Pak Bambang SP, YSH … serta rekan mailing list lainnya.

 

 

Kalau tak salah, depdiknas sedang memantapkan apa yang disebut SKB (Sanggar 
Kegiatan Belajar)  dan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).

SKB sebenarnya  government-lead institution

Sedangkan  kalau PKBM itu lebih community-based, sebuah learning center yang 
dibangun,dadn dikelola secara swadaya masyarakat,… 

 

Tapi inti tujuannya hampir sama, dia mirip seperti BLPT yang bapak sebut itu,.. 
memberikan pelatihan dan pendidikan vokasional dan keahliankhusus, …. walaupun 
linkup pelatihan/pendidikannya terbuka tidak hanya untuk teknik saja. … ada 
yang mengelas, bengkel, tapi juga non teknis macam, tata boga, hospitality 
dll,…… mirip SMK juga,…..  

 

Ini yang saya liat/dengar digiatkan di Aceh,… khususnya SKB,… kalau PKBM, saya 
belum liat, karena mungkin belum berjalan sempurna,…… 

Konteksnya jelas, memulihkan kegiatan perekonomian lokal after tsunami,… 

 

Kebetulan ada proyek dari GTZ yang fokus pada pelatihan vocational ini,… 

 

Dan dengan beberapa bantunan,.. ada beberapa SKB yang mulai percaya diri untuk 
bisa melaksanakan program pelatihannya dengan lebih baik,…

Seperti contoh tentang pentingnya persiapan pelaksanaan program pelatihan, 
dengan melakukan pre-assesment ,… mengasses potential participants dari 
masayarakt, tidak asal masukin kandidat,…. Mengassess kesiapan pasarnya,dan 
penyerapan tenaga siap pakai,…. 

 

Point2 pembelajaran yang dijabarkan pak BSP, saya rasa tepat adanya,…. 

Terutama bagaimana potensi SMK-SMK untukbekerjasamadengan SKB ini,…. 

Juga Faktor “pemasukan” untuk SKB (atau BLPT) memang cukup penting juga,….. 
sehingga institusi ini bisa lebih mandiri,.. mungkin jadi semacam BLU,…. 

Tinggal dukungan pemda saja,… mau tidak menyiapkan friendly legal base untuk 
institusi2 semacam itu. 

 

Kuncinya memang adalah kreativitas,…… (termasuk kreativitas menciptakan extra 
regulation).

 

Saya sempat wawancara keapla sekolah SMK di kabupaten Bireun yang berani 
menantang,…. Sediakan kami 1 kapal latih dan 1 kapal tangkap,….. setelah itu 
kami tak butuh biaya-biaya apalagi untuk operasional kami,…… dan kami tak akan 
minta sepeserpun dari pemerintah daerah,….. 

Karena dia percaya dengan 1 kapal tangkap, dia bisa menjadikannya jadi mesin 
pemasukan buat SMK-nya,…

 

Jadi saya mengamini pernyataan bapak: Kalau mau, kita bisa.

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [email protected] 

Find also Indo-MONEV in facebook:  
<http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts> 
http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
[email protected]
Sent: 16 March 2009 09:45
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: 8 Program yang ditawarkan Prabowo Subianto

 

Mas Aunur, mas Tisfan, rekan milister ysh.

Sekedar informasi saja. Bahwa penanganan TKI seloama ini terkesan 
separo-separo. Saya punya pengalaman di Jogkja dengan BLPT (Balai Latihan 
Pendidikan Teknik) ini merupakan proyek yang di create Dept. Pendidikan. 
Departemen membangun 12 BLPT. Namun alhamdulillah saat ini yang berjalan dengan 
bagus dan berkembang hanya 2. Sisanya hilang entah kemana. Ini terjadi saat 
penyerahan P3D dari pemerintah pusat ke daerah. 

Untuk DIY waktu itu, BLPT dicoba dengan memanfaatkan asset dan personel yang 
ada. Selama 5 tahun personel tidak boleh berubah (ini merupakan penyakit 
birokrasi memindah-mindah personel yang bagus/kompeten). Mengembangkan 
peralatan. Saat ini ternyata hasil pendidikan BLPT diterima di pasar dalam dan 
luar negeri untuk bidang otomotif, elektrik, bangunan. Setiap tahun BLPT 
menghasilkan 600-2000 siswa. Yang sedang diusahakan adalah tenaga pengelas yang 
saat ini sudah semakin jarang di dunia khususnya yang W9 (keahlian mengelas 
pipa dibawah air). 

BLPT ternyata juga mampu menjadi pengampu bagi SMK-SMK dari sisi pendidikannya.

Pengalaman ini ternyata didapat dari :

1. Membiarkan ahlinya bekerja pada tempatnya
2. Memberikan tantangan untuk maju dengan kreativitas masing-masing
3. Bila perlu penunjukkan pejabat tidak menggunakan cara non-prosedural (dulu 
pertama kali
pemilihan kepala BLPT setelah diserahkan, digunakan seperti Pilkades diantara 
mereka
sendiri. Ternyata hasilnya sangat bagus
4. Tidak segan-segan memfasilitas kreativitas mereka.
5. Memberikan insentif yang memadai. Tidak perlu dari kantong dana pemda, 
tetapi memberi
ruang untuk adanya pemasukkan.

Hal ini terbukti, saat ini BLPT sudah tidak semaju beberapa saat yang lalu. Hal 
ini setelah saya tanya adalah akibat bahwa pihak Dinas Pendidikan (sebagai SKPD 
yang mengampu BLPT) takut melanggar aturan. Karena BLPT dalam kelincahannya 
sering menggunakan ekstra regulation.

Demikian sekedar gambaran bahwa bila kita mau kita bisa.

Salam

Bambang sp



Kirim email ke