Pak Risfan yang baik, terima kasih atas pencerahannya yang begitu mengesankan. Saya setuju bahwa tampaknya yang mendasar adalah dengan pendekatan "tantangan dan jawaban" bukannya "kalah-menang"...barangkali karena ada konsep tentang bahwa yang abadi adalah perubahan itu sendiri.
Ada teman yang bergiat di Kotagede mengusung pendekatan siklikal yaitu ekonomi - konservasi, mirip Kampung Laweyan, tetapi tampaknya daya tarik budaya Kotagede dan fundamental ekonomi serta budaya lokalnya nggak mencukupi untuk menggerakkan siklus dalam teori itu. Skenarionya, kegiatan ekonomi berbasis keunikan potensi lokal diharapkan berkembang, kemudian ujungnya "dengan suka rela" masyarakat yang sudah relatif sejahtera mau melestarikan warisan budayanya. Tetapi tampaknya ada arus budaya lain yang kurang diperhitungkan, misalnya gempuran konsumerisme atau hedonisme ternyata nyaris menghancurkan kegiatan-kegiatan yang dilandasi konsep tersebut. Bahkan, kejadian gempa bumi dahsyat Mei 2006 tampaknya menjadi pukulan telak yang betul-betul mematikan Kotagede.....batal jadi pusat budaya lama dengan manajemen baru berbasis masyarakat sadar wisata....masyarakat penguhuni KG bahkan sampai menjual joglo-joglo kuno sejak era kerajaan Pajang sekalipun.....untuk makan alias memenuhi kebutuhan primer.....Apakah konsep pengelolaan ruang kota juga memperhitungkan aspek budaya aktual sedemikian rupa sehingga dapat meminimalkan efek negatif bahkan mengubahnya menjadi dorongan positif ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sun, 3/22/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: RE: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... To: [email protected] Date: Sunday, March 22, 2009, 8:45 AM Rekans ysh, Bung Djarot, Bung Indra Budiman membawa diskusi kepada jalur kajian manajemen perubahan suatu permukiman. Di samping sudut pandang "hukum" yang berujung pada kesimpulan "kalah tau menang". Kita juga bisa membuatnya sebagai "kajian perubahan lingkungan perkotaan". Coba tengok gambar/peta stadia kota, maka akan tampak dulu bagaimana, sekarang bagaimana. Kalau Bung Djarot mencoba memproyeksikannya ke kasus Kotabaru Yogya (Mentengnya Yogya?). Barangkali istilah blue-print kurang pas untuk konservasi. Boleh jadi ini menyangkut trend atau skenario perubahan, dan bagaimana meresponsnya. Kita bisa coba berfikir bukan dalam skenario "win - lose" tapi "challenge - response". Tentu ada kekuatan eksternal maupun internal kawasan (Kotabaru) yang bekerja. Kekuatan eksternal, bisa jadi desakan kearah kegiatan komersial, mengingat lokasinya tak jauh dari Tugu, Malioboro dan Jalan ke Solo sebagai pusat kota atau CBD. Secara internal, warga termasuk institusi yang tinggal di situ memang menikmati nilai lokasi karena aksesibilitas yang tinggi. Tapi kisah klasiknya bagaimana 'ketahanan ekonomi' mereka. Orang kaya lama yang menghuni (ini kawasan berdiri th 1920an ya) apakah masih 'cukup kaya' untuk memeliharanya? Bayar PBB? Biasanya kan pensiunan, atau keturunannya sebagian saja di situ, atau lebih baik jual saja agar warisannya mudah dibagi. Lalu pembeli, atau penghuni baru: apakah mereka membeli untuk rumah tinggal? Maukah orang yang beli rumah seharga di atas Rp 1M itu tinggal di tempat yang kian hiruk-pikuk karena transportasi kota itu? Mungkin di bagian-bagian tertentu masih tenang ya. Kalau dibanding dengan Jakarta, ada kasus Menteng, ada Kebayoran Baru. Lingkungan Kebayoran Baru sudah banyak yang beralih fungsi atau taraf "stress" terutama sekitar jalan utama. Kalau kawasan Menteng, khusus bagian intinya masih lebih tenang, karena 'orang kaya' yang beli dari 'priyayi lama' akan bangga berumah di lingkungan super-elite itu. Tarif PBB tidak sensitif bagi kantong mereka. Upaya konservasi memang harus diterapkan bagi lingkungan seperti Menteng, Kebayoran Baru, Kotabaru Yogya, kawasan sejenis di Malang (jalan dengan nama gunung: Ijen, Semeru, Merbabu), kawasan Darmo Surabaya. Tapi bagaimana menghindari skenario "menang - kalah", yang biasanya banyak kalah nya. Apakah masih layak berobsesi bahwa ada Pemda yang begitu strong, konsisten. Mengingat walikota ganti lima tahunan. Peruntukan komersial masih lebih menguntungkan jangka pendek bagi keuangan daerah untuk kota, yang tak bisa mengharap bagi hasil eksploitasi SDA. Mengharap pressure group, dari kelompok mana ya? Arsitek dan planner tak semua punya komitmen besar untuk itu? Budayawan biasanya ya himbauan moral saja, mana bisa melawan hasrat komersial (?). Solusi yang umumnya dipikirkan ialah: "pertahankan bentuk/ struktur, oke lah perubahan fungsi". Itupun mesti diberlakukan selektif. Tapi strateginya, mestinya ya berilah insentif bagi penghuni supaya betah setidaknya mempertahankan bentuk arsitekturnya. Kasi keringanan PBB, kemudahan utilitas, kemudahan lain. Tapi repotnya Pemerintah sendiri kan tidak satu policy untuk konservasi itu. Ada Taru/CK dan Dis Parbud yang mau konservasi, ada BPKD yang mau pajak/ retribusinya, ada Bina Marga, yang mau melebarkan jalan, Dishub yang bikin trayek angkot lewat situ, dst. Terakhir, asumsi pokok kita bahwa kalau RTRW sudah di Perda kan, sudah aman. Tapi perda sendiri, atas persetujuan Pemda, Dewan kan bisa berubah. Itu mungkin yang terlintas di pikiran saya Bung Djarot. Tentu setiap kemunkinan skenarionya ada di antara yang optimis dan pesimis. Kisah arsitek yang melestasika Kampung Batik Laweyan, barangkali contoh optimismenya. Tapi jangan seperti pelestarian Kawasan Condet di Jakarta, yang meminta warga (umum tradisional, ekonomi lemah) untuk jadi kawasan asli Betawi, sementara tetangganya dapat windfall money karena harga tanah yang selangit. Sekali lagi, salah satu kuncinya, apa insentif bagi warga yang (harus) melestarikannya. Damai di bumi, Risfan Munir www.ecoplano. blogspot. com From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Sent: Saturday, March 21, 2009 8:29 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... Pak Risfan, matur nuwun atas pencerahannya. Saya kira kita perlu sangat memperhitungkan sebuah konsep yang namanua "umur perencanaan" . Memang tampaknya sepele, tetapi ini sebenarnya dahsyat, sebab mengandung kerendahan hati yang dilandasi konsep kesementaraan. Seorang planner saya kira ada di dalam ketegangan situasi sementara, mirip situasi sementara dalam pandangan Popper itu. Benar Pak, blueprint barangkali diperlukan, tetapi toh umurnya hanya sementara. Saya setuju dengan blueprint yang sementara semacam itu, supaya jejak-jejak perencanaan justru memperkaya kehidupan. Saya tidak tahu benar bagaimana "blueprint" kawasan Kotabaru di Jogja yang awalnya adalah permukiman elite orang kaya Belanda masa lalu dan sekarang sedikit-demi sedikit mulai menguat karakter komersialnya. Apakah ahli-ahli planning bisa mengarahkan perkembangan Kotabaru menjadi apa 20 tahun ke depan ? Barangkali harus belajar kemampuan seperti Mama Lorenz ya ??? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Fri, 3/20/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, March 20, 2009, 4:35 PM Mas Djarot, Walau samar saya menangkap 'pesan' njenengan. Bahkan John Friedman, salah satu bapak planning itu, juga mewanti-wanti soal cara pandang "blue-print planning". Karena komunitas kota sudah seperti organism yang tumbuh dinamis, diluar dugaan "ibunya" sendiri sekalipun. Siapa yang bisa meramal dengan akurat saat ini.Para analis ekonomi (bidang yang katanya paling kuantitatif) tercanggih sekalipun saat ini tak lebih baik dari Mama Lorenz. Kita bisa bikin blue-print, tapi bisakah kita meramal (kecuali yang pesimistik) tentang tebal kocek pemerintah atau masyarakat untuk melaksanakannya? Kapasitas kelembagaan untuk pengendalian? Jumlah orang miskin, sektor informal kota? Celakanya semua ini memberi tekanan kepada "relevansi" suatu blue-print kota. Tapi toh, Pemda dan masyarakat perlu "kepastian" atau setidaknya "pedoman" bagi lokasi tempat tinggal dan usahanya di peta kota. Jadi bagaimana "pedoman" yang pas itu? Yang tidak tampak sebentar-sebentar harus "disesuaikan" , sehingga hilang wibawanya? Inilah mungkin tantangan bagi kita. Damai,Risfan Munir --- On Fri, 3/20/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, March 20, 2009, 3:13 AM Dear Sobats, Jika ruang kota atau kawasan merupakan "teks" maka makna keberadaannya tergantung pada konteks yang berlapis-lapis. Kadang konteks kita kenali dengan baik tetapi kiranya banyak konteks yang tidak kita kenali. Celakanya "the hidden contexts" tersebut sangat dinamis jika ada di kawasan yang berubah dinamis juga Ketika konteks berubah maka teks juga akan mengalami perubahan. Kasus Kemang barangkali bisa dibaca dengan cara demikian. Lagi pula, ketika suatu rencana "membeku" menjadi blueprint atau semacamnya, maka makna rencana tersebut menjadi "berubah" karena sebenarnya konteks empiris berubah sementara konteks yang digunakan dalam proses perencanaannya tentunya tetap. Artinya, ilmu perencanaan selalu dalam keadaan gamang, sebab relasi konteks dengan teks yang digarap keduanya obyek yang dinamis. Dinamikanya kadang tidak terduga, sebab menyangkut dimensi kuantitatif maupun kualitatif. Apakah begitu ? Kasus Kemang rasanya seperti gugurnya sebuah konsep karena perubahan yang terjadi pada fenomena empiris dalam pemikiran induktif naif ! Salam, Djarot Purbadi --- On Fri, 3/20/09, efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> wrote: From: efha_mardiansjah@ yahoo.com <efha_mardiansjah@ yahoo.com> Subject: Re: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, March 20, 2009, 1:53 PM Rekan referensiers ysh, Ada nggak kemungkinan terjadinya "class action" sebagai respon dikeluarkannya kebijakan pemutihan tsb? Dalam pandangan saya, pemutihan dari kawasan permukiman menjadi kawasan bisnis dan perdagangan tidak boleh dilakukan sekedar mengubah "warna" peruntukan kawasan saja. Tapi hal itu harus dilakukan dengan melalui suatu kajian yang mendalam yang termasuk kajian terhadap dampak perubahan, persetujuan dari masyarakat yang terkait dan/terkena dampak perubahan tersebut, dsb, dan harus dilakukan oleh sekelompok tim yang independen yang juga meliputi wakil dari akademik, tokoh masyarakat sebagai bagian dari tim tsb (ini berdasarkan peraturan tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan yang dikeluarkan di tahun 1996, kalau nggak salah, yang bentuk aturannya kalau saya nggak salah ingat adalah Permendagri. ..). Dari hasil kajian tersebut, akan keluar rekomendasi yang bisa berupa perubahan diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat, atau usulan perubahan ditolak Saya tidak terlampau memahami bagaimaba kasus yag di Kemang, namun kalau menurut pemikiran dengan akal sehat, perubahan dari kawasan permukiman ke kawasan perdagangan akan memerlukan banyak perubahan, terutama perubahan dalam kebutuhan pelayanan infrastruktur. Misalnya, jalan yang dbutuhkan tidak lagi berupa jalan dengan standar jalan lingkungan, namun mestinya lebih lebar karena bangkitan dan tarikan pergerakan kawasan perdagangan jauh lebih besar daripada bangkitan dan tarikan pergerakan dari kawasan permukiman; pipa suplay penyediaan air pun mungkin perlu diperbesar agar kegiatan perdagangan yang berlangsung tidak kemudian mengandalkan air tanah, kawasan perdagangan juga memerlukan ruang parkir yang lebih luas daripada kawasan permukiman dan apakah ketersediaan fasilitas ini telah dipersiapkan di Kemang ketika pemda mengubah peruntukkannya. . Dan masih banyak hal lainnya yang harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan peruntukkan lahan tsb, mungkin... Apabila rekan-rekan referensiers ada yg lebih tahu bagaimana situasinya di Kemang, mohon bisa di-sharre informasi tsb. Terima kasih. Mungkin sekian dulu pendapat saya. Semoga pendapat kecil ini bisa menjadi suatu kontribusi bagi diskusi kita. juga saya berharap juga bisa sebagai suatu kontribusi kecil untuk ...MENUJU INDONESIA MULIA... MULA BANGSANYA... MULIA RAKYATNYA... Salam, Fadjar Undip --- On Fri, 3/20/09, Ibnu Taufan <itau...@gmail. com> wrote: From: Ibnu Taufan <itau...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, March 20, 2009, 7:43 AM Pak ImanSoed dan Pak BTS, Sesungguhnya ketidak berdayaan pemda/pemkot itu yg akhirnya memilih menggunakan regulasi lokal seperti di Kemang dll itu... Padahal bisa jg terapkan regulasi dgn muatan disinsentif : retribusi khusus yg progresif (mis, sbg traffic generator, etc), atau masa berlaku ijin khusus max 5 thn dgn perpanj max 1 x setelah itu kembali ke peruntukan asli... Kalau gak keliru khan ada HO, setiap ijin domisili hrs ada persetujuan tetangga kiri kanan depan belakang (yg terkena dampak lgsg) .. Apakah ketidakberdayaan itu krn lemahnya pengawasan, atau mudahnya "disesuaikan" asal ada "pengertian" ... Khan DKI-J sdh ada Dinas Tata Ruang (dinas tata kota masih ada ngga ya ?) .. TAPI...pak Iman dan pak Tata, kecenderungan yg berkembang di Kemang, sedikit di Senopati, Bintara/Mongonsidi, RadioDalam ... meski tdk nyaman lingkungannya (sering kebagian padatnya traffic), bagi pemilik lahan/persil sungguh menggiurkan ..lha persil 500 m (rumah sdh 15 thnan) ada yg mau beli sd 23 M ...! Jangan2 pejabat yg tak berdaya mengendalikan menggilanya penetrasi keg komersial itu sdh punya 2-3 persil dikawasan2 itu ..lha saya tahu secara dekat ada mantan pejabat eselon 2 di DKI-J punya 5 persil di Kebayoran pada lokasi2 premium .. JADI ..cape juga yaa berpikir rasional dgn pengaturan yg bertujuan mulia, konsep2 tata kota yg hebat ..karena pejabat memilih untuk terus "tidak berdaya" .... Ayo terus maju ..;angan cuma "the view, the proud, that's all the planner" .. Have a nice weekend, Wassalam, IT IBNU TAUFAN, Jakarta Selatan, Indonesia Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSATFrom: isoedradjat@ yahoo.com Date: Thu, 19 Mar 2009 22:45:41 +0000 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... Pak BTS. Ada dua hal yg ingin saya sampaikan. 1. Kemang, Dago dan Darmo dan lainnya adalah produk regulasi lama, seharusnya tdk terjadi dgn produk hukum yg baru yg baru seumur 2 tahun. Pemda sudah tdk mampu lagi mendirikan benang kusut dan basah, sehingga melakukan pemutihan, walaupun di UU yg baru tdk menghendaki pemutihan. 2. Perlu diingat bahwa Rencana Tata Ruang adalah perbuatan melawan kekuatan pasar. Ini terus terang yg paling saya khawatirkan, mampukan teman2 membuat produk hukum RTRW yg prudent yg betul2 menjadi landasan delik hukum yg kuat Jangan terjadi seperti Kemang, Dago, Darmo dan lainnya. 3. Saya melihat, teman2 ini masih menyusunnya secara ringan2 saja, anggap enteng padahal nanti mempunyai konsekwensi hukum yg berat. Tabek Morning. Powered by Telkomsel BlackBerry®From: btsamia...@yahoo. com Date: Thu, 19 Mar 2009 07:56:36 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] KEMANG, AKHIRNYA... Dear all. Jakarta, KOMPAS 18 Maret 009: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah peruntukan lahan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, dari untuk permukiman menjadi komersial. Bangunan-bangunan toko, restauran, kafe, dan hotel yang semula melanggar peruntukan lahan akan diberi izin operasi resmi dengan berbagai syarat. ...... Fenomena yang sama sudah terjadi di kawasan Dago Bandung dan kawasan-kawasan elit lama yang lain. Ini juga terjadi di kawasan Dharmo Surabaya, atau juga mulai mengancam kawasan Diponegoro Medan. Di Jakarta sendiri yang akan mengalami nasib yang sama antara lain kawasan Menteng dan kawasan Kebayoran Baru, dan nantinya juga kawasan Pondok Indah walaupun sudah ada kesepakatan warga untuk tidak mengalihfungsikan. Juga menyusul kawasan-kawasan strategis lainnya. Waktu yang akan membuktikan nanti. Mengacu pada berbagai peristiwa tersebut, menjadi pertanyaan, apa fungsi RTRWK yang mengatur peruntukan permukiman kalau nantinya toh akan berubah menjadi non-permukiman? Kalau taat azas terhadap UUPR 26/2007, pasal 61 dan 69, seharusnya para pelaku peralih fungsi tersebut, baik pihak masyarakat ataupun aparat diberi sanksi pidana dengan denda paling banyak Rp 500 juta. Tapi apa nyatanya? Pemda sendiri malah memutihkan peralihan fungsi tersebut dan malahan meresmikan alih fungsi sesuai dengan fungsi yang baru (fungsi komersial). Kalau begini, kembali pada pertanyaan awal, apa manfaat RTRWK yang begitu kuat legal basisnya itu kalau toh hanya mengikuti saja apa yang terjadi. jadi apa maksud pengaturan dengan segala nama keren Zoning Regulation kalau nggak mangkus (efektif) akhirnya? Mohon pencerahan kalau ada? Baiknya bagaimana sih? Thanks. CU. BTS.

