haluan baru. Pemimpin baru. Terobosan baru.
>
>
> Terima kasih saya,
>
>
> Prabowo Subianto
> Ketua Dewan Pembina
> Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)



Kirim email ke