Sebenarnya heran saya, jika benar tanggul itu buatan Belanda....sebab kita tahu bahwa negara Belanda di sana kan dikelilingi tanggul juga....menanggul laut lagi....jadi tentu ada yang salah, apakah teknologi tanggulnya sudah tidak cocok dengan konteks lingkungan yang berubah, atau ada proses pemeliharaan tanggul yang terabaikan...sebab suatu produk teknologi tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi jika ingin awet...ibaratnya kita beli sepeda motor tentu perlu ada proses pemeliharaan yang memerlukan beaya tentunya
....atau jebolnya tanggul satu ini merupakan pemicu awal akan jebolnya tanggul-tanggul yang lain....seperti kejadian-kejadian rontoknya armada udara secara beruntun di negara kita...salah satunya pemeliharaan produk teknologi itu tidak dilakukan secara rutin sesuai jadwalnya....bayangkan kalau ban harus diganti ternyata uangnya tidak ada karena dikorupsi...maka peristiwa pecah ban di landasan udara sudah bisa diprediksi dan diproyeksi kapan akan terjadi.....ngeri sekali deh ! Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Mon, 3/30/09, cut safana <[email protected]> wrote: From: cut safana <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Tanggul Jebol, siapa yang salah? To: [email protected] Date: Monday, March 30, 2009, 1:02 PM Para Milister Ysh, Kasus musibah Situ Gintung dapat menjadi pelajaran yang paling baik bagi Pemerintah/Pemda maupun masyarakat, dilihat dari berbagai sudut/aspek hukum, tugas/fungsi, kewenangan/hak, dsb. Pengalaman saya di Direktorat Sungai (kebetulan pada Subdit Operasi & Pemeliharaan) , Ditjen Pengairan, yang menangani sungai, danau/situ Th 1991 - 1994, saat itu semua program dikonsultasikan dengan Bappenas, sedangkan pembiayaan dengan Ditjen Anggaran. Pada dekade tsb, dan saya kira sampai saat ini, yang namanya program 'pemeliharaan' dan 'perbaikan' seperti 'normalisasi sungai/danau' sangat sulit disetujui, kalaupun ada persentasenya sangat kecil sekali dibandingkan untuk pembangunan/ peningkatan konstruksi lainnya yang berdampak langsung (katanya), seperti irigasi, jalan (sektor ke PU an), sementara lingkup kewenangan Dit. Sungai, Danau dan Waduk saat ini dari ujung NAD s.d. Irian Jaya/disesuaikan PP 38/2004, untuk Situ Gintung dibawah pembinaan Balai Besar WS Ciliwung - Cisadane. Bila diruntut, saat ini banyak sekali anterian pekerjaan-pekerjaan bersifat pemeliharaan dan perbaikan, dari sekolah dasar yang rusak, puskesmas, pendangkalan/ penyempitan sungai, saluran primer/sekunder irigasi (dengan biaya investasi yang sangat besar), ............ ......sampai dengan kebutuhan penelitian yang sulit disetujui (kesehatan, pertanian, perindustrian) . Namun demikian, belajar dari posting refrensi selama ini, kita perlu optimis memandang kedepan, semoga pola alokasi anggaran semakin baik, dan Indonesia terus membaik dan jaya. Salam hangat cut From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> To: refere...@yahoogrou ps.com Sent: Sunday, March 29, 2009 5:55:18 PM Subject: [referensi] Tanggul Jebol, siapa yang salah? Kalau sudah terjadi musibah, maka banyak yang saling menyalahkan. Sebuah catatan imajiner (ada sumber nyata, ada yang karangan) : 1. Ada yang mengatakan bahwa jebolnya tanggul itu karena curah hujan yang tinggi./ Tapi pihak BMG mengatakan curah hujan pada Kamis malam itu sangat rendah. Pihak BMG memastikan bahwa jebolnya tanggul bukan karena curah hujan yang tinggi. 2. Ada yang mengatakan dulu Situ Gintung itu luasnya 31 ha, sekarang tinggal 23 ha karena dipakai permukiman. Berkurangnya daya tampung situ ini sehingga tidak mampu menampung guyuran hujan yang tinggi dan akhirnya jebol. /Loh... bukannya kalau situ (danau) itu volumenya berkurang tekanannya menjadi lebih rendah? Mestinya semakin mengecil volume danau, justru tidak membuat tanggul jebol toh.. 3. Masyarakat bilang, sebelumnya sudah ada retak-retak dan sudah dilaporkan kepada Pemerintah, tapi tidak ada respon. /Tapi Balai Besar DAS Ciliwung yang sehari-hari memelihara Situ Gintung membantah bahwa tidak ada retak-retak dan tidak ada laporan ke kami. /Loh..jadi lapor ke siapa? Kalau cuma lapor kelurahan, atau ke kecamatan... ya..mereka tahu apa? 4. Pemda Tangerang mengatakan bahwa soal Situ Gintung itu bukan kewenangan wajib Pemda, tetapi sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah Pusat, dalam hal ini Departemen PU. /Pemerintah cq PU mengaku bahwa itu memang tanggung jawab Dep. PU. Dep. PU merasa sudah melaksanakan kewajibannya dengan memelihara dan mengeluarkan dana besar untuk Situ Gintung. Tapi Dep. PU sesuai dengan UU tidak bisa mengontrol tumbuhnya pemukiman dekat tanggul yang akan menganggu kestabilan tanggul. Soal pemukiman jelas tanggung jawab Pemda Tangerang. /Nah lho... 5. Ada yang mengkritik lagi kepada Pemerintah Belanda dan Pemerintah RI sekarang yang mewarisi. Mengapa Belanda pada tahun 1933 hanya membuat bendungan berupa urugan tanah saja, mengapa tidak dibuat bendungan beton yang kuat?/ Menurut Dep. PU, membuat tanggul dengan beton yang melingkar itu mahal dan teknologi yang cukup tinggi. Masalahnya bukan soal biaya ataupun teknologi, tapi batuan bawah di Indonesia itu berupa batuan muda. Jadi bila pake beton, tetap saja pegangan beton pada batuan muda tidak kuat,..nanti bisa jebol juga. /Betul juga ya... 6. Kalau begitu.., dengan tangggul yang berupa urugan tanah saja...suatu ketika akan jebol dan memakan korban. Artinya soal tanggul jebol hanya soal waktu saja. Artinya juga... soal korban yang akan jatuh seperti sudah diketahui..atau direncanakan. .wah kejam nian Pemerintah ini. /Bukan begitu! Itu kejadian buruk yang tidak diinginkan. Oleh karenanya ada jalur atau ruang yang bebas dari pemukiman di arah hilir bila tanggul benar-benar jebol dan air tumpahan akan langsung masuk ke sungai Pasanggrahan. /Nah..sekarang tanggul benar-benar jebol dan ternyata ruang yang seharusnya kosong untuk jalannya air danau bila tanggul jebol ternyata sudah banyak pemukiman... .. KALAU BEGITU SALAH SIAPA YA...? Thanks. CU. BTS.

