Rekan Djarot yang baik, Wah ini sebenarnya sudah bukan wilayah tempat main saya lho mas…… saya sih sbnrnya tak berminat utk diskusikan kawasan2 beginian….. tadinya hanya kebetulan numpang lewat saja dan salahnya kok pake usil ikutan nyeletuk segala….. padahal stlh itu saya sih mau cepat2 pergi menjauh dari situ…… krn saya tahu…. disitu kan tempatnya banyak anak nongkrong jagoan2 dan para suhu dari perguruan2 silat ternama bahkan yg sudah pada melanglang buana…….. Anda mending nanyanya kepada para pakar beneran itu saja deh….. Tapi mas Djarot….. jangankan kok “perubahan dari kawasan tinggal ke kawasan komersial” mau anda ratapi……… ini sih nggak ada muatan ilmiahnya…. Cuma inget2 sejarah saja….. dulu sekitar masih tahun 1970-1972an areal sekitar Kemchick/ hotel Kemang juga masih banyak rawa2 dengan tanaman eceng gondok… lalu konon disekitar situ dulu Siswono muda membangun bbrp perumahan…. lalu oleh gubernur Ali Sadikin waktu itu Siswono muda disuruh milih……. Harus merobohkan kembali bangunan2nya… atau membayar denda yg cukup mahal….. yg diluar dugaan Bang Ali… Siswono ternyata memilih membayar denda….... Nah jadi entahlah….. mana yg sebenarnya lebih heboh…. Kws hijau dibangun menjadi perumahan dan bayar denda (yg itu lalu bisa menjadi preseden) …. Ataukah kawasan tinggal menjadi komersial?........ atau bgmn juga tuh dgn kawasan cagar budaya Condet?...... Maka percayalah….. penataan ruang itu dinamis dan bermaksud mengabdi pada kesejahteraan manusia serta alam …… ia tdk harus kaku dan memposisikan diri bak raja lalim…. dimana siapa menyanggah lalu kepalanya dibelah…….. Wis yo mas……. Salam,
--- On Wed, 3/25/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote: From: Djarot Purbadi <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA... To: [email protected] Date: Wednesday, March 25, 2009, 2:41 PM Salam dan hormat untuk Eyangku, dan sahabat milis semuanya, Eyang ABY, kenapa ujungnya kok sederhana sekali....PEMUTIHAN !!!. Sebenarnya apa sih konsep di balik label pemutihan itu kok para planner segera bisa mengadopsi label pemutihan dengan enak begitu saja ? Maksud saya, prosesnya kok begitu sederhana sekali ? Apakah tidak perlu dilakukan suatu kajian serius yang mungkin ujungnya juga akan ke situ juga...atau bisa saja ke arah lain ? Apakah tidak bisa kawasan Kemang justru dijadikan suatu kasus (dalam kajian CSR) sehingga bisa menyumbangkan pemikiran baru....eee untuk mengecek asumsi-asumsi, konsep-konsep dan teori-teori yang dulu digunakan untuk melandasi penataan Kemang itu ? Gimana kok menyerah sebalum mengetahui karakteristik lawan dan hanya melihat tubuhnya yang gempal terus loyo ? Maksud saya, kasus Kemang dapat menjadi instrumen untuk mengevaluasi pikiran-pikiran yang dulu melandasi konsep penataan Kemang itu, supaya muncul pikiran-pikiran baru yang mungkin akan lebih baru dan bermanfaat untuk kasus-kasus lain, begitu Yang. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 3/25/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: RE: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, March 25, 2009, 9:33 PM Milisters ysh, Kalau ada yg katakan kasus 'pemutihan' semacam di Kemang adalah salah satu contoh bagaimana lemahnya kita dalam melaksanakan 'proses managemen perkotaan'……. Tak usahlah kita berkecil hati (tapi sebaliknya birokrat PR di pemda DKI juga tak usah besar kepala)……. Kita akui saja… bgmn kok kita tidak ‘lemah’ dalam proses manajemen perkotaan….. wong kita memang masih negara sedang berkembang dengan GNP belum sampai 5000 dollar…… hutang negara masih banyak…… dan angka pengangguran kita tinggi….. Yg penting skrg bgmn kerja keras membangun ekonomi dulu….. mengatasi angka pengangguran yg tinggi agar menjadi normal dulu….. bgmn terus memerangi korupsi agar good governance lekas terwujud…. dan mengupayakan keuangan negara jangan terhuyung2 oleh beban hutang LN…… membenahi “sistem kota secara nasional” dulu….. spt dgn cara mengupayakan “distribusi/ persebaran sistem kota2 serta hirarkhinya”…… agar kesempatan kerja semakin luas dan agar ‘ketimpangan kemajuan antar wilayah ’menjadi semakin reda………. Masalahnya bukanlah ‘now or never’….. tapi adalah ‘if it is not now… it may be later either someday’…….……. Pemerintah Inggris telah memberikan contoh yg baik…… utk cita2 membangun The London Green Belt…….. pemerintah Inggris melakukannya dgn mencicil…… ketika sudah memiliki sejumlah uang…..… pemerintah kemudian membeli sejumlah properti milik masyarakat… merobohkan bangunannya dan mengubahnya menjadi RTH……… demikian diwaktu yg lain pemerintah mengulanginya lagi ketika tlh memiliki sejumlah uang lagi…… dst…... Yg penting adalah bgmn mensejahterakan masyarakat dulu….. baru kemudian stlh itu bgmn mempercantik kota……… janganlah ditengah kesulitan ekonomi dan ditengah angka pengangguran yg tinggi lalu seakan dengan berdarah dingin atau seolah berkacamata kuda dan seolah berada diruang steril….… kita hanya terus menyesali ttg sepotong ruas jalan yg diubah peruntukannya dari rumah tinggal menjadi komersial……… apalagi bahwa Jkt toh hanya 0.03% wilayah nasional kita…….. dan sebanyak 93.3% wilayah kita diluar Jawa juga masih banyak yg kurang tersentuh perencanaannya………. Salam --- On Tue, 3/24/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Subject: RE: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA... To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Tuesday, March 24, 2009, 7:20 PM Rekan-2 milister ysh, Omong-2 tentang kasus 'pemutihan' semacam di Kemang yang telah dibahas panjang lebar, menurut saya ini hanyalah salah satu contoh bagaimana lemahnya kita dalam melaksanakan 'proses managemen perkotaan'. Banyak 'teori-teori' yang dapat dipakai untuk mencegah terjadinya kasus demikian, tetapi pada dasarnya untuk negara yang sedang berkembang seperti NKRI ini, mungkin sebaiknya kita terus mendorong 'peran serta masyarakat' dalam Penataan Ruang (bagaimana agar masyarakat sadar akan pentingnya PR bagi lingkungan hidup mereka dan terlibat sejak dari proses perencanaan - pemanfaatan - pengendalian) sambil terus meningkatan 'capacity building' di bidang managemen perkotaan, termasuk 'clean-government' tentunya dengan 'gaji' aparat pelaksananya yang layak untuk dapat hidup normal/wajar. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: 4ek...@gmail. com Date: Mon, 23 Mar 2009 12:11:04 +0000 Subject: [referensi] Re: KEMANG, AKHIRNYA... Ibu Cut yang baik, Rasa-rasanya ada 1 orang dari balai tersebut yang juga ikut di milis ini. Kita memang mengharapkan para shareholder dan stakeholder untuk ikut aktif dalam milis ini, seperti contoh saya mengharapkan ada anggota FPI yang juga bisa ikutan, karena dulu katanya proven mampu melakukan penyegelan di Kemang. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, cut safana <cutsaffana@ ...> wrote: > > Khusus untuk Pak Eka : jangan lupa Dep. PU punya Puslitbang Permukiman, yang didalamnya ada Balai Tata Ruang, Bangunan dan Kawasan lho. Kalau dapat mereka aktif di 'refrensi' ini, dan dapat membuat kajian atau model-2 yang lebih baik. > > Salam. What can you do with the new Windows Live? Find out

